Lewati ke konten utama
Berita.Jepang.org

Keluarga Korban Penculikan Korea Utara Tekankan Pentingnya Jawaban

Kerabat korban penculikan oleh Korea Utara menuntut penyelesaian saat penantian puluhan tahun terus membebani mereka. Yokota Takuya menyoroti usia Megumi yang kini 61 tahun, menegaskan urgensi mendapatkan kejelasan nasibnya.

NHK WORLD5 mnt

Bagikan Artikel

Yokota Takuya berbicara di simposium tentang penculikan Korea Utara di Tokyo

Visual Utama

Keluarga Korban Penculikan Korea Utara Tekankan Pentingnya Jawaban

Tutup
Yokota Takuya berbicara di simposium tentang penculikan Korea Utara di Tokyo

Keluarga Korban Mendesak Penyelesaian

Keluarga korban penculikan oleh Korea Utara kembali menyerukan pemulangan orang-orang terkasih mereka dalam sebuah simposium di Tokyo pada Sabtu, di tengah penantian puluhan tahun dan tekanan waktu yang kian berat.

Yokota Takuya
Yokota Takuya

Yokota Takuya, saudara laki-laki korban penculikan Yokota Megumi, menyebut adiknya genap berusia 61 tahun pada 5 Oktober.

Ia mengatakan saat membayangkan perjuangan dan penderitaan adiknya selama bertahun-tahun tanpa kebebasan, ia tidak bisa memaafkan Korea Utara.

Ia mendesak pemerintah Jepang segera menggelar pertemuan puncak dengan Korea Utara dan mengulang momen 2002 saat lima korban penculikan dipulangkan serta bertemu kembali dengan keluarga dan teman mereka di Bandara Haneda.

Iizuka Koichiro
Iizuka Koichiro

Iizuka Koichiro, yang ibunya Taguchi Yaeko dibawa saat ia berusia satu tahun, mengatakan waktu telah berlalu tanpa petunjuk yang muncul untuk menyelesaikan kasus ini. Ia menambahkan keluarga-keluarga merasa putus asa karena waktu yang tersisa terasa semakin sedikit.

Ia tidak memiliki ingatan tentang ibunya, namun tetap berharap dari lubuk hati terdalam agar mereka bisa bersatu kembali.

Hanya Satu Orang Tua yang Masih Hidup

Dari para orang tua korban penculikan yang diakui secara resmi dan keberadaannya masih belum diketahui, hanya Yokota Sakie, ibu Megumi, yang masih hidup. Saat ini, ia berusia 89 tahun.

Setelah simposium itu, Yokota Takuya mengatakan bahwa ibunya menyadari di usianya sekarang ia tidak bisa mengandalkan hari esok, tetapi harapan untuk bertemu Megumi lagi membuatnya terus bertahan. Ia berharap pemerintah Jepang berkomitmen untuk memulangkan semua korban penculikan tanpa gagal.

Korban dari Seluruh Dunia

Orang-orang dari berbagai negara telah diculik oleh Korea Utara.
Orang-orang dari berbagai negara telah diculik oleh Korea Utara.

Isu penculikan ini meluas jauh melampaui Jepang. Investigasi Perserikatan Bangsa-Bangsa menyimpulkan bahwa Korea Utara telah membawa orang-orang dari lebih dari sepuluh negara, tersebar di Asia, Eropa, dan Timur Tengah.

Temuan PBB menunjukkan lebih dari 200.000 orang telah dibawa ke Korea Utara dari negara-negara asing sejak 1950.

Kesaksian dari korban penculikan Soga Hitomi dan suaminya Charles Robert Jenkins, seorang desertir tentara AS yang memasuki Korea Utara pada 1965, memperluas pemahaman tentang kasus ini. Mereka menyebutkan bahwa ada korban yang diculik dari Thailand dan Rumania, selain negara-negara lainnya.

Hilang sejak 1978

Keberadaan Anocha Panchoi masih belum diketahui.
Keberadaan Anocha Panchoi masih belum diketahui.

Pada 2005, Jenkins merilis buku yang menyebut seorang wanita Thailand, yang diduga korban penculikan, telah tinggal di Korea Utara. Ketika foto wanita tersebut dirilis, sebuah keluarga maju dan menyatakan kemungkinan besar itu adalah kerabat mereka yang hilang.

Banjong Panchoi terus mendesak kepulangan bibinya.
Banjong Panchoi terus mendesak kepulangan bibinya.

