Mengenang Mahasiswa Asia Tenggara: Korban Bom Atom Hiroshima yang Terlupakan
Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima mengangkat kisah mahasiswa Asia Tenggara yang menjadi korban bom atom saat menempuh studi delapan dekade silam. Warisan mereka kini dibagikan kembali untuk mengenang sisi lain tragedi Hiroshima yang jarang diketahui publik mancanegara.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Mengenang Mahasiswa Asia Tenggara: Korban Bom Atom Hiroshima yang Terlupakan

Pemuda Cemerlang dari Asia Tenggara
Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima terus mencatatkan peningkatan jumlah pengunjung. Sepanjang tahun fiskal yang berakhir pada Maret lalu, lebih dari dua juta orang—sepertiganya merupakan wisatawan mancanegara—telah menyaksikan pameran tersebut secara langsung.

Salah satu pameran yang menarik perhatian bertajuk Jauh dari Rumah. Bagian ini menyoroti kisah para korban bom atom non-Jepang, termasuk Abdul Razak dari Malaysia yang kala itu tengah menempuh studi di universitas setempat.

Selama Perang Dunia Kedua, Angkatan Bersenjata Kekaisaran Jepang—yang kini telah dibubarkan—menduduki banyak negara di Asia Tenggara. Sebagai bagian dari program pembinaan pemimpin masa depan, Tokyo memilih pemuda-pemuda cerdas dari wilayah tersebut untuk belajar di Jepang. Razak merupakan satu dari 200 lebih mahasiswa dalam program ini.

Alunan Melodi dari Biola
Kurihara Meiko, penyintas berusia 99 tahun, masih ingat betul pertemuannya dengan Razak tak lama setelah pengeboman. Saat itu ia berusia 19 tahun dan tengah mencari ayahnya yang hilang, hingga tak sengaja berpapasan dengan Razak dan kawan-kawannya di halaman universitas.

Selama seminggu, ia tidur di alam terbuka di halaman kampus bersama Razak dan mahasiswa lainnya. 'Jangan khawatir, besok kamu bisa mencari ayahmu lagi,' ucap Razak untuk menyemangatinya, kenang Kurihara.
Saya sempat berkata padanya, 'Pasti sangat berat bagi kalian datang ke Hiroshima dan harus mengalami semua ini.' Namun, ia justru menghibur saya dengan jawaban bijak, 'Bukan kami yang paling menderita.'
Sebuah video yang diproduksi tahun lalu oleh kelompok masyarakat sipil di Hiroshima menggambarkan pengalaman Kurihara, termasuk momen ketika salah satu mahasiswa asing menemukan biola dan memainkannya di suatu malam.
'Meski bau asap dari jenazah yang dibakar di sekitar sana sangat menyengat, suara biola itu sungguh menghibur hati saya hingga meneteskan air mata,' kenangnya.
Kurihara ingin menyampaikan pesan bahwa para pelajar asing tersebut bukan sekadar korban yang menderita, melainkan sosok yang telah membantunya melewati masa-masa traumatis.

Langkah Akademisi Malaysia
Nurhaizal Azam Arif, seorang akademisi asal Malaysia, mengemban misi untuk menyebarluaskan kisah Kurihara dan para pelajar asing tersebut. Mantan mahasiswa internasional di Jepang ini kini mengajar di sebuah universitas di Hiroshima.
Azam mengaku terkejut saat pertama kali mengetahui adanya pelajar asing yang turut menjadi korban dalam tragedi pengeboman tahun 1945.

Menjelang peringatan 80 tahun pengeboman tersebut, Azam menggelar seminar bagi warga Malaysia di Hiroshima guna mendalami pengalaman para pelajar itu. Ia berharap peserta memahami urgensi di balik kisah-kisah mereka.

Kita bukan hanya mengenang tragedi perang, tapi juga merayakan keajaiban ikatan antarmanusia. Di tengah dunia yang masih terluka oleh berbagai konflik, persahabatan yang lahir dari malapetaka ini bukan sekadar ingatan, melainkan pesan bahwa di masa tergelap sekalipun, manusia bisa memilih cahaya, tuturnya.
Tanpa memandang asal-usul, semua orang menderita di bawah awan jamur bom atom. Sifat senjata nuklir yang tidak pandang bulu ini tetap menjadi ancaman nyata hingga hari ini.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.





