Jepang Lepas 200.000 Ton Cadangan Beras Tambahan demi Kendalikan Lonjakan Harga
Pemerintah Jepang akan menjual 200.000 ton beras cadangan hasil panen 2020 dan 2021 langsung ke peritel guna meredam kenaikan harga pangan. Langkah ini merupakan tambahan dari 300.000 ton beras yang telah dilepas sebelumnya di bawah skema serupa.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Jepang Lepas 200.000 Ton Cadangan Beras Tambahan demi Kendalikan Lonjakan Harga

Jepang Akan Melepas Lebih Banyak Cadangan Beras
Menteri Pertanian Jepang menyatakan pemerintah berencana melepas lebih banyak cadangan beras guna mengendalikan lonjakan harga bahan pangan pokok tersebut.
Koizumi Shinjiro pada Selasa menyampaikan bahwa pemerintah akan menjual 200.000 ton beras hasil panen 2020 dan 2021 kepada peritel melalui kontrak tanpa tender.
Langkah ini mengikuti pelepasan 300.000 ton cadangan beras yang telah dimulai sebelumnya di bawah skema serupa.

Upaya pemerintah untuk menurunkan harga beras perlahan mulai menunjukkan hasil.
Data terbaru Kementerian Pertanian menunjukkan harga beras di supermarket turun selama dua pekan berturut-turut pada akhir Mei, meski angka tersebut belum mencakup cadangan nasional yang dilepas melalui sistem kontrak penunjukan langsung yang baru.
Harga rata-rata satu kantong seberat 5 kilogram, termasuk pajak, mencapai 4.223 yen atau sekitar 29 dolar untuk pekan hingga 1 Juni. Angka tersebut turun 0,9 persen dibanding pekan sebelumnya, berdasarkan survei terhadap sekitar 1.000 supermarket di seluruh negeri.
Toko Beras: Harga Grosir Mulai Berubah
Manajer sebuah toko beras di Prefektur Fukuoka menyebutkan bahwa harga yang ditawarkan pedagang grosir untuk beras non-cadangan pekan lalu turun sekitar 20 persen dibandingkan bulan Maret.
Ishinuki Tetsuya menilai para pedagang grosir kini berupaya menghabiskan stok panen tahun lalu setelah pemerintah melepas cadangan beras ke pasar.
Dia berujar, 'Saya rasa kini lebih banyak pedagang grosir yang ingin segera menjual sisa panen tahun lalu karena musim panen baru akan segera tiba.'

Pelaku Usaha Menanti Beras Murah
Bisnis kuliner yang mengandalkan nasi kini menantikan kesempatan untuk mendapatkan pasokan dengan harga yang lebih terjangkau.
Sebuah kedai minum di Prefektur Osaka populer berkat paket makan siang seharga 500 yen, atau sekitar 3,5 dolar, dengan sajian nasi sepuasnya.

Pekan lalu, kedai tersebut membeli stok beras cadangan demi menjaga harga makan siang tetap rendah. Sang manajer rela mengantre di supermarket sejak pagi hari untuk membeli dua kantong beras.
Namun, stok beras tersebut habis hanya dalam waktu sekitar 4 hari.
Sang manajer menuturkan bahwa ia sempat terpikir untuk menaikkan harga makan siang sementara waktu, namun ia tetap mempertahankannya demi pelanggan dan berharap harga beras akan terus turun.
Kekhawatiran Petani atas Penurunan Harga Beras
Di sisi lain, ada pula pihak-pihak yang mengamati tren penurunan harga beras ini dengan saksama.
Aoki Takuya adalah seorang petani di Prefektur Niigata yang mengelola lahan persawahan seluas 40 hektare.

Petani ini menjual hasil panennya ke pedagang grosir. Ia berencana merundingkan harga beras tahun ini pada akhir Agustus, namun khawatir harganya tak cukup menutup biaya produksi. Ia menyebut biaya tanam terus meningkat setiap tahun. Ia juga takut konsumen terbiasa dengan harga murah beras cadangan, lalu menuntut agar beras biasa dijual lebih murah juga.
Ia memaklumi jika pemerintah menjual beras cadangan seharga 2.000 yen. Namun, menurutnya pemerintah harus menegaskan bahwa itu adalah stok cadangan, karena petani tidak akan bisa bertahan hidup jika beras mereka dijual dengan harga serendah itu.
Penjualan Beras Biasa Merosot
Sejumlah peritel pun mulai merasa cemas.
Sebuah supermarket di Prefektur Saitama memilih tidak menjual beras cadangan pemerintah. Namun, penjualannya justru melambat sejak beras cadangan dilepas ke pasar.
Penjualan beras pada bulan Mei anjlok hampir 30 persen dibanding bulan April. Sebagai respons, toko tersebut menjual stok terbatas dengan harga yang lebih murah.
Kini, toko tersebut mengurangi pesanan dari tiga kali seminggu pada periode ramai menjadi hanya sekali seminggu.

Pakar: Harga Beras Berpotensi Sedikit Turun
Peneliti Senior Mitsubishi Research Institute, Inagaki Kimio, menyebutkan bahwa lebih banyak pelaku usaha kemungkinan akan menurunkan harga stok beras biasa yang mahal, seiring larisnya cadangan beras pemerintah yang lebih terjangkau di pasaran.

Pakar tersebut juga menunjukkan bahwa kunci penurunan harga beras ke depannya terletak pada harga panen tahun ini, yang bergantung pada dua poin penting.
Salah satunya adalah pembayaran uang muka kepada para petani.
Sejumlah badan prefektur dari Japan Agricultural Co-operatives, kelompok pengumpul dan grosir beras terbesar di Jepang, telah memutuskan untuk menaikkan uang muka kepada petani secara signifikan. Pembayaran ini dilakukan setiap musim gugur saat hasil panen dikirimkan, dan menjadi tolok ukur penetapan harga pasar produk beras.
Inagaki menyatakan bahwa kenaikan uang muka tersebut menandakan harga beras kemungkinan tidak akan segera turun.
Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah volume hasil panen musim gugur ini.
Kementerian Pertanian memperkirakan hasil panen beras tahun ini akan meningkat sebanyak 400.000 ton dibandingkan tahun lalu.
Hal tersebut mengisyaratkan bahwa harga bahan pangan pokok ini kemungkinan akan turun.
Inagaki mengatakan pelaku usaha mungkin harus segera menurunkan harga saat melihat stok beras melimpah di pasar dan adanya rasa tidak puas dari konsumen terhadap harga tersebut.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.

