Lewati ke konten utama
Berita.Jepang.org

Angka Kelahiran Jepang Pecahkan Rekor Terendah, Krisis Pernikahan Jadi Pemicu Utama

Jepang mencatat rekor kelahiran terendah dengan hanya 671.000 bayi pada 2025, melampaui prediksi tercepat pemerintah. Fenomena ini didorong oleh penurunan jumlah pernikahan dan pergeseran nilai sosial terkait hubungan.

NHK WORLD7 mnt

Bagikan Artikel

Ilustrasi data grafik penurunan angka kelahiran dan populasi di Jepang.

Visual Utama

Angka Kelahiran Jepang Pecahkan Rekor Terendah, Krisis Pernikahan Jadi Pemicu Utama

Tutup
Ilustrasi data grafik penurunan angka kelahiran dan populasi di Jepang.
Angka Kelahiran Jepang Pecahkan Rekor Terendah, Krisis Pernikahan Jadi Pemicu Utama - visual artikel

Data pemerintah menunjukkan hanya sekitar 671.000 bayi lahir pada 2025, menyusut hampir 15.000 dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menandai penurunan selama sepuluh tahun berturut-turut sekaligus rekor terendah sejak pencatatan dimulai pada 1899.

Tingkat kesuburan total — rata-rata jumlah anak yang diperkirakan akan dimiliki seorang wanita seumur hidupnya — juga merosot ke rekor terendah di angka 1,14.

Para pakar memperingatkan bahwa laju penurunan ini jauh lebih cepat dari perkiraan. Baru tiga tahun lalu, peneliti pemerintah memproyeksikan Jepang tidak akan mencapai angka serendah ini hingga dekade 2040-an.

Merosotnya Pernikahan dan Kelahiran

Salah satu faktor utama di balik turunnya angka kelahiran adalah anjloknya jumlah pernikahan.

Angka Kelahiran Jepang Pecahkan Rekor Terendah, Krisis Pernikahan Jadi Pemicu Utama - visual artikel

Pada awal abad ini, Jepang mencatatkan hampir 800.000 pernikahan setiap tahun. Sejak saat itu, angkanya merosot hingga ke kisaran 500.000. Mengingat mayoritas anak di Jepang lahir dari pasangan yang terikat pernikahan, menyusutnya jumlah pasangan baru berdampak langsung pada penurunan angka kelahiran.

Meski begitu, keinginan untuk menikah sebenarnya belum pudar.

Survei pemerintah menunjukkan sekitar 80 persen orang lajang masih berkeinginan untuk menikah suatu hari nanti.

Kesenjangan yang kian lebar antara niat dan kenyataan ini kini menjadi fenomena yang mendefinisikan lanskap sosial Jepang.

Mencari Pasangan di Dunia yang Terus Berubah

Salah satu pemicu kesenjangan ini adalah kian jarangnya kesempatan untuk bertemu, seiring semakin sedikitnya orang yang menempuh jalur pernikahan konvensional seperti dahulu.

Sekitar satu setengah dekade lalu, hampir 90 persen pasangan suami istri di Jepang bertemu secara alami—baik melalui sekolah, pekerjaan, maupun perkenalan teman. Saat ini, angka tersebut merosot hingga ke kisaran 74 persen.

Angka Kelahiran Jepang Pecahkan Rekor Terendah, Krisis Pernikahan Jadi Pemicu Utama - visual artikel

Tren kerja jarak jauh serta meningkatnya kesadaran akan isu pelecehan dan privasi turut mengurangi peluang untuk menjalin hubungan di lingkungan kerja.

Sebaliknya, banyak orang mulai menjajaki cara-cara baru—dan terkadang kembali ke cara lama—untuk menemukan pasangan.

Agen perjodohan, yang sempat dianggap ketinggalan zaman, kini kembali naik daun. Data industri menunjukkan bahwa dalam kurun lima tahun, jumlah wanita berusia 20-an yang menggunakan layanan tersebut meningkat dua kali lipat, sementara jumlah pria di kelompok usia yang sama melonjak tiga kali lipat.

Para klien menuturkan bahwa agen-agen tersebut menawarkan hal yang sulit ditemukan di tempat lain: kepastian dan efisiensi.

Shibata Yuu, klien agen perjodohan
Shibata Yuu, klien agen perjodohan

Shibata Yuu (25) merasa kencan daring tidak membuahkan hasil baginya dan khawatir hanya akan membuang-buang waktu berharga.

