Melodi Perdamaian: Penala Hiroshima Hidupkan Kembali Piano Korban Bom Atom
Yagawa Mitsunori telah merestorasi tujuh piano yang selamat dari bom atom Hiroshima untuk menyebarkan pesan perdamaian ke berbagai belahan dunia. Penala berusia 73 tahun ini berkeliling membagikan kisah instrumen bersejarah tersebut guna menanamkan benih perdamaian di hati pendengarnya.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Melodi Perdamaian: Penala Hiroshima Hidupkan Kembali Piano Korban Bom Atom

Air Mata Pemilik Piano

Yagawa Mitsunori, penala berusia 73 tahun asal Hiroshima, telah menghidupkan kembali tujuh piano penyintas bom atom. Para pemilik aslinya, yang juga selamat dari ledakan, menyumbangkan piano tersebut kepada Yagawa setelah mengetahui dedikasinya merestorasi piano tua untuk organisasi kemasyarakatan. Mereka memercayakan instrumen bersejarah itu kepadanya untuk tujuan yang mulia.

Filosofi Yagawa adalah meminimalkan perbaikan, cukup agar piano-piano itu bisa kembali berdenting. Ia membiarkan bekas luka akibat ledakan tetap apa adanya, seraya menjelaskan bahwa mengubah detail tersebut sama saja dengan menghapus sejarah.

Penyetem piano yang orang tuanya juga penyintas bom atom ini mengaku bagian tersulit dari pekerjaannya adalah saat menerima instrumen dari pemilik aslinya. Ia bercerita bahwa sebagian besar pemilik menangis, seolah-olah harus berpisah dengan anggota keluarga tercinta.
Yagawa mengaku tak pernah bisa melupakan air mata mereka. Hal itulah yang menginspirasi misi hidupnya: menggunakan piano-piano Hiroshima ini untuk menyebarkan pesan perdamaian.

Membawa Instrumen Perdamaian
Dedikasi Yagawa sebagai aktivis anti-perang nuklir mendorongnya membeli truk empat ton guna membawa instrumen-instrumen besar tersebut. Selama dua dekade terakhir, ia dan piano-pianonya telah hadir di lebih dari 3.500 konser di seantero Jepang, bahkan hingga ke luar negeri.

Salah satu instrumen pernah dimainkan dalam peringatan 11 September di New York 15 tahun silam. Pada 2017, piano ini juga dihadirkan dalam upacara Hadiah Nobel Perdamaian di Oslo sebagai bentuk penghormatan bagi International Campaign to Abolish Nuclear Weapons.
Yagawa menghabiskan sekitar dua pertiga waktunya setiap tahun untuk berkeliling Jepang membawa piano-pianonya. Saat sedang di rumah, ia dan instrumen-instrumen yang ia sebut sebagai alter ego pribadinya itu menyambut kunjungan siswa dari seluruh penjuru negeri.

Seorang siswa yang memainkan salah satu piano di depan Kubah Bom Atom berkata bahwa tutsnya terasa lebih berat dibanding piano biasa. Ia merasa hal itu disebabkan oleh sejarah piano tersebut yang berhasil selamat dari ledakan bom atom.

Sang penala piano menyadari usianya kian senja, dan suatu hari nanti perjalanan jauh dengan truknya takkan mungkin lagi dilakukan. Yagawa telah membangun sebuah museum di kediamannya untuk menjaga piano-piano tersebut beserta kisahnya bagi generasi mendatang. Ia pun kini mencari rekan untuk membantu membawa pesannya melampaui batas negara.
Dukungan dari Pianis Amerika
Yagawa menemukan sosok yang sevisi pada diri Jacob Koller, pianis asal Amerika yang menetap di Jepang. Koller dikenal sebagai virtuoso jazz dengan total tayangan mencapai lebih dari 100 juta kali di YouTube. Mengagumi bakat sang musisi, Yagawa menyarankannya untuk tampil di Kubah Bom Atom pada 2021—sebuah ide yang sempat memicu kontroversi di kalangan warga lokal.

Yagawa mengenang, 'Ada yang berpesan agar piano penyintas bom atom ini tidak dimainkan oleh orang Amerika. Namun, saya rasa itu keliru. Baik Jepang maupun Amerika, kita semua memiliki keinginan yang sama untuk perdamaian.'
Koller menyebut kesempatan tersebut sebagai tanggung jawab besar. Ia mengaku peka terhadap kekhawatiran bahwa partisipasinya mungkin menyinggung perasaan masyarakat. Namun, sifat Yagawa yang ramah dan bersahabat membuatnya merasa tenang.

