Lewati ke konten utama
Berita.Jepang.org

Tren Baru Rekrutmen Jepang: Perusahaan Mulai Gunakan AI dan Avatar untuk Seleksi Mahasiswa

Menghadapi tren penggunaan kecerdasan buatan oleh pelamar, perusahaan di Jepang kini mulai mengadopsi AI dan avatar untuk mengotomatisasi proses seleksi. Inovasi ini bahkan memungkinkan penghapusan formulir aplikasi konvensional demi efisiensi tahap wawancara langsung.

NHK WORLD2 mnt

Bagikan Artikel

Ilustrasi wawancara kerja dengan teknologi AI dan avatar di perusahaan Jepang.

Visual Utama

Tren Baru Rekrutmen Jepang: Perusahaan Mulai Gunakan AI dan Avatar untuk Seleksi Mahasiswa

Tutup
Ilustrasi wawancara kerja dengan teknologi AI dan avatar di perusahaan Jepang.

Jawaban AI

Jepang sejak lama menerapkan sistem rekrutmen serentak bagi lulusan baru. Lewat sistem ini, lulusan universitas atau sekolah kejuruan direkrut secara bersamaan. Memasuki musim semi, perusahaan mulai membuka lowongan untuk tahun berikutnya, yang memicu lonjakan aktivitas pencarian kerja.

Sebuah perusahaan TI di Prefektur Shizuoka kini tidak lagi mewajibkan pelamar mengirimkan formulir aplikasi khusus, termasuk esai motivasi dan promosi diri.

Pelamar kini langsung diarahkan ke tahap wawancara. Selain itu, perusahaan tersebut juga mulai menggunakan pewawancara bertenaga AI.

Pewawancara AI
Pewawancara AI

Takagi Takuya dari Departemen SDM Suzuyo System Technology menjelaskan alasan di balik kebijakan tersebut.

Menurut Takagi, kian banyak mahasiswa menggunakan AI generatif untuk menyusun lamaran kerja, sehingga penilaian berdasarkan dokumen tertulis kini dianggap kurang objektif.

Wawancara berlangsung selama 30 menit. AI akan mengajukan pertanyaan dari berbagai sudut pandang untuk menggali kepribadian pelamar serta mengevaluasi keterampilan komunikasi mereka secara mendalam.

Pertanyaan yang diajukan beragam, mulai dari motivasi pelamar, fokus selama masa kuliah, hingga rencana karier. Ada pula pertanyaan unik seperti jenis kue apa yang paling menggambarkan kepribadian mereka.

Sesi wawancara tersebut direkam agar tim HR dapat meninjau hasilnya dan menentukan apakah pelamar layak lanjut ke tahap wawancara tatap muka.

Pihak perusahaan menyatakan bahwa penggunaan AI memungkinkan respons yang lebih personal kepada tiap kandidat, sekaligus mengoptimalkan proses rekrutmen dalam menemukan bakat yang tepat.

Takagi menyebutkan bahwa transisi ke wawancara AI membantu perusahaan mengembangkan pendekatan yang lebih akurat dalam mengidentifikasi kandidat potensial.

Takagi Takuya dari Suzuyo System Technology
Takagi Takuya dari Suzuyo System Technology

Wawancara Berbasis Avatar

Perusahaan lain bernama Beyond mengambil pendekatan yang berbeda.

Perusahaan asal Osaka ini mulai menggelar wawancara menggunakan avatar, baik untuk mewakili pelamar mahasiswa maupun pihak pewawancara.

Mahasiswa membuat avatar mereka sendiri untuk sesi wawancara. Pada tahap ini, nama dan asal kampus pelamar dirahasiakan agar perusahaan dapat memberikan penilaian murni berdasarkan kualitas percakapan tanpa prasangka.

Baik pelamar (kiri) maupun pewawancara (kanan) berinteraksi menggunakan tampilan avatar.
Baik pelamar (kiri) maupun pewawancara (kanan) berinteraksi menggunakan tampilan avatar.

Di tengah sengitnya persaingan memperebutkan talenta IT, perusahaan mencatat peningkatan jumlah pelamar berkat keunikan wawancara avatar yang membuat mereka tampil beda.

Komatsu Asaka dari Departemen Strategi Inovasi Beyond menjelaskan bahwa mahasiswa kini memantau banyak pilihan perusahaan, sehingga diperlukan inovasi baru untuk menarik minat mereka.

Komatsu Asaka dari Beyond.
Komatsu Asaka dari Beyond.

Tamaki Manaka adalah salah satu karyawan yang bergabung melalui wawancara avatar dan kini telah bekerja di sana selama tiga tahun.

Meski sempat melamar ke berbagai perusahaan lain, ia merasa hanya di perusahaan inilah ia bisa benar-benar menunjukkan potensi dan kemampuan terbaiknya.

Tamaki Manaka, direkrut oleh perusahaan setelah melalui proses wawancara berbasis avatar.
Tamaki Manaka, direkrut oleh perusahaan setelah melalui proses wawancara berbasis avatar.

Tamaki menyebutkan bahwa asal daerah maupun penampilannya tidak menjadi faktor penentu, sebab wawancara avatar hanya berfokus pada penilaian kepribadian.

Seiring pesatnya kemajuan AI, metode perekrutan karyawan pun turut berubah. Kini, berbagai perusahaan mulai memanfaatkan AI dan avatar untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mengenali kepribadian asli pelamar dengan lebih baik.

Sumber Berita

Penerbit
NHK WORLD
Tanggal Sumber
Pranala Sumber

Versi Berita.Jepang.org

Peran
Kurasi, terjemahan, dan penyuntingan naskah.
Pembaruan

Dengarkan Artikel

Putar versi audio langsung dari browser Anda.

Menyiapkan audio browser...

Kata Kunci

rekrutmen jepangai seleksi kerjalowongan kerja jepangavatar wawancaralulusan baru jepang

Jejak Topik

Komentar Pembaca

Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.