'Saya sempat berkencan dengan seorang wanita lewat aplikasi selama dua tahun, tapi akhirnya putus,' kenangnya. 'Saya pikir, jika ini terus berulang, tahu-tahu Saya sudah masuk usia 30-an.'

Shibata pun memutuskan untuk bergabung dengan agen perjodohan, dan segalanya berubah.

'Begitu mencoba jasa agen, hanya butuh empat bulan bagi saya untuk bertemu seseorang yang ingin saya nikahi,' ujarnya. 'Menurut saya, ini sangat efisien.'

Hubungan Aman dan Terpercaya

Klien lain menyebut rasa aman sebagai daya tarik utama.

Fujita Minori, klien biro jodoh
Fujita Minori, klien biro jodoh

Fujita Minori mengaku sulit bertemu orang baru, namun ia ingin menghindari berkencan dengan rekan kerja demi meminimalkan risiko jika hubungan tersebut tidak berhasil. Ia mendambakan lingkungan yang aman dan dapat diandalkan.

Menurutnya, karena hanya orang yang serius ingin menikah yang mendaftar dan identitas mereka telah diverifikasi, ia tidak perlu merasa khawatir sehingga seluruh prosesnya terasa sangat lancar.

Mengapa Faktor Keamanan Begitu Memikat Generasi Muda

Katsukura Chihiro, Direktur Dewan Naresome Yobiko
Katsukura Chihiro, Direktur Dewan Naresome Yobiko

Katsukura Chihiro, direktur di agen biro jodoh Naresome Yobiko di Tokyo, mengatakan bahwa ia sering mendengar kekhawatiran serupa dari para kliennya.

Ia menjelaskan bahwa banyak orang saat ini tidak terbiasa dengan kegagalan. Itulah mengapa konsep yang aman, terjamin, dan dapat diandalkan cenderung sangat memikat bagi generasi muda.

Perusahaan Mulai Turun Tangan dalam Urusan Perjodohan

Sejumlah perusahaan kini mulai berupaya mendukung tenaga kerja mereka dalam aspek kehidupan yang lebih pribadi.

Terumo, perusahaan perangkat medis asal Tokyo, memperkenalkan aplikasi kencan sebagai bagian dari tunjangan karyawan. Sejauh ini, sekitar 300 staf telah mendaftar.

Kantor Terumo
Kantor Terumo

Aplikasi ini hanya tersedia bagi mereka yang bekerja di perusahaan yang disetujui, sehingga menciptakan lingkungan yang terkendali dan tepercaya. Layanan ini menghubungkan karyawan lintas perusahaan peserta, di mana lebih dari 1.500 perusahaan telah bergabung dalam platform tersebut.

Tadano Yoshika, manajer di departemen sumber daya manusia Terumo, mengatakan bahwa stabilitas di luar tempat kerja dapat berdampak pada peningkatan kinerja.

'Karyawan kami berdedikasi pada pekerjaan mereka, namun mereka mungkin juga menghadapi tantangan besar dalam kehidupan pribadi,' ujarnya. 'Kami berharap aplikasi ini dapat menjadi pilihan bagi mereka yang merasa cemas.'

Tadano Yoshika, Manajer Umum Kantor DEI & Pengembangan Organisasi Terumo
Tadano Yoshika, Manajer Umum Kantor DEI & Pengembangan Organisasi Terumo

Keamanan Psikologis Lebih Utama Daripada Sekadar Mencoba Peruntungan

Toyoshima China, CEO perusahaan pengembang aplikasi tersebut, mengatakan bahwa konsep kuncinya adalah 'keamanan psikologis' dalam hubungan asmara.

Perusahaan ini menganalisis kondisi yang memicu munculnya perasaan romantis pada generasi muda. Penelitian mereka menunjukkan bahwa orang lebih cenderung jatuh cinta saat kriteria tertentu terpenuhi — misalnya, ketika mereka bisa saling mendukung secara profesional dan mampu membayangkan masa depan bersama.

Toyoshima China, CEO Aill
Toyoshima China, CEO Aill

Kami mengembangkan aplikasi ini agar orang-orang bisa jatuh cinta dengan rasa aman, ujar Toyoshima. Alih-alih pendekatan spekulatif yang sekadar mencoba peruntungan, kami melihat adanya pergeseran tren di Jepang ke arah mengenal seseorang secara mendalam sebelum menumbuhkan perasaan. Kami merasa perlu ada platform yang memungkinkan komunikasi dengan tenang.

