Lewati ke konten utama
Berita.Jepang.org

Digitalisasi Pendidikan Jepang: Efisiensi Meningkat di Tengah Kekhawatiran Guru

Transformasi digital pendidikan di Jepang kini mencakup hampir seluruh siswa SD dan SMP dengan tingkat penggunaan rutin mencapai 90 persen di sekolah. Meski meningkatkan efisiensi pemberian tugas, para pendidik mulai mengkhawatirkan berkurangnya aktivitas menulis tangan yang kian terpinggirkan.

NHK WORLD3 mnt

Bagikan Artikel

Siswa sekolah dasar di Jepang menggunakan tablet digital di dalam kelas saat pelajaran.

Visual Utama

Digitalisasi Pendidikan Jepang: Efisiensi Meningkat di Tengah Kekhawatiran Guru

Tutup
Siswa sekolah dasar di Jepang menggunakan tablet digital di dalam kelas saat pelajaran.

Efisiensi Teknologi dan Pudarnya Tradisi Menulis Tangan

Di sebuah sekolah dasar di Kota Tama, Tokyo, siswa kelas lima memanfaatkan tablet dalam pelajaran bahasa Jepang. Pada salah satu sesi, mereka diminta menuliskan opini singkat dalam 20 karakter. Perangkat tersebut kemudian menampilkan seluruh jawaban di layar untuk memudahkan perbandingan.

Perangkat digital kini menjadi pemandangan rutin dalam aktivitas belajar-mengajar di berbagai sekolah di seluruh Jepang.
Perangkat digital kini menjadi pemandangan rutin dalam aktivitas belajar-mengajar di berbagai sekolah di seluruh Jepang.

Guru tersebut menjelaskan bahwa tablet memungkinkan pembagian materi secara instan, sehingga volume materi yang diberikan selama jam pelajaran bisa lebih banyak.

Penggunaan tablet juga memungkinkan siswa yang berhalangan hadir untuk tetap mengikuti kelas secara daring. Namun, para pendidik mulai menyadari adanya dampak negatif: berkurangnya intensitas menulis manual membuat sebagian siswa kesulitan menguasai keterampilan menulis dasar.

Seorang siswa kelas tiga yang rutin menggunakan tablet sejak awal tahun ajaran, menyerahkan tugas dengan ukuran huruf yang tidak beraturan dan hampir tanpa penggunaan aksara kanji.

Loncatan Teknologi Picu Kekhawatiran Orang Tua

Para orang tua turut menyuarakan kekhawatiran serupa. Seorang ibu mengungkapkan bahwa meski tablet sangat praktis, perangkat tersebut memangkas kesempatan anaknya untuk melatih tulisan tangan. Ia menyebut sang anak awalnya sudah kurang bersemangat belajar menulis karakter, dan metode berbasis tablet justru memperparah kondisi tersebut.

Sekolah Beradaptasi Saat Kemampuan Dasar Menurun

Merespons kekhawatiran tersebut, sekolah mulai kembali menekankan pentingnya menulis dengan pena dan kertas. Mulai April, para siswa diberi lebih banyak kesempatan untuk menulis secara manual. Dalam pelajaran bahasa Jepang, mereka kini meluangkan waktu 10 menit untuk menyalin kalimat dari buku teks ke buku catatan dengan tangan.

Siswa menyalin kalimat dari buku teks sebagai upaya meningkatkan keterampilan menulis tangan.
Siswa menyalin kalimat dari buku teks sebagai upaya meningkatkan keterampilan menulis tangan.

Kepala sekolah mengaku tidak menyangka akan muncul efek samping dari penggunaan tablet. Ia percaya bahwa meski aturan penggunaan tablet di kelas diperlukan, pendekatannya tidak boleh kaku. Menurutnya, sekolah harus terus beradaptasi sembari mengamati respons siswa terhadap teknologi tersebut.

Negara Pelopor Mulai Berbalik Arah

Sejumlah negara kini meninjau kembali ambisi awal mereka terkait pendidikan digital. Swedia, misalnya, telah membagikan tablet kepada siswa sekitar satu dekade lebih awal daripada Jepang. Namun, negara tersebut kini berbalik arah dengan mengurangi waktu layar di sekolah dan kembali mengandalkan materi berbasis kertas.

Otoritas di sebuah wilayah di Finlandia mencapai kesimpulan serupa. Setelah mensurvei siswa, guru, serta orang tua mengenai penggunaan perangkat digital sejak dini, mereka menyimpulkan bahwa buku teks kertas lebih efektif untuk mempelajari bahasa nasional. Alhasil, mereka mulai menghentikan materi digital secara bertahap dan kembali ke kertas.

Pakar Dorong Keseimbangan Digital dan Analog

Ishii Terumasa, pakar pendidikan dari Sekolah Pascasarjana Universitas Kyoto.
Ishii Terumasa, pakar pendidikan dari Sekolah Pascasarjana Universitas Kyoto.

Ishii Terumasa, profesor madya di Sekolah Pascasarjana Universitas Kyoto, memperingatkan bahwa perangkat digital secara alami memiliki daya pikat kuat yang menyita perhatian hingga berisiko memicu kecanduan. Ia mencatat bahwa arus informasi yang masif dapat membebani pikiran.

Sebaliknya, ia menyebut praktik analog seperti menulis tangan menawarkan manfaat nyata bagi siswa untuk belajar lebih mendalam sekaligus melatih keterampilan motorik. Menurutnya, hal terpenting adalah penguasaan metode digital maupun analog, serta kemampuan untuk beralih di antara keduanya sesuai tuntutan situasi.

Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB

Sumber Berita

Penerbit
NHK WORLD
Tanggal Sumber
Pranala Sumber

Dengarkan Artikel

Putar versi audio langsung dari browser Anda.

Menyiapkan audio browser...

Kata Kunci

Jejak Topik

Komentar Pembaca

Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.