Presiden Sri Lanka Kunjungi Jepang, Perkuat Kerja Sama Ekonomi di World Expo Osaka
Presiden Anura Kumara Dissanayake mengunjungi Tokyo dan Osaka untuk memperdalam hubungan bilateral dan mempromosikan investasi bagi pemulihan ekonomi Sri Lanka. Dalam ajang World Expo Osaka, ia memamerkan komoditas unggulan seperti teh dan rempah-rempah demi mempererat kemitraan dengan Jepang.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Presiden Sri Lanka Kunjungi Jepang, Perkuat Kerja Sama Ekonomi di World Expo Osaka

Pesona Sri Lanka
Sri Lanka menjadi pusat perhatian di World Expo Osaka, saat Presiden Anura Kumara Dissanayake mempromosikan daya tarik budaya serta ekonomi negaranya.
Kami bersyukur atas kesempatan luar biasa ini untuk memamerkan produk unggulan kami yang tersohor di dunia seperti teh dan rempah-rempah. Mari kita perbarui komitmen demi masa depan dunia yang makmur dan harmonis, ujar Dissanayake.

Dukungan Restrukturisasi Utang
Hanya beberapa tahun lalu, Prospek Sri Lanka tampak jauh lebih suram.
Serangkaian kegagalan kebijakan fiskal yang diperburuk pandemi koronavirus membuat pemerintah gagal membayar utang pada 2022. Jepang, selaku kreditor terbesar kedua setelah Tiongkok, membantu Sri Lanka menyusun rencana restrukturisasi.
Dissanayake menyampaikan rasa terima kasih kepada Perdana Menteri Jepang Ishiba Shigeru saat kedua pemimpin bertemu di Tokyo pada 29 September.
Kedua negara kini siap mempererat hubungan, terutama melalui pembangunan ekonomi. Ishiba juga mengungkapkan rencana hibah drone buatan Jepang kepada Sri Lanka untuk pengawasan maritim dan penanggulangan bencana, demi memperkuat posisi strategis negara tersebut di kawasan.
Ishiba menekankan letak strategis Sri Lanka di Samudra Hindia. Ia menyatakan bahwa stabilitas serta pembangunan di negara tersebut sangat krusial, tidak hanya bagi Jepang yang berbagi jalur laut vital, tetapi juga bagi kawasan ekonomi Samudra Hindia–Afrika yang lebih luas sebagai motor penggerak pertumbuhan global.

Peluang Investasi Jepang
Dissanayake tengah berupaya menjalin kerja sama tidak hanya dengan pemerintah Jepang, tetapi juga dengan sektor swastanya.
Laporan Dana Moneter Internasional (IMF) pada Juli menyebutkan bahwa restrukturisasi utang Sri Lanka hampir rampung, sebuah perkembangan yang diharapkan dapat meningkatkan daya tarik bagi para investor.
Dissanayake menegaskan adanya peluang ekonomi besar bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ia menambahkan bahwa tenaga kerja terampil yang adaptif, akses luas ke pasar regional, serta keramahan masyarakat lokal menjadikan Sri Lanka pilihan investasi yang sangat layak.

Strategi Diplomasi yang Seimbang
Dissanayake juga berupaya memperluas jalur diplomatik dengan Tokyo.
Pemerintahan Sri Lanka sebelumnya sangat bergantung pada Tiongkok. Namun, saat pemerintah tidak mampu melunasi pinjaman, mereka terjebak dalam skema yang dikenal sebagai jebakan utang dan terpaksa menyerahkan operasional pelabuhan kepada Beijing.
Para pengamat menilai Dissanayake berupaya menempuh pendekatan yang lebih seimbang, mengingat persaingan pengaruh antara India dan Tiongkok di kawasan Asia-Pasifik. Ia mengunjungi India pada Desember tahun lalu, sebelum bertolak ke Tiongkok satu bulan kemudian.
Namun, menjaga keseimbangan di posisi yang sulit tersebut tetap menjadi tantangan tersendiri.
Arai Etsuyo dari Institute of Developing Economies, lembaga riset di bawah Japan External Trade Organization (JETRO), menyatakan bahwa Sri Lanka tidak lagi memberikan penekanan berlebihan pada Tiongkok. Ia meyakini pemerintah telah bertekad menjalankan strategi diplomasi seimbang, meski minimnya pengalaman diplomatik pemimpin saat ini memicu kekhawatiran mengenai masa depan.

Kebutuhan Ekspor yang Lebih Stabil
Jepang memberikan pinjaman yen untuk membantu Sri Lanka membangun infrastruktur bandara, termasuk terminal baru. Namun, para pakar menyebut negara tersebut perlu mengembangkan sektor yang lebih terdiversifikasi demi menjamin stabilitas ekonomi yang lebih kokoh.
Pariwisata merupakan salah satu industri utama Sri Lanka, tetapi pandemi koronavirus sempat membuat jumlah pengunjung merosot tajam. Meski dikenal akan teh dan rempah-rempahnya, ekspor komoditas tersebut saja tidak cukup untuk menopang perekonomian nasional.
Remitansi mata uang asing dan sektor pariwisata Sri Lanka sangat rentan terhadap gejolak ekonomi serta politik global, ujar Arai. Karena itulah, negara ini perlu mengembangkan sektor ekspor yang lebih stabil guna mengamankan aliran pendapatan valuta asing yang dapat diandalkan.

Ujian Diplomasi
Lokasi Sri Lanka menawarkan peluang besar untuk menarik investasi karena posisinya sebagai pusat logistik utama yang menghubungkan Asia Timur, Timur Tengah, dan Afrika.
Namun, untuk berkembang sebagai pusat regional, pemerintah harus menjaga stabilitas domestik dan menghindari krisis fiskal lainnya. Kemampuan diplomasi Dissanayake pun akan diuji saat ia menyeimbangkan kepentingan negaranya dengan Beijing, New Delhi, serta Tokyo demi memastikan keberhasilan jangka panjang Sri Lanka.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.