Aplikasi ini dilengkapi berbagai fitur untuk memperkuat rasa aman secara psikologis. Pengguna akan diperkenalkan dengan calon pasangan dari perusahaan terpercaya — seperti perusahaan dengan sertifikasi pemerintah terkait kebijakan dukungan pengasuhan anak — guna memastikan standar kualitas tertentu terpenuhi.

Pengguna juga dapat mengerucutkan pilihan calon pasangan berdasarkan kriteria spesifik, seperti kesepakatan pembagian tugas rumah tangga.

Angka Kelahiran Jepang Pecahkan Rekor Terendah, Krisis Pernikahan Jadi Pemicu Utama - visual artikel

Setelah menemukan pasangan yang cocok, AI akan membantu proses komunikasi dengan menyarankan pertanyaan yang relevan berdasarkan alur percakapan, bahkan memberi nasihat mengenai waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan.

Angka Kelahiran Jepang Pecahkan Rekor Terendah, Krisis Pernikahan Jadi Pemicu Utama - visual artikel

Pihak perusahaan mengeklaim bahwa tingkat keberhasilan pernyataan cinta menjadi 9,8 kali lebih tinggi berkat dukungan AI ini.

Tanpa Pernikahan, Bahkan tanpa Hubungan Asmara

Meskipun tersedia berbagai sarana seperti aplikasi dan agen perjodohan, proporsi orang yang belum pernah menikah terus merangkak naik.

Pada tahun 1980, hanya sekitar 3 persen pria dan 4 persen wanita yang belum pernah menikah hingga usia 50 tahun. Namun pada 2020, angka tersebut melonjak drastis menjadi 28 persen bagi pria dan 18 persen bagi wanita.

Angka Kelahiran Jepang Pecahkan Rekor Terendah, Krisis Pernikahan Jadi Pemicu Utama - visual artikel

Pakar demografi memperingatkan bahwa meningkatnya proporsi orang yang belum pernah menikah menandakan adanya masalah serius dalam struktur sosial Jepang.

Mogi Ryohei, peneliti di Universitas Pompeu Fabra, Spanyol, memaparkan data bahwa meski sekitar 80 persen warga Jepang yang melajang berkeinginan untuk menikah, sekitar 70 persen di antaranya saat ini justru tidak memiliki pasangan.

Mogi Ryohei, pakar demografi dan peneliti di Universitas Pompeu Fabra
Mogi Ryohei, pakar demografi dan peneliti di Universitas Pompeu Fabra

Perbedaannya terlihat kontras saat dibandingkan dengan Italia dan Spanyol yang memiliki tingkat kesuburan serupa. Di negara-negara tersebut, banyak orang tetap menjalin hubungan asmara meski tidak terikat pernikahan atau tidak memiliki anak, papar Mogi.

Namun di Jepang, proporsi mereka yang sama sekali tidak memiliki hubungan justru lebih besar. Hal inilah yang membuat krisis rendahnya angka kelahiran di Jepang jauh lebih mengkhawatirkan.

Hambatan Menjalin Hubungan yang Kian Berat

Sangat jelas bahwa cara pandang masyarakat Jepang terhadap hubungan kini tengah mengalami pergeseran.

Alih-alih menjalin hubungan terlebih dahulu dan memikirkan detailnya belakangan, banyak orang kini ingin memastikan masalah stabilitas pendapatan atau pembagian tanggung jawab rumah tangga disepakati di awal.

Fujita, klien agen perjodohan tersebut, mengaku baru mulai mencari pasangan setelah ia merasa memiliki penghasilan yang cukup.

Pendekatan yang sangat berhati-hati ini mungkin tanpa disadari justru mengurangi peluang untuk bertemu dan menjalin kedekatan dengan orang lain.

Jika tren penurunan angka kelahiran di Jepang ingin dihentikan atau dipulihkan, perlu dicari cara untuk meruntuhkan hambatan yang menghalangi orang-orang bertemu dan membangun hubungan sejak awal.

Sumber Berita

Penerbit
NHK WORLD
Tanggal Sumber
Pranala Sumber

Versi Berita.Jepang.org

Peran
Kurasi, terjemahan, dan penyuntingan naskah.
Pembaruan

Video Sumber

Dengarkan Artikel

Putar versi audio langsung dari browser Anda.

Menyiapkan audio browser...

Kata Kunci

angka kelahiran jepangkrisis populasi jepangpernikahan di jepangberita domestik jepangmasalah demografi jepang

Jejak Topik

Komentar Pembaca

Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.