Revisi Undang-Undang Mengemudi Berbahaya di Jepang Dimulai
Undang-undang mengemudi berbahaya yang berlaku sejak 2001 kini ditinjau untuk menambahkan kriteria numerik jelas, menyasar kasus kematian dan cedera. Revisi bertujuan mencegah tragedi dan memberikan kepastian hukum bagi korban dan pelaku.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Revisi Undang-Undang Mengemudi Berbahaya di Jepang Dimulai

Menetapkan Standar Numerik
Hukuman untuk mengemudi berbahaya yang diberlakukan sejak 2001 mendapat kritik karena kurang jelasnya pedoman penerapan hukuman tersebut.
Pada Maret, sebuah panel penasihat menteri kehakiman membuka diskusi mengenai revisi undang-undang. Awal Desember, panel itu mengajukan proposal yang memuat kriteria numerik spesifik untuk menentukan kapan mengemudi berbahaya yang menimbulkan kematian atau cedera dapat dijadikan tindak pidana.

▼Mengemudi dalam pengaruh alkohol Menurut proposal ini, pengemudi mabuk yang terlibat kecelakaan dapat didakwa Mengemudi berbahaya jika kadar alkohol dalam napas mencapai 0,5 miligram per liter atau lebih.
▼Mengemudi dengan kecepatan tinggi Pengemudi yang melebihi batas legal 60 km/jam sebesar 50 km/jam atau lebih dapat dikenai dakwaan Mengemudi berbahaya. Hal yang sama berlaku bagi Pengemudi yang melampaui batas lebih dari 60 km/jam sebesar 60 km/jam atau lebih.
▼Mengemudi 'drift' Proposal menyebut seseorang dapat didakwa Mengemudi berbahaya jika melakukan manuver yang mengganggu kendali kendaraan, seperti membiarkan roda selip, teknik yang dikenal sebagai 'drift'.
▼Kondisi tidak aman Aturan ini berlaku untuk setiap manuver yang menghambat pengemudian normal dan tindakan menghindari bahaya mendadak, tanpa bergantung pada kriteria numerik.
Pakar Menilai Ini sebagai Kemajuan Signifikan

Profesor Luar Biasa Universitas Kedokteran Showa Tachi Yuichiro menilai usulan revisi undang-undang tentang mengemudi berbahaya ini sangat positif, menyebutnya sebagai kemajuan signifikan.
Ia menekankan bahwa penetapan standar angka akan menyampaikan pesan pentingnya memberantas mengemudi dalam keadaan mabuk sekaligus menjaga agar aksi kebut-kebutan tetap terkendali.
Sejarah Mengemudi Berbahaya dan Hukuman
Pada November 1999, sebuah truk besar menabrak mobil di Jalan Tol Tomei, Tokyo. Mobil itu terbakar, menewaskan dua anak perempuan kecil di kursi belakang yang masing-masing berusia satu dan tiga tahun. Pengemudi truk telah mengonsumsi alkohol sebelum kejadian, yang mendorong tuntutan hukuman lebih berat.

Pada 2001, undang-undang diubah sehingga mengemudi berbahaya yang menyebabkan kematian atau cedera menjadi tindak pidana khusus, dengan hukuman penjara maksimum 20 tahun. Ini jauh lebih lama dibandingkan hukuman untuk mengemudi lalai yang menyebabkan kematian atau cedera, yaitu tujuh tahun.
Aturan Baru, Masih Kabur
Mengemudi dalam keadaan mabuk, mengebut, atau mengabaikan lampu lalu lintas semuanya dikategorikan sebagai mengemudi berbahaya. Pada 2020, tindakan lain juga dimasukkan, termasuk gangguan serius terhadap orang atau kendaraan, seperti memotong di depan mobil lain yang sedang melaju.

Meski begitu, keluarga korban tetap menyoroti ketidakjelasan hukum mengenai apa yang termasuk mengemudi berbahaya. Mereka menekankan pentingnya kriteria yang jelas.
Panel ahli yang dibentuk pemerintah juga menekankan perlunya kriteria jelas dalam laporan tahun 2024.
Keluarga Korban Menyambut Positif

Keluarga korban menyambut baik upaya memperjelas undang-undang terkait mengemudi berbahaya. Salah satunya Takahashi Ayumu, yang kehilangan ayahnya tiga tahun lalu.
Pemuda berusia 21 tahun itu mengenang hari itu, berharap kejadian tersebut hanyalah lelucon buruk atau mimpi buruk semata.
Suatu pagi di bulan Februari, ayahnya ditabrak pengemudi mabuk saat mengantarkan koran dengan sepeda motor. Pengemudi itu melarikan diri dari tempat kejadian.
Belakangan, pekerja kontrak yang mengemudi itu ditangkap. Tes napas menunjukkan kadar alkohol lebih dari 0,5 miligram per liter udara yang dihembuskan, lebih dari tiga kali lipat batas yang ditetapkan untuk mengemudi di bawah pengaruh alkohol.
Namun, pengemudi tersebut tidak didakwa dengan pasal mengemudi berbahaya. Ia justru didakwa atas kelalaian mengemudi yang menyebabkan kematian, dan divonis penjara selama tiga tahun empat bulan.
Para kritikus berpendapat bahwa pengemudi tidak didakwa dengan pasal mengemudi berbahaya karena undang-undang masih samar mengenai kadar alkohol dalam tes napas yang harus dianggap sebagai tindak pidana. Hukum hanya menyebutkan bahwa pengemudi bisa didakwa dengan pasal mengemudi berbahaya jika terbukti tidak mampu mengemudi secara normal.

Takahashi tetap menyimpan kacamata ayahnya yang dipakai saat kecelakaan dan membayangkan penderitaan sang ayah. Mengingat seharusnya mereka bisa menghabiskan setidaknya 40 tahun lagi bersama, Takahashi sulit menerima bahwa hukuman tiga tahun empat bulan setara dengan masa hidup yang hilang. Ia menganggap tidak dijatuhkannya hukuman lebih berat sebagai kesalahan dan merasa sangat frustrasi.
Mengakhiri Aksi Mengemudi Berbahaya
Panel penasihat berencana membahas lebih rinci draf usulan tersebut dan menyerahkan laporan akhir kepada Menteri Kehakiman.

Tes pernapasan pada pengemudi yang terlibat kecelakaan yang menewaskan ayah Takahashi Ayumu pada 2022 menunjukkan bahwa ia mengonsumsi alkohol dalam jumlah besar.
Takahashi mengatakan ia sangat berharap standar ini sudah ada sejak lama, dan ia berharap hal ini bisa mencegah tragedi serupa menimpa orang lain seperti yang terjadi pada ayahnya.
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Versi Berita.Jepang.org
- Peran
- Kurasi, terjemahan, dan penyuntingan naskah.
- Pembaruan
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.