Festival Film Jepang Sorot Kisah Haru dan Harapan Pengungsi
Dokumenter Ammar al-Beik tentang pengungsi di Eropa mendapat penghargaan di Yamagata International Documentary Film Festival, sekaligus menginspirasi lokakarya bagi anak-anak Jepang. Kunjungan ini memperkuat kepercayaan diri al-Beik dalam proses pemulihan dari trauma masa lalunya.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Festival Film Jepang Sorot Kisah Haru dan Harapan Pengungsi

Kehidupan yang Suram

Dokumenter berdurasi 222 menit karya Al-Beik ditayangkan dalam kategori kompetisi internasional festival tersebut. Film ini menampilkan rasa kehilangan yang mendalam dan kehidupan suram para penghuni kamp pengungsi di pinggiran Berlin.
Pembuat film yang kini tinggal di Prancis bersama istrinya, Caroline, meninggalkan Suriah setelah revolusi 2011.
Dokumenter dimulai pada September 2014, saat Al-Beik ditempatkan di kamar kecil di kamp Berlin. Ia menggunakan kamera ponselnya untuk merekam setiap detail selama delapan bulan masa penahanannya di sana.
Makna di Balik Judul
Film ini berjudul TrepaNation, merujuk pada prosedur bedah untuk melubangi tengkorak. Praktik medis kuno ini masih digunakan hingga kini untuk mengurangi tekanan intrakranial, meski dikenal dengan istilah berbeda: kraniotomi.

Al-Beik menggambarkan kamera ponselnya sebagai pisau bedah untuk menyingkap tekanan hidup pengungsi yang tersembunyi dan terisolasi. Penonton melihat antrean panjang di tempat cuci pakaian, pria yang bermain kartu, serta dapur bersama yang penuh sampah.

Al-Beik berkata bahwa ia merasa seperti tenggelam di kamp itu: Saya berada di tengah kolam renang di bawah air selama delapan bulan... ini... terlihat seperti makna trauma yang sebenarnya.
Ia merekam 150 jam rekaman. Proses penyuntingan memakan waktu satu dekade penuh, sebuah perjalanan yang menurutnya penuh tantangan namun juga menyembuhkan.

Martabat untuk Bertahan Hidup
Dalam perjuangan melewati masa-masa sulit, al-Beik mengatakan pengungsi di kamp harus mempertahankan martabat mereka. Selain warga Suriah, pengungsi lain berasal dari Albania, Serbia, Afganistan, Iran, Vietnam, dan Palestina.
Beberapa sukarelawan membersihkan tempat, sementara yang lain menjahit pakaian. Al-Beik membuat yogurt sendiri untuk menghadirkan kembali cita rasa tanah airnya.

Saya ingin melakukan sesuatu untuk diri sendiri, katanya, sambil menambahkan bahwa ia ingin membuat makanan sebaik mungkin dan sekaligus menghadirkan senyum bagi dirinya.
Ini tentang martabat dan tanggung jawab, memikirkan orang lain… serta bertahan hidup… Tapi Itu tidak berarti kita harus hidup di tengah dapur yang kotor.
Secercah Harapan
Salah satu penghuni, seorang pemuda Suriah, menjalani operasi yang berhasil di Jerman untuk mengeluarkan serpihan proyektil dari tengkoraknya. Pesannya di depan kamera adalah ia berharap ada perdamaian di seluruh dunia, sehingga tidak ada ibu yang menangis karena kehilangan putranya.

Kisahnya juga sejalan dengan tema judul dokumenter tersebut. Secara kiasan, al-Beik percaya manusia menghabiskan hidup melakukan trepanasi mereka sendiri. Kita semua membutuhkan bentuk trepanasi kita sendiri, ujarnya, merujuk pada proses sulit yang dialami para pengungsi.
Jatuhnya Rezim Assad
Runtuhnya rezim Assad pada Desember 2024 membuka kesempatan bagi al-Beik untuk pulang, namun ia belum siap melakukannya. Terlalu banyak yang hilang selama ia pergi — termasuk ibunya yang sangat berharga baginya.

