Lonjakan Siswa Asing di Jepang: Kebutuhan Kelas Bahasa Capai Rekor Tertinggi
Jumlah siswa sekolah negeri di Jepang yang membutuhkan pelajaran bahasa Jepang mencapai rekor 84.700 orang, meningkat hampir dua kali lipat sejak 2016. Pemerintah daerah kini berjuang keras untuk mengimbangi lonjakan permintaan tersebut seiring meningkatnya populasi warga asing yang menetap di Jepang.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Lonjakan Siswa Asing di Jepang: Kebutuhan Kelas Bahasa Capai Rekor Tertinggi

Permintaan Kelas Bahasa Melonjak Tajam
Pada 25 Mei, panel ahli Kementerian Pendidikan Jepang menyusun draf laporan yang bertujuan untuk memperbaiki lingkungan pendidikan bagi siswa asing.

Menurut kementerian, lebih dari 84.700 siswa di sekolah negeri membutuhkan pelajaran bahasa Jepang pada tahun ajaran terakhir hingga Maret lalu. Angka ini mencetak rekor tertinggi dan telah meningkat hampir dua kali lipat dalam sembilan tahun sejak tahun ajaran 2016.
Pemerintah Daerah Berupaya Mengimbangi Lonjakan
Distrik Adachi di Tokyo merupakan salah satu wilayah yang mengalami lonjakan ini. Survei terbaru menunjukkan bahwa hampir 600 siswa di distrik tersebut membutuhkan pelajaran bahasa Jepang. Mereka berasal dari berbagai belahan dunia, termasuk Tiongkok, Mongolia, dan Filipina.
Hambatan utama bagi para siswa ini adalah mengejar ketertinggalan dari teman sekelas yang sudah mahir berbahasa Jepang. Oleh karena itu, pihak distrik mengirimkan tutor ke sekolah dasar sesuai kebutuhan dan bekerja sama dengan kelompok sukarelawan yang membuka kelas bahasa Jepang sepulang sekolah.

Adachi juga mendirikan Ruang Belajar Bahasa Jepang pada 2020 yang ditujukan bagi siswa SMP asing. Mereka mendapatkan dispensasi dari beberapa mata pelajaran agar bisa fokus mempelajari bahasa Jepang di pusat-pusat belajar ini selama beberapa hari dalam seminggu.
Akibat tingginya permintaan, salah satu pusat pembelajaran tersebut menampung lebih dari 60 siswa pada tahun fiskal lalu. Sebagai hasilnya, distrik itu membuka lokasi baru di dekatnya bulan lalu.
Upaya Gigih
Siswa dapat mulai belajar kapan saja sepanjang tahun. Osakabe Tetsuya, manajer di salah satu pusat tersebut, menyebutkan bahwa salah satu kendala utamanya adalah tingkat kemahiran bahasa Jepang yang sangat bervariasi pada setiap siswa.
Ia mengungkapkan beberapa siswa hanya bisa membaca aksara hiragana, sementara yang lain sudah bisa membaca hiragana dan katakana namun belum mampu berkomunikasi dasar. Ia menekankan bahwa pengajar di pusat tersebut harus menyesuaikan materi dengan tingkat kemampuan tiap siswa.

Osakabe menuturkan bahwa sebelumnya tidak ada panduan mengenai jenis buku teks atau kurikulum yang harus digunakan. Ruang belajar ini awalnya berjalan sepenuhnya dengan metode coba-coba, dan ia berharap pedoman resmi segera tersedia.
Ia menambahkan bahwa meski menghadapi berbagai tantangan, ia berharap fasilitas ini dapat membantu para siswa masuk ke sekolah menengah atas dan lebih mudah beradaptasi dengan masyarakat Jepang.
Kelas Persiapan bagi Pendatang Baru
Ruang belajar khusus menjadi salah satu solusi yang diambil pemerintah daerah untuk mendukung pembelajaran bahasa. Panel ahli kementerian pendidikan menyatakan dalam draf laporannya bahwa kelas bahasa memang kunci utama, namun tidak akan cukup jika berdiri sendiri. Panel tersebut mendesak pemerintah daerah untuk mendirikan kelas persiapan bagi anak-anak yang baru tiba dalam skala nasional.