Anocha Panchoi, asal Chiang Mai di Thailand utara, menghilang pada 1978 saat bekerja di Makau. Selama beberapa dekade, keberadaannya tidak diketahui.

Pengungkapan Jenkins memberikan harapan baru bagi keponakan Anocha, Banjong Panchoi. Ia dan ayahnya mengunjungi Jepang untuk bertemu Jenkins dan mendengar kisah tentang kehidupan di Korea Utara.

Banjong juga bekerja sama dengan keluarga korban penculikan Jepang dan kelompok pendukung, mendesak pemerintah Thailand dan Jepang, serta Perserikatan Bangsa-Bangsa, agar bibinya dapat dipulangkan.

Banjong menyatakan bahwa menyelamatkannya adalah tanggung jawab keluarga yang tidak bisa mereka abaikan.

Namun, 20 tahun telah berlalu sejak foto itu muncul, tanpa adanya kemajuan berarti.

Selama waktu itu, keluarga merawat rumah yang dibangun Anocha dengan uang kirimannya saat bekerja jauh dari rumah. Kini, mereka menghadapi kesulitan finansial dan memutuskan untuk pindah.

Banjong mengatakan rumah itu mencerminkan kerja keras bibinya dan sangat berharga bagi mereka. Melepaskannya, katanya, terasa sangat menyakitkan bagi keluarga.

Namun ia menegaskan bahwa selama ia masih hidup, ia akan terus berharap bisa melihatnya lagi.

Upaya yang Terhenti

Kantathi Suphamongkhon mendekati Korea Utara untuk meminta kerja sama dalam memulangkan Anocha.
Kantathi Suphamongkhon mendekati Korea Utara untuk meminta kerja sama dalam memulangkan Anocha.

Upaya diplomatik pernah dilakukan sebelumnya. Mantan Menteri Luar Negeri Thailand, Kantathi Suphamongkhon, mengungkapkan bagaimana negosiasi terkait penculikan itu berlangsung dengan Korea Utara pada 2006.

Pada saat itu, pemerintah Thailand mengusulkan pembentukan panel teknis antara kedua negara. Kantathi menyebut Korea Utara setuju secara prinsip.

Ia menyatakan berhati-hati dengan istilah yang digunakan, menghindari kata penculikan yang bisa menyinggung Korea Utara, dan memilih menggunakan istilah menghilang.

Namun, kudeta di Thailand menghentikan inisiatif itu sebelum pembicaraan bisa berlangsung.

Kantathi menyebut Korea Utara mungkin akan merespons positif tergantung pendekatan yang ditempuh, yang memerlukan diplomasi halus.

Ia menekankan pentingnya kerja sama internasional, berbagi informasi lintas batas, dan merumuskan strategi bersama.

Tiga Tantangan Utama

Greg Scarlatoiu menjabat Presiden dan CEO Committee for Human Rights in North Korea.
Greg Scarlatoiu menjabat Presiden dan CEO Committee for Human Rights in North Korea.

Greg Scarlatoiu, Presiden dan CEO lembaga riset Committee for Human Rights in North Korea yang berbasis di Washington DC, menyebut ada tiga tantangan utama terkait masalah penculikan ini.

Pertama, katanya, perlu dilakukan lebih banyak penelitian. Tugas kedua adalah mengangkat isu ini ke ranah internasional melalui pemerintah, dengan dukungan organisasi seperti lembaganya. Terakhir, koalisi negara-negara anggota yang sejalan saat ini perlu diperluas untuk mencakup anggota Global South, yang memiliki pengalaman tersendiri terkait pelanggaran hak asasi manusia.

Menteri Terakhir yang Menangani Kasus Penculikan

Kepala Sekretaris Kabinet Kihara Minoru saat simposium berlangsung.
Kepala Sekretaris Kabinet Kihara Minoru saat simposium berlangsung.

Dalam simposium tersebut, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Kihara Minoru menyatakan bahwa masalah penculikan merupakan persoalan hak asasi manusia yang langsung memengaruhi kehidupan, sekaligus pelanggaran kedaulatan nasional, dan menegaskan hal ini sebagai prioritas utama pemerintahan saat ini. Ia juga menyatakan niatnya untuk menjadi menteri terakhir yang menangani kasus penculikan tersebut.

Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB

Sumber Berita

Penerbit
NHK WORLD
Tanggal Sumber
Pranala Sumber

Dengarkan Artikel

Putar versi audio langsung dari browser Anda.

Menyiapkan audio browser...

Kata Kunci

Jejak Topik

Komentar Pembaca

Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.