Maafkan Tapi Jangan Lupa: Menelusuri Pendudukan Jepang di Singapura
Lebih dari 80 tahun sejak pendudukan Jepang, sejarawan Lim Shao Bin menelusuri dokumen dan peninggalan perang untuk memahami masa lalu Singapura. Ia percaya menghadapi kebenaran yang menyakitkan penting untuk membangun perdamaian yang langgeng.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Maafkan Tapi Jangan Lupa: Menelusuri Pendudukan Jepang di Singapura

Singapura pernah menjadi koloni Inggris dan benteng strategis di Asia Tenggara. Pada 1942, militer Jepang mengambil alih kendali dan memulai pendudukan yang brutal. Banyak warga keturunan Tionghoa yang dituduh anti-Jepang dibunuh.

Museum Nasional Singapura mendokumentasikan kehidupan dan kematian di bawah kekuasaan Jepang. Barang pribadi seperti jam tangan perempuan dan gelang kaki bayi ditemukan di lokasi pembantaian massal yang berlangsung berminggu-minggu, dengan jumlah korban tewas yang pasti hingga kini masih belum diketahui.
Sebuah panel informasi di museum menyatakan bahwa Jepang memperkirakan jumlah korban tewas antara 5.000 hingga 6.000, sementara perkiraan tidak resmi berkisar antara 20.000 hingga 30.000.

Meneliti Realitas
Sejarawan Singapura Lim adalah peneliti independen yang telah mempelajari kehidupan di bawah pendudukan Jepang selama beberapa dekade.
Saat masih muda, ia memperoleh beasiswa ke sebuah universitas di Jepang. Ia menghabiskan total 10 tahun di sana, awalnya untuk belajar, lalu bekerja sebagai insinyur. Ia mengatakan menikmati kehidupan di Jepang, di mana ia masih memiliki banyak teman.
Namun, Lim merasa memiliki perasaan yang bertentangan terhadap hubungannya dengan Jepang. Kakeknya tewas di tangan polisi militer Jepang tak lama setelah Tokyo menyerah pada 1945.

Jangan Pernah Membawa Pulang Pengantin Jepang
Lim menceritakan bahwa peristiwa kematian kakeknya lama dianggap tabu dalam keluarganya. Ia baru mengetahui kebenarannya saat sedang mempertimbangkan jalan hidupnya setelah lulus SMA.
Secara kebetulan, ia menerima beasiswa dari sebuah perusahaan Jepang yang memberinya kesempatan belajar di Jepang. Saat itulah nenek dan ayahnya akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah Kaisar Jepang mengumumkan penyerahan negaranya pada 15 Agustus 1945, Singapura memasuki masa tanpa hukum hingga kekuasaan Inggris dipulihkan pada 12 September.
Dalam kekacauan tersebut, kakek Lim dituduh terlibat dalam kegiatan anti-Jepang. Ia ditahan oleh polisi militer Jepang dan dibunuh pada 5 September di Melaka.

Lim mengatakan keluarganya akhirnya menerima keputusannya untuk belajar di Jepang, tetapi mereka menetapkan satu syarat tegas. Sebelum berangkat, mereka memperingatkannya bahwa apa pun yang terjadi, ia tidak boleh menikahi wanita Jepang.
Dengan membawa sejarah keluarga yang begitu menyakitkan, Lim menjelaskan pergulatan batinnya, bahkan saat interaksinya dengan orang-orang Jepang semakin intens: Jepang adalah tempat belajar di luar negeri yang maju dalam banyak hal. Ia pun bertanya-tanya bagaimana guru-guru yang dihormati bisa melakukan hal-hal sekejam itu.
Ketidakselarasan ini mendorongnya memulai penelitian mendalam tentang apa yang terjadi di bawah kekuasaan Jepang.

Mengungkap Kebenaran
Lim mulai menelusuri catatan militer Jepang untuk mengetahui mengapa kakeknya meninggal, penyebab tragedi itu, dan apakah hal itu sebenarnya bisa dihindari. Namun, pada awalnya ia menemui jalan buntu.
Bahkan ketika berusaha memahami nasib buruk kakeknya, ia hampir tidak menemukan dokumentasi tentang sejarah polisi militer Jepang, ujarnya. Hal ini justru memunculkan lebih banyak pertanyaan: mengapa sejak awal hampir tidak ada yang menulis tentang mereka? Semakin ia menelusuri, semakin dalam misterinya.
Untungnya, saya menemukan kawasan toko buku bekas di distrik Kanda, Tokyo, dan di sana saya menemukan harta karun berupa buku bekas, buku langka, dan judul-judul akademik.
Ia menemukan buku dan makalah mengenai struktur disiplin Tentara Kekaisaran Jepang, penyebab Perang Pasifik, hingga latar sejarah yang lebih luas, termasuk sejarah modern Tiongkok dan Perang Rusia-Jepang.

