Kazuo Ishiguro di Festival Cannes: Nostalgia Nagasaki dalam Adaptasi Film A Pale View Of Hills
Penulis pemenang Nobel Kazuo Ishiguro menghadiri pemutaran perdana film adaptasi novel debutnya yang mengeksplorasi memori masa kecil dan trauma bom atom Nagasaki. Dibintangi Hirose Suzu, karya ini menjadi jembatan emosional antara masa lalu yang rapuh dan kekuatan seni masa kini.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Kazuo Ishiguro di Festival Cannes: Nostalgia Nagasaki dalam Adaptasi Film A Pale View Of Hills

Ishiguro lahir di Nagasaki pada 1954 dan pindah ke Inggris bersama keluarganya saat berusia 5 tahun. Dua dekade kemudian, ketika menulis novel debutnya, A Pale View of Hills, ia terinspirasi oleh kenangan masa kecilnya tentang Nagasaki yang mulai memudar. Buku ini secara longgar didasarkan pada ingatannya sendiri serta pengalaman ibunya, Shizuko, yang berada di Nagasaki saat Amerika Serikat menjatuhkan bom atom pada 1945.
Novel ini mengisahkan Etsuko, seorang penyintas pengeboman yang kemudian pindah ke Inggris. Atas permintaan salah satu putrinya, ia kembali menelusuri kenangan menyakitkan dari masa-masa pascaperang di Nagasaki.

Saat pemutaran di Cannes bersama sutradara Ishikawa Kei dan para pemeran lainnya, Ishiguro berseloroh bahwa film ini didasarkan pada buku yang ditulisnya saat berusia 25 tahun. Ia menyebutnya sebagai buku yang sangat buruk dan merupakan karya pertamanya. Namun, ia menambahkan bahwa sejarah perfilman mencatat banyak buku buruk yang justru menghasilkan film luar biasa.

Komentar berikut, yang diambil dari percakapan dengan Ishiguro, telah disunting agar lebih ringkas dan jelas.

Novel ini kini berusia 45 tahun dan merupakan karya pertama saya. Saat itu, saya belum tahu cara menulis novel. Sejujurnya, sekarang saya merasa agak malu melihatnya kembali. Jadi, jangan menganggap ini sebagai karya penulis berpengalaman; ini adalah novel garapan pemuda berusia 25 tahun. Namun, mungkin karena alasan itulah buku ini memiliki ikatan khusus bagi saya. Terlebih lagi, melalui buku inilah saya berupaya melestarikan perasaan dan kenangan saya tentang Nagasaki.
Kota Kelahiran

Pada 2017, saat juri menganugerahkan Hadiah Nobel Sastra kepada Ishiguro, mereka memuji karyanya karena berhasil menyingkap jurang di balik ilusi keterhubungan kita dengan dunia. Kerapuhan ini, yang kerap dijelajahi sang penulis melalui tema ingatan dan kelupaan, menjadi inti dari novel pertamanya.
Saat memasuki usia pertengahan 20-an, ingatan-ingatan ini mulai pudar. Saya berpikir, jika saya membangun kembali dunia itu dalam sebuah novel, kenangan tersebut akan aman. Saya tidak mengambil cerita ibu saya secara langsung, namun tepat sebelum saya mulai menulis, ia merasa penting untuk mewariskan ingatan pribadinya tentang masa-masa itu kepada saya—karena saya generasi yang lebih muda dan mulai menulis cerita. Saya sempat mencatat kenangannya dalam cerita-cerita pendek; itu adalah momen krusial dalam karier menulis saya. Namun, akhirnya saya memutuskan untuk tidak memasukkan ingatan pribadinya ke dalam novel. Rasanya terlalu personal, terlalu intim. Meski begitu, kami berdua tahu bahwa novel pertama saya berakar dari percakapan yang kami jalin selama dua tahun sebelumnya.
Hal-Hal Kecil
Dari sang ibu, Ishiguro belajar bahwa perang bukan sekadar konflik besar yang penuh kekerasan. Perang juga merasuk ke dalam relung terkecil kehidupan sehari-hari.

Karier menulis saya dalam banyak hal berakar dari kisah-kisah ibu saya. Sering kali, percakapan itu terasa menyesakkan. Hal itu berlangsung selama kurang lebih dua tahun. Saya bisa merasakan beliau enggan bercerita, dan terkadang saya pun takut mendengar. Namun, entah mengapa kami merasa harus membicarakannya. Tidak melulu soal trauma; ada pula kisah tentang teman dan kehidupan lama yang tiba-tiba terenggut oleh peristiwa dunia. Ini menjadi pelajaran berharga bahwa perang bukan sekadar peristiwa besar di film atau berita. Saya belajar memaknai perang lewat keseharian ibu yang sangat bersahaja—mulai dari hal kecil hingga yang paling mengerikan.
Dalam adaptasi film 'A Pale View of Hills', sosok Etsuko muda bertanya kepada suaminya: apakah sang suami akan tetap menikahinya jika dia terpapar bom atom? Dialog ini menyinggung diskriminasi yang dialami para penyintas bom atom di Jepang yang kerap dikucilkan masyarakat—sebuah topik yang tidak dieksplorasi secara gamblang dalam novel Ishiguro.

