Lewati ke konten utama
Berita.Jepang.org

Langkah Diplomasi Awal Lee Jae-myung: Menyeimbangkan Hubungan Seoul dengan Tokyo dan Washington

Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung memulai debut diplomasi global dengan mengunjungi Jepang sebelum bertolak ke Amerika Serikat demi memperkuat kerja sama kawasan. Meski pertemuan dengan Perdana Menteri Ishiba Shigeru pada 23 Agustus dinilai sukses, sejumlah isu kritis tetap perlu diantisipasi di masa depan.

NHK WORLD5 mnt

Bagikan Artikel

Pertemuan diplomatik antara Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung dan Perdana Menteri Jepang Ishiba Shigeru di Tokyo.

Visual Utama

Langkah Diplomasi Awal Lee Jae-myung: Menyeimbangkan Hubungan Seoul dengan Tokyo dan Washington

Tutup
Pertemuan diplomatik antara Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung dan Perdana Menteri Jepang Ishiba Shigeru di Tokyo.

Perluasan Kerja Sama di Berbagai Bidang

Selain untuk menghadiri KTT global, presiden Korea Selatan yang baru dilantik biasanya memilih Amerika Serikat sebagai tujuan pertama kunjungan luar negeri. Namun, Presiden Lee yang menjabat sejak Juni lalu justru memilih singgah di Jepang dalam perjalanannya menuju Washington DC.

Tokyo bukan sekadar tempat transit, melainkan tujuan utama, dan Lee memanfaatkan waktu singkatnya di sana semaksimal mungkin.

Perdana Menteri Jepang Ishiba Shigeru bertemu dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung di Tokyo pada 23 Agustus.
Perdana Menteri Jepang Ishiba Shigeru bertemu dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung di Tokyo pada 23 Agustus.

Tujuan utama kunjungan ke Tokyo adalah untuk mempersiapkan pembicaraan di Amerika Serikat. Pertemuan terbatas antara Lee dan Perdana Menteri Ishiba Shigeru berlangsung sekitar satu jam, meski awalnya hanya dijadwalkan selama 20 menit.

Meski muncul kekhawatiran bahwa isu sejarah akan memicu ketegangan, Lee menjelaskan bahwa sebagian besar waktu justru dihabiskan untuk membahas kebijakan tarif Amerika Serikat. Dalam percakapan dengan wartawan di pesawat menuju AS, Lee menyebut Ishiba telah memberikan detail berharga mengenai negosiasi dengan Washington dan menjanjikan kerja sama berkelanjutan dalam urusan tarif.

Kunjungan Lee ke Tokyo juga dimaksudkan untuk menunjukkan semakin kuatnya hubungan Korea Selatan dan Jepang. Secara historis, Amerika Serikat sering kali merasa khawatir terhadap hubungan yang kerap tegang di antara kedua negara dalam aliansi trilateral tersebut.

Selama masa jabatannya, Barack Obama sempat mencoba menengahi Perdana Menteri Abe Shinzo dan Presiden Park Geun-hye. Kini, Lee membawa pesan untuk Trump bahwa Korea Selatan dan Jepang sedang berhubungan dengan baik.

Dalam jamuan makan malam di Tokyo, kedua pemimpin beserta istri menikmati jjimdak, hidangan ayam rebus pedas khas Korea dari Andong, kampung halaman Lee. Kari Jepang racikan Ishiba juga tersaji dalam menu, dan Lee berseloroh bahwa resepnya adalah informasi rahasia.

Pemimpin Jepang dan Korea Selatan bersama Ibu Negara Ishiba Yoshiko (kiri) dan Kim Hea-kyung seusai jamuan makan malam di Tokyo.
Pemimpin Jepang dan Korea Selatan bersama Ibu Negara Ishiba Yoshiko (kiri) dan Kim Hea-kyung seusai jamuan makan malam di Tokyo.

Lantaran singkatnya waktu persiapan, para pejabat awalnya mengira pertemuan ini hanya sekadar ramah tamah untuk menandai dimulainya kembali diplomasi ulang-alik. Namun, atas instruksi Lee, pernyataan pers bersama akhirnya dirilis untuk pertama kalinya dalam 17 tahun.

Lee pernah menjabat sebagai wali kota, gubernur, anggota parlemen, hingga pemimpin oposisi, namun ia minim pengalaman diplomatik. Latar belakang tersebut mungkin memberinya kebebasan untuk mengambil langkah-langkah non-konvensional.

Cho Jin-goo, Direktur Pusat Penelitian Jepang di Universitas Kyungnam, Korea Selatan, menduga Lee dipandu oleh staf dan penasihatnya. Wi Sung-lac, Penasihat Keamanan Nasionalnya, merupakan mantan diplomat yang sangat memahami seluk-beluk Amerika Serikat.

Langkah Diplomasi Awal Lee Jae-myung: Menyeimbangkan Hubungan Seoul dengan Tokyo dan Washington - visual artikel

Pujian Beruntun untuk Trump

Delegasi Korea Selatan merasa optimis saat bertolak dari Tokyo menuju Washington, DC. Namun, hanya beberapa jam sebelum jadwal pertemuan dengan Trump, sebuah unggahan di media sosial sang presiden memicu kegemparan.