Kelas persiapan ini terpisah dari kelas sekolah reguler. Program ini memungkinkan anak-anak mempelajari dasar-dasar bahasa Jepang serta mengenal kebiasaan sekolah yang mungkin terasa asing, seperti tradisi makan siang bersama, kegiatan piket kebersihan oleh siswa, hingga berbagai acara sekolah.
Beberapa pemerintah daerah sebenarnya sudah memiliki kelas-kelas semacam ini, namun belum ada standar nasional yang seragam. Panel tersebut pun mendesak pemerintah pusat untuk menciptakan sebuah model acuan serta memberikan dukungan finansial agar otoritas daerah di seluruh Jepang mampu menyediakan program ini.
Solusi Atasi Kekurangan Guru
Bagi pemerintah daerah, tantangan lainnya adalah menemukan cukup banyak guru yang terampil di bidang ini.
Dahulu, anak-anak asing sebagian besar tinggal di wilayah perkotaan mengikuti orang tua mereka, namun kini kondisinya telah berubah. Kelangkaan tenaga kerja akibat penurunan populasi dan penuaan penduduk telah memicu kebutuhan akan pekerja asing di seluruh penjuru Jepang.
Di daerah pedesaan, jumlah guru yang terlatih untuk mengajar bahasa Jepang sebagai bahasa asing atau membantu anak-anak beradaptasi di lingkungan baru mereka cenderung jauh lebih sedikit.
Pengajaran bahasa Jepang biasanya ditangani oleh guru berlisensi. Dalam draf laporannya, panel tersebut menyatakan bahwa pelatihan guru di universitas harus mencakup materi tentang cara mendidik anak-anak asing.
Laporan itu juga mengusulkan agar otoritas pendidikan menerapkan kerangka kerja yang memungkinkan tenaga luar non-lisensi untuk mengajar sebagai instruktur paruh waktu, asalkan memenuhi kriteria tertentu.
Pengembangan Karier Siswa
Data kementerian pendidikan menunjukkan bahwa siswa asing yang membutuhkan kelas bahasa Jepang saat ini memiliki angka putus sekolah menengah atas yang lebih tinggi dari rata-rata nasional, serta peluang masuk universitas yang lebih rendah. Selain dukungan bahasa, panel menekankan pentingnya bimbingan karier bagi siswa-siswa tersebut.

Yoshida Miho, profesor di Universitas Hirosaki sekaligus anggota panel, menyatakan bahwa pembinaan karier siswa asing sangat krusial—bukan hanya bagi masa depan mereka, tetapi juga demi pertumbuhan ekonomi Jepang.
Ia mencatat bahwa penyusutan populasi adalah tantangan serius. Suatu saat nanti, industri di Jepang mungkin tidak akan bisa berjalan sama sekali tanpa tenaga kerja asing.
Yoshida menuturkan: Sangat penting bagi anak-anak yang pindah ke sini bersama keluarga mereka untuk memahami bahasa dan masyarakat Jepang, serta mempelajari sistem yang berlaku. Hal ini akan membantu mereka beradaptasi dan hidup dengan baik di Jepang. Saya rasa langkah ini juga akan berdampak besar bagi masa depan Jepang.
Arus masuk anak-anak yang pindah ke Jepang memicu perubahan besar dalam waktu singkat bagi sistem pendidikan di negara tersebut.
Kementerian Pendidikan menyatakan akan segera mempercepat langkah-langkah bantuan agar siswa asing dapat berperan dalam masyarakat Jepang, sekaligus meringankan beban sekolah-sekolah setempat.
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Versi Berita.Jepang.org
- Peran
- Kurasi, terjemahan, dan penyuntingan naskah.
- Pembaruan
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.
