Lewati ke konten utama
Berita.Jepang.org

Misi Wali Kota Nagasaki di PBB: Memutus Rantai Logika Senjata Nuklir

Sebagai putra penyintas bom atom, Wali Kota Suzuki Shiro melobi pelucutan senjata nuklir di New York di tengah meningkatnya ketegangan global. Ia menghadapi realitas pahit diplomasi internasional yang masih menganggap senjata nuklir sebagai instrumen perlindungan negara.

NHK WORLD6 mnt

Bagikan Artikel

Wali Kota Nagasaki Suzuki Shiro menyampaikan pesan pelucutan nuklir di markas PBB.

Visual Utama

Misi Wali Kota Nagasaki di PBB: Memutus Rantai Logika Senjata Nuklir

Tutup
Wali Kota Nagasaki Suzuki Shiro menyampaikan pesan pelucutan nuklir di markas PBB.

Pesan Mendesak

Suara para penyintas kian memudar seiring usia rata-rata hibakusha yang kini telah melampaui 86 tahun. Di antara mereka yang tersisa, hanya segelintir yang masih mampu melakukan perjalanan ke luar negeri atau bersaksi di hadapan publik mengenai pengalaman mereka.

Di saat yang sama, ketegangan global terkait senjata nuklir kembali memanas. Dalam situasi ini, muncul pertanyaan mendesak: siapa yang akan meneruskan seruan pelucutan senjata, dan bagaimana caranya?

Sejarah keluarga Suzuki menempatkan dirinya tepat di jantung perdebatan tersebut.

Ulang Tahun yang Tak Pernah Dirayakan Lagi

Ibu Suzuki, Tomoko, genap berusia 12 tahun pada 9 Agustus 1945. Pagi itu, rumahnya — yang berjarak sekitar 3 kilometer dari hiposenter — dipenuhi aroma hidangan nasi spesial yang tengah disiapkan untuk perayaan hari lahirnya.

Suzuki Tomoko (kanan) saat masih usia sekolah
Suzuki Tomoko (kanan) saat masih usia sekolah

Gadis yang tengah berulang tahun itu sedang bersantai sambil membaca buku saat bom atom meledak di langit Nagasaki. Ledakan dahsyat tersebut merobohkan seisi rumah dan membuat Tomoko terjepit di bawah rak yang tumbang.

Ia berhasil selamat tanpa luka fisik yang parah, namun hidupnya berubah selamanya sejak hari itu. Ia tidak pernah lagi merayakan ulang tahunnya pada tanggal 9 Agustus.

Sang Ayah yang Lolos dari Maut

Suzuki Ichiro (tengah) saat masih usia sekolah.
Suzuki Ichiro (tengah) saat masih usia sekolah.

Ayah Suzuki, Ichiro, juga baru berusia 12 tahun kala itu. Ia terpapar pengeboman di rumahnya yang berjarak hampir sama dari titik hiposenter. Ichiro melihat kilatan cahaya yang membutakan, diikuti gelombang kejut dahsyat yang menghancurkan jendela dan melontarkan serpihan ke dinding.

Awalnya ia tampak tak terluka, namun kondisinya memburuk dengan cepat beberapa hari kemudian. Ia kehilangan tenaga, rambutnya mulai rontok, dan ruam menyebar di sekujur tubuhnya. Seorang dokter sempat memvonisnya tidak akan selamat. Ia berada di ambang maut, sebelum akhirnya pulih berkat perawatan tulus dari keluarganya.

Masa Kecil dalam Bayang-Bayang Kematian

Kedua orang tua Suzuki menempuh pendidikan di sekolah dasar yang sama, yang kala itu difungsikan sebagai pos bantuan medis. Saat kegiatan belajar dimulai kembali sebulan kemudian, para korban luka terus berdatangan, termasuk mereka yang menderita luka bakar parah.

Sekolah Nasional Shin Kozen yang difungsikan sebagai pos bantuan pascapengeboman 9 Agustus 1945.
Sekolah Nasional Shin Kozen yang difungsikan sebagai pos bantuan pascapengeboman 9 Agustus 1945.

