Rumor Bencana Viral Juli 2025: Berita Bohong yang Memukul Pariwisata Jepang
Prediksi bencana dahsyat pada 5 Juli 2025 yang bersumber dari manga dan diamplifikasi ribuan video media sosial telah memicu kecemasan massal. Dampak hoaks digital ini kini dirasakan nyata oleh industri pariwisata Jepang seiring dengan menurunnya jumlah pengunjung.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Rumor Bencana Viral Juli 2025: Berita Bohong yang Memukul Pariwisata Jepang

Rumor yang Berawal dari Manga
Rumor yang memprediksi bencana dahsyat di Jepang pada 5 Juli 2025 menyebar luas di internet, dipicu oleh media sosial dan para kreator konten sensasional.
Klaim tersebut bermula dari sebuah manga Jepang yang mengisahkan ramalan tsunami melalui mimpi. Sejumlah YouTuber yang dikenal sering membesar-besarkan rumor tak berdasar kemudian memproduksi lebih dari 1.400 video, yang menambah keresahan dengan narasi tambahan seperti letusan gunung berapi atau jatuhnya meteorit. Secara kolektif, video-video ini telah ditonton lebih dari 100 juta kali.
Rumor yang Menembus Batas Bahasa dan Geografi
Narasi ini segera menyebar hingga ke luar Jepang. Setidaknya 200 video berbahasa Mandarin yang mengulang klaim tersebut telah menarik lebih dari 50 juta penonton. Konten serupa juga muncul dalam bahasa Vietnam dan Thailand.


Gempa bumi di Myanmar pada 28 Maret turut memperkeruh suasana. Tak lama kemudian, otoritas Jepang merilis estimasi skenario terburuk terbaru mengenai potensi gempa megathrust di Palung Nankai.
Kedutaan Besar Tiongkok di Tokyo kemudian merilis imbauan agar warga negaranya mengatur rencana perjalanan dan studi di Jepang dengan aman, serta berhati-hati saat membeli properti.
Beberapa media Hong Kong mengaitkan pengumuman itu dengan rumor bencana besar yang akan datang, sehingga memicu kecemasan berlebih terhadap aktivitas seismik di Jepang.
Pemerintah Jepang menegaskan bahwa perkiraan skala gempa ini bertujuan membantu warga bersiap menghadapi skenario terburuk guna meminimalkan dampak, dan bukan merupakan sebuah prediksi pasti.
Kecemasan di Hong Kong
Namun di Hong Kong, rasa takut telah telanjur mengakar dan memukul sektor krusial bagi pariwisata Jepang tersebut.
Satu pasangan yang biasanya berwisata ke Jepang lebih dari tiga kali setahun mengaku khawatir akibat rumor bencana ini, sehingga mereka tidak merencanakan perjalanan dalam waktu dekat.
Dampaknya meluas ke seluruh industri perjalanan. Sebuah biro perjalanan di Hong Kong melaporkan jumlah wisatawan ke Jepang selama liburan musim semi merosot hingga separuh dibanding tahun lalu.

Direktur Pelaksana Yuen Chun Ning mengatakan para pelanggannya kini lebih memilih destinasi lain, seperti Australia atau UEA, sehingga pesanan perjalanan ke Jepang untuk musim panas dan periode berikutnya menjadi sangat minim.
Yuen mengaku baru kali ini ia melihat pelanggannya mengambil keputusan nyata hanya berdasarkan sebuah ramalan.

Demi meyakinkan para pelancong, biro perjalanan tersebut telah menawarkan promosi baru, termasuk potongan harga dan jaminan pengembalian dana jika gempa bumi besar melanda Jepang sebelum keberangkatan. Namun, upaya ini belum cukup kuat untuk membalikkan tren penurunan tersebut.
Turbulensi di Sektor Pariwisata
Di Prefektur Tokushima, Jepang bagian barat, pemerintah daerah dan operator wisata terkejut melihat betapa cepatnya kekhawatiran di dunia maya menjelma menjadi kerugian finansial yang nyata.

Rute penerbangan reguler yang menghubungkan Hong Kong dan Tokushima baru diluncurkan November lalu, dan otoritas setempat sempat menaruh harapan besar pada lonjakan jumlah wisatawan mancanegara.
Sebaliknya, pihak maskapai telah mengumumkan pemangkasan jadwal dari tiga menjadi hanya dua penerbangan pulang-pergi mingguan mulai bulan depan.
Pejabat prefektur menengarai penurunan tajam permintaan ini disebabkan oleh penyebaran rumor bencana yang tidak berdasar serta ketidakpastian ekonomi global.
Pemangkasan serupa juga diberlakukan pada rute yang menghubungkan Hong Kong dengan kota-kota lain di Jepang, termasuk Sendai, Fukuoka, dan Sapporo.
Kesiapsiagaan di Tengah Isu Tak Berdasar
Sekiya Naoya, profesor di sekolah pascasarjana Universitas Tokyo, menegaskan bahwa rumor tersebut tidak memiliki dasar ilmiah dan sekadar mengulang ketakutan tak berdasar dari masa lalu.

Ia menjelaskan bahwa dengan sains saat ini, belum ada cara untuk memprediksi secara akurat kapan dan di mana gempa bumi akan terjadi.
Sekiya menambahkan bahwa seandainya gempa benar-benar melanda Jepang pada bulan Juli, hal itu tidak membuktikan kebenaran rumor tersebut—melainkan murni sebuah kebetulan.
Sekiya menyatakan bahwa meski Jepang harus senantiasa siap menghadapi bencana alam, termasuk gempa besar, penyebaran rumor tanpa dasar hanya akan memicu ketakutan yang tidak perlu. Ia mencatat bahwa aktivitas seismik belakangan ini, termasuk gempa besar di Semenanjung Noto pada Januari tahun lalu, telah meningkatkan kecemasan publik.
Hal terpenting, menurutnya, adalah membangun ketangguhan: Alih-alih mengeklaim tidak akan ada bencana di Jepang, kita seharusnya bisa menunjukkan kepada dunia bahwa kita kuat dan siap bertindak jika bencana melanda.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.




