Museum Hiroshima Hadirkan Suara Baru Para Hibakusha
Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima menghadirkan pameran baru yang memberi kesempatan bagi hibakusha menceritakan pengalaman mereka. Upaya ini menegaskan pesan perdamaian di tengah ancaman senjata nuklir global.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Museum Hiroshima Hadirkan Suara Baru Para Hibakusha

Seruan dari Hiroshima
Pada 28 Maret, dua layar besar dipasang di lantai satu Gedung Timur museum tersebut. Salah satunya menayangkan film berdurasi enam menit yang menampilkan sembilan penyintas bom atom, atau hibakusha, berbagi pengalaman dan pemikiran mereka.

Bayangkan bom atom dijatuhkan di kota Anda. Orang-orang dengan luka bakar parah merintih kesakitan sebelum meninggal, kata penyintas Yahata Teruko.

Penyintas lain, Arai Shunichiro, menggambarkan penderitaan yang terus berlanjut lama setelah perang usai.
Dampak bom atom tidak berhenti 80 tahun lalu, katanya. Hingga kini, semua hibakusha di Jepang masih merasakan pengaruhnya dalam berbagai bentuk, seperti yang saya alami.
Wawancara Terkini dengan Para Penyintas
Staf museum menghabiskan lebih dari setahun untuk merekam wawancara baru bagi pameran ini agar cerita para penyintas tetap hidup.
Salah satunya menanyakan kepada Morishita Hiromu, yang berusia 14 tahun saat pengeboman atom, tentang perasaannya saat bom itu meledak.

Jawaban Morishita sangat jelas dan menggugah indera: cahaya terlebih dahulu, diikuti suara, lalu gelombang ledakan. Saat itu, saya merasa seolah tiba-tiba dilempar ke dalam tungku raksasa.
Rincian pribadi seperti ini, yang tak mungkin direkonstruksi, menjadi inti pameran baru museum.
Di Akhir Perjalanan

Pameran ini ditempatkan di ujung rute museum, setelah pengunjung menyaksikan kehancuran dan dampak sesudahnya.

Bagian awal pameran menampilkan besarnya kehancuran akibat pengeboman melalui sisa-sisa fisik, termasuk pakaian yang dipakai saat ledakan terjadi.

Selanjutnya, narasi pameran meluas ke sejarah pengembangan nuklir, rekonstruksi Hiroshima, dan gerakan perdamaian dunia.

Hanya setelah itu pengunjung bisa melihat rekaman-rekaman baru tersebut.
Yahata Teruko mengatakan bahwa mereka sangat berharap pengunjung mau berhenti sejenak dan merasakan emosi mereka yang mengalami sisi paling kejam dari pengeboman atom.
Perwakilan museum menegaskan bahwa tujuan pameran bukan sekadar memberikan informasi, melainkan meninggalkan kesan mendalam.

Tani Shiro dari Hiroshima Peace Culture Foundation menyebutkan bahwa pameran ini dirancang agar pesannya tersampaikan dengan lebih jelas.
Ia menambahkan, Kami berharap pengunjung, baik dari Jepang maupun luar negeri, meninggalkan tempat ini dengan tekad baru untuk perdamaian dan penghapusan senjata nuklir. Oleh karena itu, bagian ini ditempatkan di ujung rute, setelah pengunjung melihat seluruh pameran lainnya.
Tani menyatakan ia ingin pengunjung memahami harapan para penyintas agar tidak ada lagi yang mengalami tragedi serupa, dan bahwa kemanusiaan serta senjata nuklir tidak akan pernah bisa hidup berdampingan.
Misi Museum
Staf museum menyebut pameran baru ini hadir di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa senjata nuklir bisa kembali digunakan.

Selama beberapa dekade, para penyintas bom atom menjaga apa yang dikenal sebagai tabu nuklir dengan mengungkap dampak menghancurkan dari penggunaannya. Namun, dengan meningkatnya ketegangan global, pejabat museum khawatir tabu itu mungkin mulai melemah.
Pameran baru ini ingin menekankan satu pesan sederhana: dampak pengeboman atom tidak berhenti pada 1945. Lebih dari 80 tahun berselang, pengaruhnya masih terasa hingga kini.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.51 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.



