Lewati ke konten utama
Berita.Jepang.org

Mengenang Mahasiswa Asia Tenggara: Korban Bom Atom Hiroshima yang Terlupakan

Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima mengangkat kisah mahasiswa Asia Tenggara yang menjadi korban bom atom saat menempuh studi delapan dekade silam. Warisan mereka kini dibagikan kembali untuk mengenang sisi lain tragedi Hiroshima yang jarang diketahui publik mancanegara.

NHK WORLD3 mnt

Bagikan Artikel

Pameran Jauh dari Rumah di Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima yang menampilkan sejarah korban bom atom.

Visual Utama

Mengenang Mahasiswa Asia Tenggara: Korban Bom Atom Hiroshima yang Terlupakan

Tutup
Pameran Jauh dari Rumah di Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima yang menampilkan sejarah korban bom atom.

Pemuda Cemerlang dari Asia Tenggara

Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima terus mencatatkan peningkatan jumlah pengunjung. Sepanjang tahun fiskal yang berakhir pada Maret lalu, lebih dari dua juta orang—sepertiganya merupakan wisatawan mancanegara—telah menyaksikan pameran tersebut secara langsung.

Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima
Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima

Salah satu pameran yang menarik perhatian bertajuk Jauh dari Rumah. Bagian ini menyoroti kisah para korban bom atom non-Jepang, termasuk Abdul Razak dari Malaysia yang kala itu tengah menempuh studi di universitas setempat.

Abdul Razak, yang saat itu berusia 20 tahun, merupakan salah satu mahasiswa asal Asia Tenggara di Hiroshima yang mendapatkan sponsor dari pemerintah Jepang.
Abdul Razak, yang saat itu berusia 20 tahun, merupakan salah satu mahasiswa asal Asia Tenggara di Hiroshima yang mendapatkan sponsor dari pemerintah Jepang.

Selama Perang Dunia Kedua, Angkatan Bersenjata Kekaisaran Jepang—yang kini telah dibubarkan—menduduki banyak negara di Asia Tenggara. Sebagai bagian dari program pembinaan pemimpin masa depan, Tokyo memilih pemuda-pemuda cerdas dari wilayah tersebut untuk belajar di Jepang. Razak merupakan satu dari 200 lebih mahasiswa dalam program ini.

Razak dan tujuh mahasiswa asing lainnya terpapar ledakan serta radiasi di Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Razak berhasil selamat, namun dua rekannya meninggal dunia.
Razak dan tujuh mahasiswa asing lainnya terpapar ledakan serta radiasi di Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Razak berhasil selamat, namun dua rekannya meninggal dunia.

Alunan Melodi dari Biola

Kurihara Meiko, penyintas berusia 99 tahun, masih ingat betul pertemuannya dengan Razak tak lama setelah pengeboman. Saat itu ia berusia 19 tahun dan tengah mencari ayahnya yang hilang, hingga tak sengaja berpapasan dengan Razak dan kawan-kawannya di halaman universitas.

Kurihara Meiko mengenang pertemuannya dengan Razak pasca-pengeboman.
Kurihara Meiko mengenang pertemuannya dengan Razak pasca-pengeboman.

Selama seminggu, ia tidur di alam terbuka di halaman kampus bersama Razak dan mahasiswa lainnya. 'Jangan khawatir, besok kamu bisa mencari ayahmu lagi,' ucap Razak untuk menyemangatinya, kenang Kurihara.

Saya sempat berkata padanya, 'Pasti sangat berat bagi kalian datang ke Hiroshima dan harus mengalami semua ini.' Namun, ia justru menghibur saya dengan jawaban bijak, 'Bukan kami yang paling menderita.'

Sebuah video yang diproduksi tahun lalu oleh kelompok masyarakat sipil di Hiroshima menggambarkan pengalaman Kurihara, termasuk momen ketika salah satu mahasiswa asing menemukan biola dan memainkannya di suatu malam.

'Meski bau asap dari jenazah yang dibakar di sekitar sana sangat menyengat, suara biola itu sungguh menghibur hati saya hingga meneteskan air mata,' kenangnya.

Kurihara ingin menyampaikan pesan bahwa para pelajar asing tersebut bukan sekadar korban yang menderita, melainkan sosok yang telah membantunya melewati masa-masa traumatis.

Video ini diangkat dari buku bergambar yang diilustrasikan oleh putri Kurihara.
Video ini diangkat dari buku bergambar yang diilustrasikan oleh putri Kurihara.

Langkah Akademisi Malaysia

Nurhaizal Azam Arif, seorang akademisi asal Malaysia, mengemban misi untuk menyebarluaskan kisah Kurihara dan para pelajar asing tersebut. Mantan mahasiswa internasional di Jepang ini kini mengajar di sebuah universitas di Hiroshima.

Azam mengaku terkejut saat pertama kali mengetahui adanya pelajar asing yang turut menjadi korban dalam tragedi pengeboman tahun 1945.

Nurhaizal Azam Arif, pakar bisnis internasional yang mendedikasikan waktu luangnya untuk meneliti kisah para pelajar asing korban bom atom Hiroshima.
Nurhaizal Azam Arif, pakar bisnis internasional yang mendedikasikan waktu luangnya untuk meneliti kisah para pelajar asing korban bom atom Hiroshima.

Menjelang peringatan 80 tahun pengeboman tersebut, Azam menggelar seminar bagi warga Malaysia di Hiroshima guna mendalami pengalaman para pelajar itu. Ia berharap peserta memahami urgensi di balik kisah-kisah mereka.

Salah satu peserta seminar mencatat bahwa Perdamaian tidak mengenal batas meskipun terdapat perbedaan keyakinan atau agama.
Salah satu peserta seminar mencatat bahwa Perdamaian tidak mengenal batas meskipun terdapat perbedaan keyakinan atau agama.

Kita bukan hanya mengenang tragedi perang, tapi juga merayakan keajaiban ikatan antarmanusia. Di tengah dunia yang masih terluka oleh berbagai konflik, persahabatan yang lahir dari malapetaka ini bukan sekadar ingatan, melainkan pesan bahwa di masa tergelap sekalipun, manusia bisa memilih cahaya, tuturnya.

Tanpa memandang asal-usul, semua orang menderita di bawah awan jamur bom atom. Sifat senjata nuklir yang tidak pandang bulu ini tetap menjadi ancaman nyata hingga hari ini.

Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB

Sumber Berita

Penerbit
NHK WORLD
Tanggal Sumber
Pranala Sumber

Video Sumber

Dengarkan Artikel

Putar versi audio langsung dari browser Anda.

Menyiapkan audio browser...

Kata Kunci

Jejak Topik

Komentar Pembaca

Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.