Banyak yang tewas saat itu. Jenazah ditumpuk di halaman sekolah dan dikremasi seadanya. Ibu saya bercerita ada bau yang sangat menyengat, kenang Suzuki. Rasanya seolah semua rasa sakit, sedih, dan takut telah sirna. Mereka terpaksa memendam perasaan itu demi bertahan hidup.

Menjadi Suara bagi Mereka yang Tak Lagi Bisa Bicara

Selama puluhan tahun, orang tua Suzuki memendam kenangan tersebut dalam diam. Sejak ia terpilih sebagai wali kota pada 2023, sang ibu dengan telaten mengumpulkan kliping surat kabar tentang kiprah putranya.

Tomoko, Ibu Suzuki, mengumpulkan kliping berita mengenai putranya.
Tomoko, Ibu Suzuki, mengumpulkan kliping berita mengenai putranya.

Tomoko sangat bangga dengan upaya putranya menyampaikan pesan Nagasaki kepada dunia. Ia wafat pada Februari lalu di usia 92 tahun. Sang ayah kini menderita demensia dan tidak lagi mampu menceritakan pengalamannya.

Mereka ingin dunia tahu betapa pedihnya tragedi Nagasaki, tutur Suzuki.

Karena kini mustahil bagi mereka untuk bersuara, kitalah yang harus meneruskan pesan mereka.

Suzuki Shiro (kanan) bersama ibunya, Tomoko, dan ayahnya, Ichiro.
Suzuki Shiro (kanan) bersama ibunya, Tomoko, dan ayahnya, Ichiro.

Dunia yang Terbagi

Suzuki membawa pesan tersebut ke Konferensi Peninjauan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) 2026. Pertemuan lima tahunan ini digelar untuk meninjau sejauh mana kemajuan pelucutan senjata nuklir dan upaya non-proliferasi di tingkat global.

Ketegangan sudah terasa sejak awal konferensi tahun ini. Amerika Serikat dan Iran bersilang pendapat mengenai kepatuhan serta isu keamanan. Namun, perpecahan yang terjadi ternyata jauh lebih mendalam.

Prancis mengisyaratkan langkah untuk memperkuat persenjataan nuklirnya. Sementara itu, Belgia, yang terlibat dalam kesepakatan berbagi nuklir NATO, membela kebijakan tersebut dengan alasan perlunya merespons ancaman yang terus berkembang, terutama menyusul invasi Rusia ke Ukraina.

Sepanjang konferensi, negara-negara pemilik senjata nuklir beserta sekutunya terus menekankan pentingnya fungsi pencegahan (deterrence). Di sisi lain, negara-negara non-nuklir mendesak langkah nyata yang lebih cepat menuju pelucutan senjata. Jurang pemisah antara kedua kubu ini pun tetap lebar.

Menghadapi 'Tembok'

Wali Kota Nagasaki Shiro Suzuki saat menyampaikan pidatonya pada Konferensi Peninjauan NPT 2026
Wali Kota Nagasaki Shiro Suzuki saat menyampaikan pidatonya pada Konferensi Peninjauan NPT 2026

Selama konferensi, Suzuki melakukan serangkaian pertemuan dengan pejabat dari berbagai negara. Ia berdialog dengan perwakilan negara-negara pemilik senjata nuklir seperti Amerika Serikat, Rusia, Prancis, dan Inggris, serta negara-negara yang vokal menyuarakan agenda pelucutan senjata.

Dalam berbagai pertemuan, ia kerap melontarkan pertanyaan yang sama: Langkah konkret apa yang bisa diambil demi mewujudkan dunia tanpa senjata nuklir? Namun, jawaban yang ia terima selalu sama dan mengecewakan.

Selama negara lain masih memiliki senjata nuklir, senjata itu akan terus dianggap perlu demi keamanan nasional, ujarnya merenungkan pola yang terus berulang. Bagi saya, ini memperjelas bahwa kengerian nyata dari senjata nuklir masih belum dipahami sepenuhnya. Itulah dinding penghalang yang kami hadapi.

Wali Kota Nagasaki (kanan) saat bertemu dengan perwakilan Afrika Selatan pada Mei 2026.
Wali Kota Nagasaki (kanan) saat bertemu dengan perwakilan Afrika Selatan pada Mei 2026.

