Ketika Kenangan Perang Memudar, Okinawa Mencari Cara Baru Mengajarkan Perdamaian
Delapan puluh tahun setelah Perang Dunia Kedua berakhir, semakin sedikit penyintas yang dapat mewariskan langsung kisah perang kepada generasi muda di Jepang. Dari Okinawa, sebuah proyek teater hadir sebagai cara baru untuk menghidupkan ingatan tentang Pertempuran Okinawa sekaligus mengajarkan pentingnya perdamaian.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Ketika Kenangan Perang Memudar, Okinawa Mencari Cara Baru Mengajarkan Perdamaian

Drama Menegangkan Gambarkan Pertempuran Okinawa
Sambil menyelipkan laras pistol ke mulutnya, pria itu berteriak putus asa.
Sekitar 300 siswa SMP pun terpaku menyaksikannya.

Mereka sedang menyaksikan pementasan drama tentang Pertempuran Okinawa, pertempuran sengit antara militer Kekaisaran Jepang dan pasukan Amerika Serikat yang melanda pulau itu dan merenggut lebih dari 200.000 nyawa.
Pertunjukan teater perdamaian yang menggugah ini dipentaskan oleh para aktor muda Okinawa di sebuah SMP di Osaka.

Namun, para siswa tidak hanya menonton drama. Sebelum pertunjukan, mereka telah mempelajari perjalanan Jepang menuju perang serta posisi geografis Okinawa yang terus terdampak situasi regional.
Kini pementasan tersebut, yang judulnya dapat diterjemahkan sebagai Drama Pertempuran Okinawa dan Perdamaian, tengah diuji sebagai model baru yang berpotensi untuk pendidikan Perdamaian.
Wisata Perdamaian
Selama bertahun-tahun, karya wisata sekolah tahunan menjadi kesempatan utama bagi pendidikan perdamaian di Jepang, dengan destinasi seperti Hiroshima, Nagasaki, dan Okinawa yang sarat sejarah perang dan simbolisme.
Namun, biro perjalanan yang merancang program pembelajaran perdamaian untuk karya wisata kini menghadapi kesulitan, karena ingatan para penyintas perang merupakan elemen kunci, sementara jumlah mereka terus berkurang.
Bahkan biro perjalanan besar seperti JTB pun menghadapi persoalan ini.

Dalam sebuah pertemuan baru-baru ini, seorang staf JTB menceritakan bahwa sebuah sekolah ingin siswanya mendengarkan kesaksian penyintas di Nagasaki. Namun karena tidak ada yang tersedia, seorang penyintas yang tinggal di luar kota akhirnya berbicara kepada para siswa secara daring.
Seorang peserta lain mengatakan bahwa meskipun kenangan tersebut berharga, banyak siswa sulit bertahan duduk selama satu jam hanya untuk mendengarkan orang lanjut usia yang tidak mereka kenal.

Ketua tim JTB, Yokota Hiromi, mengatakan bahwa mereka benar-benar merasa berada di titik kritis karena kesempatan untuk mendengar suara langsung dari orang-orang yang benar-benar mengalami perang mulai hilang.
Hal itu menjadi kekhawatiran besar bagi mereka, dan sekolah-sekolah yang rutin mengikuti program ini juga merasakan hal yang sama.
Pendidikan Perdamaian Berubah Arah
Karena itu, agensi tersebut meluncurkan berbagai program baru.

Salah satunya adalah Dialog Perdamaian. Program ini mempertemukan pemuda setempat yang terlibat dalam kegiatan perdamaian dengan siswa yang berkunjung. Melalui diskusi, para siswa diajak secara aktif menggali pertanyaan dan persoalan, bukan sekadar menerima informasi secara pasif.
Program ini telah dimulai di Hiroshima dan Nagasaki. Kini, tim proyek berfokus pada Okinawa dengan melakukan uji coba drama perdamaian sejak Desember dalam program yang disebut Teater Perdamaian.
Rasanya seolah Anda benar-benar berada di sana, larut dalam adegan itu, merasakan kenyataan manusia yang begitu nyata, beserta emosi dan ketegangannya. Kami melihat potensi yang sangat besar, kata Yokota.
Dorongan untuk Membagikan Kisah Penyintas
Lakon ini diciptakan oleh Nagata Kensaku, putra asli Okinawa, yang bekerja bersama aktor-aktor muda setempat selama lebih dari empat tahun untuk menyusunnya.