Didanai dari tabungannya sendiri, Lim bahkan kadang melewatkan makan siang demi membeli bahan penelitian. Penelitiannya membawanya ke Jepang, Amerika Serikat, Britania Raya, dan negara-negara lain.
Ia meneliti bukan hanya catatan resmi, tetapi juga benda-benda seperti peta dan surat untuk menemukan petunjuk tentang bagaimana peristiwa itu terjadi. Arsipnya yang luas kini mencakup lebih dari 2.000 item.
Salah satu item adalah gambar pertunjukan militer Jepang di mana tentara berdandan menirukan orang Tionghoa.

Lim menjelaskan bahwa penelitiannya menunjukkan peristiwa dalam gambar itu berlangsung setelah pembantaian massal terhadap warga Tionghoa. Barang-barang kenangan semacam ini menegaskan kekejaman perang.
Ia meyakini bahwa mengungkap kebenaran adalah misi yang diwariskan kakeknya: memahami mengapa pasukan Jepang menjadi brutal, bagaimana mereka bisa membunuh warga sipil, dan apakah kekejaman seperti itu bisa dicegah di masa depan.
Kita benar-benar perlu mempelajari sejarah ini, sambil berharap suatu hari bisa mewujudkan perdamaian, katanya.
Perjalanan Rumit Pasca-Perang
Sejumlah sejarawan mengatakan Singapura hampir tidak punya pilihan selain menerima penyelesaian pascaperang dari Jepang, yang diwujudkan melalui kerja sama ekonomi serta bantuan dalam pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan industri.
Kini, Singapura diakui secara luas sebagai pusat ekonomi penting di Asia Tenggara. Hubungannya dengan Jepang yang kuat menunjukkan bahwa negara dengan sejarah sulit tetap bisa menemukan cara untuk melangkah maju.
Warga Singapura mempelajari pemerintahan militer Jepang di sekolah dan museum, meski jumlah orang yang mengalami langsung periode itu terus berkurang.
Bersama Membangun Masa Depan

Pada Desember lalu, Lim diundang ke simposium di Yokohama untuk memaparkan pekerjaannya. Ia berharap generasi berikutnya dapat melanjutkan penelitian ini.
Perang Dunia Kedua berakhir 80 tahun lalu, namun masih banyak hal yang belum kita pahami, kata Lim.
Hal itu sangat disayangkan. Saya sudah tua, tetapi saya berharap kaum muda dan peneliti dapat bekerja bersama untuk mengungkap fakta-faktanya.
Seorang perempuan yang hadir untuk mendengar Lim berbicara berkata, Saya belum pernah mengalami perang, jadi Saya ingin menyelami sejarah dan melakukan refleksi.
Bagi Lim, perdamaian adalah hal terpenting. Tantangan sesungguhnya adalah menjauh dari perang dan menjaga kondisi yang mencegah konflik. Kita harus ingat bahwa perdamaian yang kita nikmati hari ini tidak datang begitu saja dan tidak selalu terjamin.
Kita harus meneruskan obor perdamaian kepada generasi berikutnya. Untuk itu, kita tidak boleh melupakan masa lalu. Kita bisa memaafkan, tetapi tidak boleh melupakan.

Catatan Reporter NHK Bangkok, Kim Ji-Young
Saat saya mewawancarai Lim pada Juli 2025, ia berbicara dengan keyakinan tentang makna pekerjaannya dan menekankan bahwa perdamaian tidak pernah datang begitu saja. Kata-katanya mengingatkan saya bahwa perdamaian yang kita nikmati, di mana pun kita berada, jauh lebih rapuh daripada yang sering kita sadari.
Pemikiran itu saya bawa saat kembali ke Thailand. Keesokan harinya, bentrokan bersenjata pecah antara Thailand dan negara tetangganya, Kamboja. Saat itu, saya menyadari betapa rapuhnya perdamaian dan betapa dalam makna kata-kata Lim.
Konflik terus meletus di berbagai belahan dunia, menelan banyak nyawa. Saya merasa memiliki tanggung jawab untuk terus berinteraksi dengan mereka yang pernah mengalami perang, serta menceritakan kisah mereka. Membagikan pengalaman ini dapat membantu membentuk sikap, termasuk bagi generasi mendatang.
Catatan Produser NHK World, Koga Takashi dan Takaya Natsuko
Tahun lalu, ketika dunia menandai 80 tahun berakhirnya Perang Dunia Kedua, kami berusaha memperluas liputan melampaui sejarah Hiroshima dan Nagasaki. Kami menelusuri bagaimana tindakan Jepang selama perang memengaruhi orang-orang di seluruh Asia, serta melaporkan pengalaman individu seperti Lim.
Kami menemukan kesamaan yang mencolok antara upaya Lim dan orang-orang di Hiroshima serta Nagasaki yang terus menyampaikan pelajaran dari pengeboman atom kepada dunia. Mereka bersuara bukan hanya untuk diingat, tetapi karena meyakini bahwa, mengingat ketegangan dan konflik global saat ini, tragedi serupa bisa terulang.
Kami percaya suara mereka memiliki kekuatan universal, bergema lintas generasi dan melampaui batas negara.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.51 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.