Suzuki juga mempertanyakan premis dasar tentang pencegahan nuklir. Selalu ada risiko senjata nuklir akan digunakan hanya karena senjata itu ada, tuturnya. Jika sampai digunakan, dampaknya akan menjadi bencana dahsyat. Gagasan bahwa senjata nuklir mampu menjamin keamanan adalah sebuah kontradiksi.

Ia merasakan minimnya kemauan dari negara-negara pemilik senjata nuklir untuk melepaskan ketergantungan mereka. Diskusi-diskusi tersebut memicu rasa frustrasinya melihat kesenjangan antara pengalaman kelam Nagasaki dan logika pencegahan nuklir.

Menjadi Suara bagi Para Hibakusha

Karena banyak hibakusha yang tak lagi mampu melakukan perjalanan internasional, Suzuki pun bertindak sebagai wakil mereka. Sebelum bertolak ke New York, ia mengunjungi Tanaka Shigemitsu, ketua bersama kelompok penyintas bom atom Nihon Hidankyo yang dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian 2024 atas dedikasinya mewujudkan dunia bebas senjata nuklir.

Wali Kota Nagasaki Suzuki Shiro saat mengunjungi ketua bersama Nihon Hidankyo Tanaka Shigemitsu sebelum bertolak ke New York.
Wali Kota Nagasaki Suzuki Shiro saat mengunjungi ketua bersama Nihon Hidankyo Tanaka Shigemitsu sebelum bertolak ke New York.

Tanaka, karena terkendala masalah kesehatan, memutuskan untuk tidak menghadiri konferensi tersebut. 'Saya sangat berharap bisa berangkat, namun Saya mempercayakan Anda untuk berbicara atas nama kami,' pesannya kepada Suzuki. Suzuki pun menjawab, 'Saya akan menyuarakan aspirasi mereka yang tidak bisa hadir dan menyampaikannya kepada dunia.'

Mohon Jangan Berpaling

Demi menyampaikan realitas kemanusiaan di balik ancaman senjata nuklir, Suzuki membagikan materi kepada para delegasi. Materi ini meliputi buku yang merinci pengalaman Nagasaki serta sebuah foto yang memperlihatkan luka bakar parah yang diderita oleh penyintas Taniguchi Sumiteru.

Taniguchi Sumiteru saat menyampaikan pidato pada Konferensi Peninjauan NPT 2010 sembari menunjukkan foto dirinya sendiri.
Taniguchi Sumiteru saat menyampaikan pidato pada Konferensi Peninjauan NPT 2010 sembari menunjukkan foto dirinya sendiri.

Dalam konferensi NPT sebelumnya, Taniguchi menyampaikan seruan emosional sembari menunjukkan foto yang sama: 'Mohon jangan berpaling'. Suzuki berharap aksi ini dapat membangkitkan rasa urgensi dan empati serupa di kalangan pembuat kebijakan saat ini.

Kita Tak Boleh Menyerah

Konferensi berakhir pada 22 Mei tanpa menghasilkan dokumen akhir—sebuah kegagalan ketiga yang terjadi berturut-turut. 'Sebagai perwakilan Nagasaki, kami merasakan kekecewaan mendalam,' ungkap Suzuki. Muncul pula rasa amarah karena tidak adanya komitmen nyata yang ditunjukkan.

Meski demikian, ia tetap teguh: 'Kita tidak boleh menyerah. Nagasaki harus tetap menjadi lokasi pengeboman atom terakhir dalam sejarah perang.'

Seiring memudarnya suara para penyintas, tanggung jawab untuk meneruskan pesan mereka kini beralih ke generasi berikutnya. Bagi Suzuki, amanat itu sudah jelas. Ia percaya bahwa pada akhirnya, tanggung jawab ini harus dipikul bersama oleh dunia.

Sumber Berita

Penerbit
NHK WORLD
Tanggal Sumber
Pranala Sumber

Versi Berita.Jepang.org

Peran
Kurasi, terjemahan, dan penyuntingan naskah.
Pembaruan

Video Sumber

Dengarkan Artikel

Putar versi audio langsung dari browser Anda.

Menyiapkan audio browser...

Kata Kunci

wali kota nagasaki pbbpelucutan senjata nuklirhibakusha jepangperdamaian duniabom atom nagasaki

Jejak Topik

Komentar Pembaca

Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.