Pada awalnya, Nagata bukanlah seorang aktivis. Saat tumbuh dewasa, ia memandang Pertempuran Okinawa semata sebagai kisah sedih dari masa lalu.
Namun, pertemuannya dengan seorang penyintas bernama Nakayama Kiku mengubah pandangannya.

Ketika ia dengan santai menanyakan rahasia semangatnya di usia hampir 90 tahun, perempuan itu menjawab bahwa ia tidak bisa mati karena telah kehilangan begitu banyak teman, teman sekelas, dan anggota keluarga selama perang.
Jika saya berhenti berbicara, bukti bahwa mereka pernah hidup akan lenyap. Itulah sebabnya saya tidak bisa mati begitu saja, saya punya misi, ujarnya.
Nagata mengatakan ia merasa seperti tersambar petir, lalu menerima tongkat estafet itu.
Kesaksian Mengerikan Sang Penyintas
Drama ini didasarkan pada pengalaman Oshiro Yuichi, 92 tahun, yang berusia 11 tahun saat pertempuran. Ketika itu, ia dan keluarganya berlindung di sebuah gua, lalu seorang tentara Jepang mengancam akan membunuh mereka daripada menyerah kepada pasukan AS.

Oshiro masih ingat tentara itu berteriak bahwa orang Okinawa semuanya mata-mata, dan ia akan melempar granat dari belakang untuk membunuh mereka.
Prinsip militer bahwa bunuh diri lebih terhormat daripada menyerah juga berdampak pada warga sipil, kenang Oshiro dengan pahit.
Hal itu mendorong orang-orang untuk mati sebelum menjadi tawanan perang. Sungguh keterlaluan, katanya.
Untuk mencari detail bagi pementasan drama itu, Nagata ingin mengunjungi gua tempat Oshiro bersembunyi. Namun, meski berbekal petunjuk, ia tidak dapat menemukan lokasi pastinya saat menelusuri lahan berbatu yang kini sudah tertutup semak belukar.
Meski begitu, kenyataan itu tetap terasa begitu nyata.
Karena tidak punya tempat untuk bersembunyi, mereka bercerita bahwa mereka mati-matian berpegangan pada tebing batu yang gundul seperti serangga, kata Nagata dengan suara tercekat. Membayangkan bahwa mereka masih berusaha bertahan hidup dalam kondisi seperti itu...

Terlepas dari beban emosional saat menghidupkan drama itu, Nagata menyadari bahwa kenangan ini harus dibagikan agar tragedi yang sama tidak terulang.
Baginya, salah satu pesan datang dari Ayah Oshiro, yang diminta seorang pria di dalam gua untuk menembak pria itu dan istrinya dengan pistol setelah pria tersebut mencoba, tetapi gagal, mengakhiri hidup mereka sendiri. Ayah Oshiro membujuknya untuk mengurungkan niat bunuh diri.

Hargai hidupmu. Kau dengar saya? kata ayah Oshiro kepada pria Itu. Itu janji, kan?
Percakapan itu digambarkan dalam drama ini.
Pementasan yang Menggetarkan
Selama pertunjukan, beberapa siswa terpaksa keluar karena merasa sangat ketakutan.

Yamaguchi Haruma mengatakan bahwa pementasan itu sangat membekas dan menyentuhnya dengan cara yang belum pernah ia rasakan saat belajar di kelas.
Ia menambahkan bahwa perang terasa bukan sebagai sesuatu yang jauh di masa lalu, dan hal itu juga membuatnya takut.
Abe Anna mengatakan bahwa pementasan drama itu membuatnya menangis.

Ia menambahkan bahwa sebagai bagian dari masyarakat, kita harus memiliki tekad kuat untuk menghapus perang. Ke depan, ia ingin terus berusaha dan terlibat aktif demi mewujudkannya.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.