Sosok ibunya juga ditampilkan dalam film tersebut. Al-Beik menceritakan betapa menyakitkan kenyataan bahwa ibunya, yang lebih berharga baginya daripada harta atau rumah, meninggal pada Februari 2012 tanpa sempat ia temui untuk terakhir kalinya.
Ia mengenang bagaimana pasukan keamanan menuntut keluarganya segera memakamkan ibunya, bahkan melarang mereka membawa jenazah untuk penghormatan terakhir di lingkungan tempat tinggal mereka.
Yang lebih menyakitkan, ibunya sempat dirawat di Rumah Sakit Prancis di Damaskus, sebuah rumah sakit swasta. Setelah hampir sebulan dan biaya yang dikirim al-Beik habis, keluarga memutuskan memindahkannya ke Rumah Sakit Universitas Al-Assad, rumah sakit umum. Sayangnya, malam itu rumah sakit tidak memberikan dosis oksigen yang tepat, sehingga ia meninggal dunia.
Penderitaan itu membuat al-Beik ragu untuk kembali.
Rumah yang Dijarah

Sementara itu, istrinya, Caroline — yang pernah dipenjara oleh rezim Assad karena menyelundupkan susu formula dan popok bayi ke dalam negeri — memutuskan untuk mengunjungi Suriah pada bulan September.
Ia memeriksa rumah al-Beik di Damaskus dan mendapati bahwa rumah itu telah dijarah, kemungkinan oleh pasukan keamanan rezim sebelumnya.

Ia mengatakan bahwa setiap orang yang terpaksa meninggalkan Suriah atau tanah air mereka pasti merindukan sesuatu, dan kita merasakannya begitu tiba di sana. Secara kemanusiaan, sangat penting untuk mengalami hal ini secara langsung.
Pemutaran Film Dokumenter
Kunjungan istrinya membuat al-Beik mempertimbangkan kemungkinan untuk kembali pulang, tepat saat ia berada di Yamagata untuk memutar film dokumenternya.

Penonton di Jepang mengatakan film itu membuka mata mereka. Seorang penonton mencatat bahwa Al-Beik berupaya keras menunjukkan rasa hormat, untuk membuktikan bahwa mereka adalah manusia nyata, bukan sekadar label pengungsi atau pencari suaka.
Penonton lain menyatakan bahwa mereka merasakan pesan kuat: meski menghadapi kesulitan luar biasa, para pengungsi tetap bekerja sama dan berhasil bertahan untuk hari esok.
Ia menyebut bahwa dialog dengan penonton setelah pemutaran membantu proses pemulihannya, sambil mengakui masih banyak masalah yang harus ia selesaikan dalam hidupnya.

Panggilan dari Tanah Air
Bagian penting dari kunjungannya ke Jepang adalah lokakarya pembuatan film bagi anak-anak setempat. Ia membagikan pengalaman teknis dan proses kreatifnya, serta menasihati siswa agar tidak terpaku pada naskah kaku, karena hal-hal indah sering muncul saat proses penyuntingan.
Anak-anak muda yang ikut merasa terkesan. Salah satunya bercerita bahwa membuat film adalah tantangan besar dan merasa senang bisa berbincang langsung dengan pembuat film profesional.

Bagi Al-Beik, anak-anak di Yamagata menunjukkan jalan ke depan baginya. 'Saya mendapatkan obat saya dari Yamagata. Bersama para malaikat di sekitar saya, yaitu anak-anak yang merupakan masa depan Jepang, mereka adalah oksigen bagi saya,' ujarnya.
Ini tentang penyembuhan, membuat film dan menayangkannya untuk orang lain... dari Suriah hingga Jepang.
Dia mengatakan keinginannya yang terbesar adalah agar seluruh rakyat Suriah bisa mengatasi duka mereka dan menjalani hidup yang damai.

Di mana pun saya berada di dunia, saya membawa Damaskus bersama saya, kata al-Beik. Kita semua perlu kembali ke tempat kelahiran kita. Kita harus membangun diri dari awal karena saat ini Suriah belum memiliki struktur yang memadai.
Jutaan rumah hancur dan banyak orang menjadi pengungsi. Mereka perlu kembali. Mereka membutuhkan obat-obatan, sekolah, dan tempat tinggal. Sekarang saya merasa lebih kuat untuk pulang. Kita tangguh... kita bisa membangun kembali. Saya percaya pada rakyat Suriah.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.


