Piano Hiroshima: Kisah Pilu Saksi Bisu Bom Atom yang Menginspirasi Teater Dunia
Sebuah piano yang terpapar radiasi bom atom Hiroshima 80 tahun lalu menjadi inspirasi utama karya teater internasional bagi penulis naskah Jerman Florian Goldberg. Setelah dipentaskan di berbagai negara, Goldberg akhirnya berkesempatan melihat langsung instrumen bersejarah tersebut di Hiroshima pada Februari 2025.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Piano Hiroshima: Kisah Pilu Saksi Bisu Bom Atom yang Menginspirasi Teater Dunia

Kisah Tragis di Balik Sang Piano

Saat mengunjungi Hiroshima pada Februari 2025, Florian Goldberg berkesempatan melihat langsung piano yang menginspirasi karya teaternya. Pertunjukan tersebut telah dipentaskan di Jerman, New York, dan yang terbaru di Jepang.
Goldberg awalnya mendengar tentang instrumen tersebut dari seorang jurnalis Jepang di Berlin. Ia kemudian bersama istrinya yang juga rekan kolaborator, Heike Tauch, mulai menggarap Borrowed Landscape, sebuah karya yang memadukan elemen musik dan narasi.

Piano buatan Amerika tersebut dulunya milik Akiko Kawamoto. Akiko lahir di Los Angeles pada 1926, lalu pindah ke Hiroshima bersama keluarganya pada 1933.

Namun, langkah musiknya terhenti pada 6 Agustus 1945. Akiko berada hanya 800 meter dari titik pusat ledakan bom atom. Ia meninggal dunia keesokan harinya pada usia 19 tahun.

Piano kesayangannya rusak akibat serpihan kaca yang menembus kayu. Begitu mendengar kisahnya, Goldberg merasa terpanggil untuk menelusuri jejak Akiko yang tersimpan dalam instrumen tersebut dan menciptakan sebuah karya teater.

Buku Harian Akiko
Borrowed Landscape tayang perdana pada 2022. Saat membawanya ke Hiroshima tahun ini, itu merupakan kunjungan pertamanya ke kota tersebut. Di Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima, ia mendapat akses khusus ke arsip materi di sana – termasuk buku harian Akiko.
Akiko mulai menulis buku harian sejak usia enam tahun. Catatan awalnya menggambarkan sosok gadis cerdas yang sangat mencintai pianonya. Namun seiring berkecamuknya perang, nada tulisannya mulai berubah.

3 Januari 1942: Tentara Kekaisaran telah merebut Manila, ibu kota Filipina. Kegembiraan yang luar biasa! Jatuh. Jatuh. Manila telah jatuh.
17 Februari, berita pukul tujuh mengabarkan bahwa Singapura telah jatuh. Saya melompat kegirangan. Saya berterima kasih kepada para tentara kita.
Goldberg terkesan melihat bagaimana laporan perang sanggup mengubah hati seorang gadis muda hingga membuatnya percaya buta pada tujuan nasional. Ia menyisipkan beberapa baris dalam karyanya yang terinspirasi oleh tulisan Akiko.
Indoktrinasi halus terhadap anak-anak. Ia adalah sosok pekerja keras yang bersemangat dan memercayai apa pun yang dikatakan orang kepadanya.
Ia menyatakan bahwa Borrowed Landscape bukan sekadar karya tentang masa lalu, melainkan tetap relevan hingga saat ini. Bahkan sekarang, remaja dan anak-anak masih menjadi korban akibat keputusan buruk pemerintah mereka. Pertanyaannya bagi kita adalah, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah hal itu?
Pementasan di Hiroshima

Pada hari pementasan di Hiroshima, piano milik Akiko disetel dengan saksama di atas panggung. Dibuat pada tahun 1926, instrumen berusia hampir 100 tahun ini membutuhkan penyesuaian palu dan senar yang sangat teliti karena sensitif terhadap suhu dan kelembapan.

Sekitar 400 penonton menyaksikan para penampil membacakan narasi yang diangkat dari catatan harian Akiko.
Indoktrinasi halus terhadap anak-anak. Dia adalah sosok yang tekun dan bersemangat, serta memercayai apa pun yang dikatakan orang-orang kepadanya. Seorang anak di zamannya — apakah masih sama dengan sekarang? Mungkin saya beruntung karena lahir di tengah masyarakat yang demokratis.


Sayangnya, istri Goldberg yang juga salah satu kreator 'Borrowed Landscape' tutup usia musim panas lalu setelah berjuang melawan kanker. Dalam salah satu wawancara terakhirnya, Tauch menjelaskan mengapa kisah Akiko begitu relevan saat ini: 'Piano Akiko bukan sekadar benda dari masa lalu. Saat ini pun, banyak jiwa seperti Akiko yang mungkin tengah meregang nyawa di Ukraina, Gaza, dan Israel tanpa disadari dunia.'
Goldberg menambahkan pesan mendalam istrinya: 'Kita memiliki tanggung jawab untuk tidak memalingkan wajah, tidak bungkam, dan tidak melupakan. Kita memikul tanggung jawab untuk mendidik anak-anak Kita... dan yang terpenting, mendidik diri Kita sendiri terlebih dahulu.'

Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.