Sang pianis mengaku bahwa kesempatan berbincang dan mendengar kisah tentang piano tersebut sungguh menenangkannya. Ia menyadari tidak perlu mencemaskan setiap hal kecil atau terlalu pusing memikirkan pendapat orang lain; ia cukup bersantai, bermain, dan larut dalam suasana.
Koller benar-benar larut dalam permainan. Ia memainkan piano istimewa itu seolah-olah sedang mendekapnya. Pengalaman tersebut memantapkan niatnya untuk terus berpartisipasi dalam misi perdamaian Yagawa.

Trio Perdamaian
Piano, penyetem, dan pianis — trio yang disatukan oleh satu tujuan — telah berkeliling Jepang sejak saat itu. Mereka sempat tampil di hadapan 70.000 penonton di stadion nasional dalam acara kampanye penghapusan senjata nuklir. Mereka juga tampil pada peringatan 80 tahun serangan udara AS di Tokyo untuk menghormati 100.000 korban yang tewas dalam satu malam.

Koller mengungkapkan bahwa memainkan piano Yagawa telah menjadi 'perjalanan yang mengubah hidup' dan memberi dimensi baru bagi sisi artistiknya. Selain membawakan lagu-lagu populer, ia mulai menggubah karya orisinal dengan tema perang dan perdamaian.
Pada Februari, Koller merilis album berisi karya orisinal untuk mengenang para korban perang dan mendoakan perdamaian. Istrinya, Noriko, yang merupakan 'penggemar sekaligus kritikus terbaiknya', berperan besar dalam pembuatan album tersebut namun wafat akibat kanker sesaat sebelum peluncurannya.

Koller kini membesarkan kedua anaknya seorang diri. Ia mengaku dikuatkan oleh tekad untuk menjadi ayah terbaik, termasuk dalam mewariskan nilai-nilai luhur yang ia junjung tinggi.
Saya rasa penting untuk mengajari anak-anak tentang apa yang telah terjadi, bahwa kita perlu mengusahakan masa depan, dan betapa berharganya perdamaian dunia, tuturnya. Saya ingin melakukan yang terbaik agar mereka menghargai perdamaian dan tumbuh menjadi manusia yang baik nantinya.

Misi Perdamaian
Di suatu hari yang cerah pada bulan Mei, ketiganya tampil di sebuah taman di Tokyo. Dentuman unik dari piano penyintas perang tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi penonton. Ada yang tampak asyik menikmati irama saat lagu ceria berkumandang, sementara yang lain meneteskan air mata ketika alunan lembut menyentuh kalbu.

Seorang penonton menyebut acara bertema perdamaian ini sangat relevan mengingat konflik yang masih berkecamuk di dunia. Menurutnya, fakta bahwa Koller—seorang warga Amerika—memainkan piano ini untuk mempromosikan perdamaian menjadi poin yang sangat kuat. Rekan Amerikanya menambahkan bahwa ini terasa seperti memulihkan luka sejarah masa lalu.
Seorang penonton lain berpendapat bahwa mengingat sejarah perang antara Jepang dan Amerika, sungguh luar biasa melihat keduanya bekerja sama menyentuh hati banyak orang demi mewujudkan perdamaian dunia.
Piano Membutuhkan Pemain
Koller mengakui bahwa perang mungkin tak akan pernah hilang sepenuhnya, namun bukan berarti umat manusia tidak bisa berjuang demi dunia yang lebih baik.
Saya tahu Yagawa-san mendambakan kedamaian. Saya pun ingin hidup di tempat yang damai. Kami berbagi impian yang sama. Saya tidak ingin menyerah, dan menurut saya penting bagi siapa pun untuk tidak menyerah, tuturnya.

Yagawa menekankan bahwa peran Koller sangat krusial. Sebuah piano harus memiliki pemain, Dan Jacob memainkan instrumen ini dengan pemahaman mendalam. Itulah sebabnya ia mampu menyentuh penonton lewat suara piano tersebut, yang bagi Yagawa sangatlah berarti.
Trio ini—piano penyintas bom atom, sang penala, dan sang pemain—dijadwalkan tampil dalam 20 konser lagi tahun ini di Jepang dan sudah merencanakan agenda untuk tahun depan. Mereka berharap bisa tampil di luar Jepang, termasuk Amerika Serikat, guna terus menyebarkan pesan perdamaian melalui musik.
Untuk informasi selengkapnya, saksikan video ini: NEWSLINE 28 Mei 2025
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.




