Ilmuwan Berpacu Melawan Resistansi Obat: Ancaman Global Menuju 2050
Resistansi antimikroba atau AMR diprediksi menyebabkan lebih dari 39 juta kematian pada 2050 jika tidak ada tindakan lebih lanjut. Ilmuwan dari Jepang dan Inggris kini bekerja sama mencari solusi di tengah tantangan penggunaan antibiotik berlebihan yang tidak efektif melawan virus.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Ilmuwan Berpacu Melawan Resistansi Obat: Ancaman Global Menuju 2050

Ancaman Penggunaan Antibiotik Berlebihan
Dr. Tamura Tsuyoshi sering menangani pasien di kliniknya di Tokyo yang datang dengan keluhan flu biasa. Ia tidak meresepkan antibiotik karena obat tersebut tidak mempan melawan virus, namun beberapa pasien tetap memintanya.
Ada pasien yang merasa lebih tenang setelah mengonsumsi antibiotik, tuturnya. Ia menambahkan bahwa dirinya sulit menolak permintaan itu kecuali jika sudah benar-benar memastikan pasien tidak mengalami infeksi bakteri.

Tamura melakukan tes untuk mengidentifikasi penyebab penyakit pasien demi menentukan perawatan terbaik. Ia berupaya keras menghindari pemberian resep antibiotik yang tidak perlu.
Bakteri terus berevolusi: mereka mengubah membran untuk menghalangi obat, mengeluarkan obat dari sel, atau mengubah target agar antibiotik tidak lagi manjur. Penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak tepat mempercepat proses ini, menjadikan AMR sebagai masalah global.
Fondasi Kedokteran Modern
Dr. Matsunaga Nobuaki, pakar AMR di Japan Institute for Health Security, memperingatkan bahwa jika antibiotik kehilangan efektivitasnya, dampaknya akan sangat luas.

Masyarakat perlu menyadari bahwa antibiotik adalah infrastruktur di balik seluruh perawatan medis modern, tuturnya. Jika obat ini tidak lagi mempan, pasien kanker akan sangat berisiko, bukan hanya karena kankernya, melainkan juga akibat infeksi menular. Selain itu, dokter perlu mempertimbangkan risiko bakteri resistan saat melakukan operasi.
Pasien yang menjalani operasi rutin biasanya diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi, termasuk ibu yang melahirkan melalui operasi caesar. Pasien kanker yang sistem kekebalannya melemah akibat kemoterapi pun berada dalam risiko besar.
Pengembangan Antibiotik Baru
Meski penggunaan antibiotik secara tepat sangat penting untuk mengatasi AMR, pengembangan obat baru juga diperlukan guna mengganti antibiotik yang sudah tidak efektif. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, masalah ini sangat mendesak.
Lembaga penelitian di Jepang dan Inggris kini bekerja sama untuk mencoba menjawab tantangan ini.
Dr. Alicia Demirjian, spesialis penyakit menular dari Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UK Health Security Agency), mengunjungi Jepang pada Februari lalu. Ia menyebut Jepang, yang merupakan pusat kekuatan medis pada era 1980-an, memiliki potensi untuk merebut kembali posisi tersebut.

'Saya rasa kita bisa berpijak pada penelitian ilmiah yang telah dilakukan sebelumnya,' ujarnya. 'Publik menyadari bahwa ada ilmuwan-ilmuwan Jepang yang sangat kompeten untuk meneruskan upaya ini. Hal ini membangkitkan kembali kesadaran bahwa AMR dan penyakit menular adalah isu krusial, dan kita tahu Jepang mampu menanganinya.'

Matsunaga dan Demirjian mengunjungi berbagai institusi di Jepang yang berpotensi membawa perubahan, termasuk Universitas Kitasato di Tokyo.
Laboratorium di sana telah mengumpulkan sampel tanah dari seluruh penjuru Jepang dan mengisolasi ratusan mikroorganisme guna mencari kandidat obat baru. Saat ini, kolaborasi dengan Universitas Warwick di Inggris sedang berjalan.

Rektor Universitas Kitasato, Sunazuka Toshiaki, menyatakan bahwa meski penelitian dasar terus dilakukan, menemukan senyawa baru yang potensial merupakan proses yang panjang dan sulit.
'Proyek ini menawarkan peluang besar bagi kami, dan saya rasa kita bisa menjalin hubungan yang saling menguntungkan,' ujarnya mengenai kerja sama tersebut.
Sektor swasta pun turut terlibat. Perusahaan farmasi Shionogi merupakan pengembang salah satu antibiotik terbaru untuk melawan bakteri kebal obat. Obat tersebut mendapat persetujuan di Amerika Serikat pada 2019. Berkat jaminan keamanan dan efikasinya, antibiotik ini kini telah digunakan di 26 negara dan wilayah.
Sawada Takuko, Wakil Pimpinan Shionogi, menjelaskan kepada Matsunaga dan Demirjian bahwa banyak perusahaan di dunia tidak lagi mengembangkan antibiotik karena dianggap tidak menguntungkan secara finansial.

Sawada mencatat bahwa sejumlah perusahaan obat baru mengalami kebangkrutan meski telah sukses mengembangkan dan memasarkan produk, sebuah fenomena yang berisiko mematikan semangat kemajuan riset.
Jika peneliti muda melihat kondisi seperti itu, mengapa mereka harus memilih bidang penyakit menular untuk penelitian mereka? tanyanya.
Sawada mendesak dukungan pemerintah yang lebih besar guna menjaga keberlangsungan pengembangan antibiotik baru.

Tantangan Pasar
Di negara-negara seperti Jepang dan Inggris, pemerintah mulai mengalokasikan dana bagi produksi obat-obatan baru untuk menanggulangi resistansi antimikroba atau AMR.
Jepang menginvestasikan 1,3 miliar yen atau lebih dari 9 juta dolar AS setiap tahun sebagai insentif bagi perusahaan yang meluncurkan obat-obatan untuk menargetkan jenis bakteri kebal obat tertentu ke pasaran.
Proses memperkenalkan antibiotik baru — serta menyimpannya untuk digunakan pada waktu yang tepat — merupakan prosedur yang panjang dan mahal. Penggunaan obat-obatan baru secara berlebihan justru akan memperburuk masalah yang sudah ada.
Meningkatkan Kesadaran
Dalam lokakarya yang dipandu oleh Matsunaga dan Demirjian, para peserta berdiskusi tentang cara meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman AMR.
Saya rasa kita semua kini punya pekerjaan rumah, ujar Demirjian. Kita harus kembali ke organisasi masing-masing, melanjutkan upaya advokasi yang diperlukan, dan terus berkomunikasi secara berkala agar kita bisa terus memajukan upaya tersebut.

Menekan Angka Kematian Akibat AMR
Estimasi jumlah kematian terkait AMR mencapai hampir lima juta pada tahun 2019. Tahun lalu, para pemimpin dunia di Perserikatan Bangsa-Bangsa berkomitmen untuk mengurangi angka tersebut sebesar 10 persen pada tahun 2030.
Saat ini, WHO mendorong setiap negara untuk menyusun dan menerapkan rencana aksi AMR masing-masing. Namun, negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah kesulitan mendanai inisiatif tersebut, serta berjuang mendapatkan alat tes dan obat-obatan yang tepat. Sanitasi yang buruk semakin memperparah kondisi ini, menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan bakteri kebal obat.
AMR sempat dijuluki sebagai pandemi senyap. Kini, banyak peneliti mulai meninggalkan istilah tersebut karena ancaman ini telah menjadi krisis mendesak dengan dampak yang sangat serius.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.