Trump menulis bahwa sedang terjadi 'Pembersihan' atau 'Revolusi' di Korea Selatan, yang ia artikan sebagai sinyal bahwa warga AS tidak bisa berbisnis di sana.

Usai Lee memaparkan kondisi negaranya secara langsung, Trump menyebut pandangan sebelumnya sebagai kesalahpahaman. Media Korea menafsirkan unggahan tersebut sebagai taktik Trump untuk mengguncang delegasi dan mengamankan kendali di meja perundingan.

Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung dalam pertemuan tatap muka pertamanya dengan Presiden AS Donald Trump pada 25 Agustus.
Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung dalam pertemuan tatap muka pertamanya dengan Presiden AS Donald Trump pada 25 Agustus.

Lee menanggapi dengan menebar pesona dan melontarkan berbagai pujian bagi Trump. Ia memuji Ruang Oval yang baru direnovasi dengan nuansa emas sebagai simbol kemakmuran baru Amerika. Ia pun menyebut rekor tertinggi bursa saham New York sebagai bukti nyata terwujudnya slogan 'Make America Great Again'.

Lee menjuluki Trump sebagai juru damai dunia dan memintanya mewujudkan perdamaian di Semenanjung Korea, bahkan mengusulkan pembangunan 'Trump World' lengkap dengan lapangan golf di Korea Utara. Ia menambahkan, jika Presiden Trump adalah sang juru damai, maka ia siap menjadi penggeraknya.

Trump lantas menyatakan ingin memperluas dialog yang telah terjalin dengan pemimpin Korea Utara pada masa jabatan sebelumnya. Ia mengaku punya hubungan baik dengan Kim Jong Un dan berencana menemuinya tahun ini. Menjelang pertemuan tersebut, Lee mengatakan kepada wartawan bahwa gaya negosiasi Trump tercermin dalam bukunya yang terbit tahun 1987, 'The Art of the Deal'.

Lee didampingi para pemimpin bisnis Korea Selatan yang mengumumkan rencana investasi tambahan sebesar 150 miliar dolar di Amerika Serikat.

Langkah ini menambah investasi Korea Selatan sebesar 350 miliar dolar yang diumumkan saat Seoul menyetujui tarif 15 persen dari Trump. Pada hari terakhir kunjungannya, Lee meninjau galangan kapal di Philadelphia dan menyatakan bahwa proyek MASGA ('Make American Shipbuilding Great Again') akan membawa kemajuan bagi industri perkapalan kedua negara.

Topik Terlewat dan Rincian yang Terabaikan

Di balik keriuhan berita utama, belum ada kemajuan dalam rincian spesifik mengenai penerapan tarif bagi eksportir Korea Selatan. Kekhawatiran keamanan yang diharapkan Seoul untuk dibahas juga tidak tersentuh.

Masalah krusial yang masih tersisa adalah pembagian biaya pertahanan. Meski Lee menyatakan kesediaan untuk menambah kontribusi Seoul, besaran pastinya belum diputuskan.

Sebelum menjabat, Trump sempat menyebut Korea Selatan sebagai 'mesin uang' dan menyarankan agar negara tersebut memberikan kontribusi sebesar 10 miliar dolar setiap tahun untuk biaya pemeliharaan pasukan AS yang berpangkalan di sana. Angka itu merupakan lonjakan sembilan kali lipat dari jumlah saat ini.

Latihan militer gabungan AS dan Korea Selatan pada Maret 2025
Latihan militer gabungan AS dan Korea Selatan pada Maret 2025

Mengenai Pasukan AS di Korea, tidak ada pembahasan tentang fleksibilitas strategis atau pengurangan pasukan yang kabarnya diinginkan pihak AS. Fleksibilitas strategis mengacu pada izin bagi pasukan AS di Korea untuk menjalankan misi di luar semenanjung, dengan media Korea berspekulasi tentang kemungkinan situasi darurat di Taiwan.

Dalam permintaan yang tidak biasa, Trump juga mengungkapkan bahwa ia sempat bertanya apakah AS dapat mengakuisisi lahan yang digunakan oleh Pasukan AS di Korea.

Bagaimana dengan Tiongkok?

Masalah lain yang belum terjawab adalah bagaimana pemerintahan Lee akan menjalin hubungan dengan Tiongkok. Dalam pidatonya di Center for Strategic and International Studies, Lee menyatakan: Memang benar bahwa di masa lalu Korea Selatan mengikuti pendekatan 'keamanan dengan AS, ekonomi dengan Tiongkok', tetapi kami tidak bisa lagi mempertahankan sikap tersebut.

Rangkaian komentar tersebut mengindikasikan adanya pergeseran hubungan. Mengingat kendala yang dihadapi pemerintahan Yoon sebelumnya dengan Tiongkok, para pakar memperkirakan Lee akan menerapkan pendekatan yang lebih ramah terhadap Tiongkok. Sejauh ini, Lee menunjukkan diplomasi pragmatis dan praktis yang membuat arah hubungan dengan Tiongkok masih diselimuti ketidakpastian.

Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB

Sumber Berita

Penerbit
NHK WORLD
Tanggal Sumber
Pranala Sumber

Dengarkan Artikel

Putar versi audio langsung dari browser Anda.

Menyiapkan audio browser...

Kata Kunci

Jejak Topik

Komentar Pembaca

Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.