Penyintas Muda 3/11 Bangun Ikatan Baru dengan Anak Masa Kini
Lima belas tahun setelah Gempa Besar Jepang Timur dan tsunami 2011, Oguni Yuka, yang selamat dari bencana saat berusia 13 tahun, kini membalas kebaikan dengan mendukung generasi anak-anak berikutnya.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Penyintas Muda 3/11 Bangun Ikatan Baru dengan Anak Masa Kini

Menyaksikan Bencana
Oguni Yuka berusia 13 tahun saat bencana melanda kota kecil pesisir Otsuchi, Prefektur Iwate. Ia berada di rumah bersama ibunya ketika gempa terjadi, kemudian menuju sekolah dasar untuk menemui adik perempuannya.
Dalam perjalanan ke sekolah, mereka menelepon kakek dan nenek Yuka, yang meyakinkan bahwa mereka aman di lantai atas rumah mereka. Percakapan itu menjadi yang terakhir bagi mereka.

Tak lama setelah Yuka tiba di sekolah, ia melihat gelombang hitam mendekat, lalu melarikan diri ke tempat yang lebih tinggi bersama ibu dan adiknya. Dari bukit itu, ia menyaksikan rumah kakek dan neneknya tersapu tsunami.
Yuka mengungkapkan bahwa meski ia tahu kakek dan neneknya berada di rumah, ia mencoba berpikir mereka sudah mengungsi ke gunung. Ia sulit menerima kenyataan dan berharap semua itu hanyalah mimpi.
Kenangan Bersama Kakek dan Nenek
Sejak kecil, Yuka banyak menghabiskan waktu bersama kakek dan neneknya. Bersama nenek, ia sering bekerja di ladang atau pergi ke laut mengumpulkan rumput laut. Sang nenek juga kerap mengajaknya berkunjung ke rumah tetangga untuk minum teh.
Nenek saya sangat aktif, kata Yuka. Dulu, dia sering berkeliling dengan sepeda motor, dan itu terasa sangat keren.
Kakeknya adalah nelayan laut dalam saat muda, sering bepergian ke luar negeri. Ia pandai menggambar berbagai jenis ikan dan kerap bercerita tentang perjalanannya keliling dunia, kenang Yuka.

Setelah bencana, jasad kakeknya ditemukan di seberang teluk dari tempat tinggal mereka. Namun, neneknya tak pernah ditemukan.
Komunitas yang Kehilangan Semarak
Sementara anggota keluarga yang selamat menghabiskan beberapa tahun berikutnya di hunian sementara, kampung halaman mereka perlahan berubah. Yuka terus bergulat dengan kesedihan akibat kehilangan itu.
Ia mengatakan bahwa saat itu ia sering berpikir seolah kakek dan neneknya masih hidup, atau mungkin pindah ke bagian lain negara itu. Ia mencoba melarikan diri dari kenyataan.
Pada saat yang sama, ia menyadari banyak lansia di daerah itu semakin terisolasi. Sebagian dari mereka dulu sering menikmati waktu minum teh bersama neneknya, dan ia khawatir tentang nasib komunitas itu jika mereka tidak bisa berkumpul lagi.

Memulai Aksi
Yuka sering menghabiskan waktu di pusat komunitas remaja yang disebut collabo school, didirikan oleh sebuah organisasi nirlaba beberapa bulan setelah bencana. Di sana, ia kerap berbincang dengan Kanamori Shunichi, salah satu staf pengelola.

Kanamori pindah ke Kota Otsuchi dari Tokyo untuk mengelola tempat itu. Mengenang Yuka, ia mengakui bahwa awalnya Yuka tampak biasa saja, tapi seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa Yuka memiliki keinginan kuat untuk membawa perubahan.
Ia merasa penting untuk terus mendampingi dan memberi semangat, terutama ketika Yuka menyatakan keinginannya untuk berbuat bagi komunitas.
Yuka mengaku sedih melihat semangat komunitasnya memudar. Memulai sesuatu yang baru memang menuntut keberanian, namun Kanamori memberinya dorongan dan mendorongnya mencoba berbagai hal.
Berkat bantuan Kanamori, Yuka menyelenggarakan acara minum teh untuk para lansia. Meski awalnya untuk membantu mereka, justru para lansialah yang membantunya lebih mengenal kakek dan neneknya sendiri.

Seiring berjalannya acara, orang-orang mulai berbagi kisah tentang kakek dan nenek mereka yang belum pernah Yuka dengar sebelumnya.
Ia mengatakan, saat itulah ia menyadari kakek dan neneknya benar-benar menjalani hidup mereka di tempat ini. Hal itu memotivasi dirinya untuk turut membangun sesuatu di sana.
Menjalin Ikatan
Sebagian besar Otsuchi kini telah dibangun kembali, tetapi jumlah penduduk terus menurun karena kaum muda meninggalkan daerah itu. Namun, Yuka memilih tetap tinggal dan ingin membalas kebaikan komunitasnya. Kini berusia 28 tahun, ia membantu mengelola sebuah collabo school, seperti yang dulu pernah ia datangi saat kecil.

Sebagai staf, ia juga mendampingi siswa SMA dari luar prefektur yang belajar di Otsuchi. Kota ini memiliki sistem untuk menerima siswa dari daerah lain sebagai peserta pertukaran. Seperti Kanamori yang dulu menyemangatinya, Yuka membangun hubungan saling percaya dengan para siswa itu.

Berkat bantuan Yuka, para siswa bisa berinteraksi dengan warga kota. Mereka mengadakan pesta Natal untuk masyarakat dan bahkan membuat kue bersama-sama.
Ia berkata, Sekarang rasanya giliran saya untuk melanjutkan ikatan dengan masyarakat yang saya temui saat remaja. Saya ingin memberi mereka semangat, seperti yang dulu diberikan Pak Kanamori kepada saya.
Memberi Anak-Anak Kesempatan Membayangkan Masa Depan

Setelah bencana, ungkapan semangat memang membawa banyak dukungan, tetapi bagi anak-anak di daerah itu, hal tersebut juga bisa terasa sebagai beban, kata Imamura Kumi, direktur perwakilan NPO tempat Yuka bergabung.
Imamura menekankan pentingnya dukungan jangka panjang bagi anak-anak di wilayah terdampak bencana.
Menurutnya, banyak anak di sana kesulitan membayangkan masa depan karena trauma yang mereka alami. Dukungan dari orang dewasa selain orang tua atau guru sering kali sangat penting bagi mereka. Hubungan semacam ini disebut hubungan diagonal.
Itulah alasan kelompok warga seperti yang dipimpin Imamura berada pada posisi tepat untuk memainkan peran penting. Ia mengatakan dukungan semacam itu memungkinkan anak-anak mengubah trauma menjadi kesempatan untuk berkembang. Namun, proses ini membutuhkan waktu dan harus dibangun atas dasar saling percaya.
Imamura menyatakan bahwa pengalaman Yuka sebagai anak-anak setelah bencana, dipadukan dengan kegiatannya kini sebagai orang dewasa yang aktif menjangkau orang lain, memberikan teladan yang sangat berharga. Kombinasi ini menjadikannya panutan ideal bagi generasi muda di wilayah tersebut saat ini.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.51 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.