Sutradara Ishikawa Kei menjelaskan kepada NHK bahwa timnya memutuskan untuk menyertakan adegan tersebut agar penonton masa kini dapat menoleh ke belakang dan memahami pergulatan sosial yang terjadi di era tersebut.

Ishiguro pun sepakat bahwa adegan tersebut merupakan tambahan yang krusial.
Saat menulis cerita itu, saya cukup memberikan sedikit kiasan dan orang-orang sudah mengerti. Saat itu, warga Britania Raya sangat mencemaskan pecahnya perang nuklir dengan Uni Soviet. Mereka begitu sadar akan bahaya radiasi, sehingga singgungan tipis saja sudah cukup. Tentu bagi generasi sekarang, dampak ledakan nuklir harus diperjelas lebih jauh. Ini adalah upaya menceritakan kembali kisah tersebut untuk generasi masa kini. Di peringatan ke-80 bom atom dan Perang Dunia Kedua ini, sangat penting bagi kita untuk menjaga agar kenangan ini tetap relevan bagi kaum muda. Kita seolah harus 'mengemas ulang' memori dari generasi orang tua saya. Bagaimana kita meyakinkan anak-anak bahwa ini adalah sejarah krusial yang berkaitan erat dengan hidup mereka dan dunia yang akan mereka bangun?
80 Tahun Berlalu
Tak kalah penting, Ishiguro menekankan perlunya mencatat bagaimana umat manusia bangkit dari puing peperangan demi membangun perdamaian, meski belum sempurna.

Secara ajaib kita berhasil menjaga semacam perdamaian selama 80 tahun terakhir. Saya rasa ada upaya luar biasa di baliknya. Itulah mengapa saya khawatir tahun 2025 menjadi momen yang berbahaya; banyak institusi besar yang dibentuk pasca-Perang Dunia Kedua untuk menjaga kedamaian — terutama Perserikatan Bangsa-Bangsa, tatanan ekonomi IMF dan Bank Dunia, serta penegakan hak asasi manusia — kini mulai dipertanyakan nilainya, bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa kian dilemahkan. Kita seolah lupa alasan dasar institusi-institusi ini didirikan. Dahulu, orang sadar bahwa dunia takkan selamat dari perang dunia berikutnya; umat manusia akan musnah. Menurut saya ini masa yang sangat rawan karena kita telah menikmati damai begitu lama sampai banyak yang mengira kondisi ini bersifat permanen.
Seni sebagai Titik Temu
Ishiguro menyatakan bahwa saat berbagai lembaga global penting kian sering diserang, ia berharap sastra, film, dan karya seni lainnya mampu menjadi wadah pertemuan bagi mereka yang ingin membangun serta memelihara perdamaian.

Mampukah seni, seperti film atau sastra, menjaga perdamaian? Saya ingin mengiyakannya, namun saya tersadar bahwa pada era 1930-an, Jerman kemungkinan besar adalah negara dengan industri film paling maju. Para sineas terhebat ada di sana, namun itu tetap tak mampu menghentikan bangkitnya kekuasaan Hitler. Di dunia sastra, novelis besar seperti Tolstoy, Dostoyevsky, Chekhov, dan Turgenev tak berdaya membendung pergeseran Revolusi Rusia menuju rezim Stalin yang penuh penderitaan. Tentu naif jika kita menganggap penulis, sineas, atau musisi hebat bisa menjaga perdamaian atau menghentikan fasisme sendirian. Namun, saya percaya bahwa pada tingkat personal, sastra dan film sangat ampuh menembus sekat budaya. Saya pertama kali ke Cannes 31 tahun silam sebagai juri festival. Saat itulah saya pertama kali menonton karya sutradara Iran, Abbas Kiarostami. Sebelum itu, saya buta soal kehidupan nyata di Iran. Yang saya tahu hanyalah stigma tentang penjahat, penyanderaan, dan aksi-aksi mengerikan. Lalu saya tersadar bahwa mereka hanyalah manusia biasa yang tinggal di sana dengan beragam pemikiran. Sejak itu, saya jadi penggemar berat sinema Iran. Begitu pemahaman ini lahir, menjadi sulit bagi kita untuk menjelek-jelekkan seluruh bangsa atau mengobarkan perang. Saya rasa sastra dan film kini telah mendunia, dan ini positif karena setidaknya kita berada dalam percakapan yang sama. Kita boleh tidak sepakat atau beda pandangan, namun yang terpenting adalah keterlibatan kita semua dalam dialog tersebut. Bagi saya, seni, budaya, dan sastra adalah ruang pertemuan yang indah, meski di dalamnya kita mungkin saling berselisih atau berdebat.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.



