Takaichi di Washington: Mantan Duta Besar Sugiyama Ungkap Taruhan Tinggi KTT dengan Trump
Mantan Duta Besar Jepang untuk AS Sugiyama Shinsuke menilai KTT antara Perdana Menteri Sanae Takaichi dan Presiden Donald Trump berlangsung di tengah ketegangan besar soal Iran dan isu global lain, mencerminkan situasi geopolitik yang jauh berbeda sejak pertemuan terakhir mereka.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Takaichi di Washington: Mantan Duta Besar Sugiyama Ungkap Taruhan Tinggi KTT dengan Trump

Catatan: Komentar telah diedit agar lebih ringkas.
Takaichi dan Trump dijadwalkan bertemu pada Kamis di ibu kota AS. Ini merupakan kunjungan pertama Takaichi ke Amerika sejak menjabat pada Oktober lalu, sekaligus KTT keduanya dengan Trump.
Mantan Duta Besar Sugiyama menilai taruhannya kali ini jauh lebih tinggi. Ia menyebut banyak peristiwa telah terjadi sejak pertemuan terakhir mereka. Takaichi meraih kemenangan telak dalam pemilu umum, sementara presiden AS telah mengambil tindakan militer terhadap Venezuela. Namun yang paling menonjol adalah isu Iran.

Ketegangan terus meningkat, begitu pula harga energi. Iran merespons serangan AS-Israel dengan secara efektif memblokade Selat Hormuz, salah satu jalur terpenting dunia untuk pengiriman minyak.
Trump baru-baru ini menyatakan harapannya agar negara-negara terdampak mengerahkan angkatan laut mereka untuk mengamankan jalur perairan penting itu, tetapi ia justru menghadapi dukungan yang minim.
Pada Selasa, ia mengambil nada defensif di media sosial, menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak memerlukan bantuan dari anggota NATO, maupun dari Australia, Korea Selatan, dan Jepang.
Jepang Akan Bertindak Sesuai Hukum Nasional
Trump juga menyebut Jepang sebagai negara yang sangat bergantung pada minyak yang melewati Selat Hormuz. Ia menekankan bahwa negara-negara seperti itu seharusnya memberikan dukungan, dan muncul spekulasi bahwa ia bisa berupaya menekan Takaichi untuk mengirim kapal ke kawasan tersebut.

Sugiyama menyinggung sifat Trump yang sulit diprediksi dengan mengatakan bahwa sangat sedikit orang yang benar-benar mengetahui niatnya. Terlepas dari kemungkinan permintaan dukungan, ia yakin Takaichi akan menanggapi situasi di Iran sesuai hukum domestik Jepang.
Tokyo Memiliki Posisi Strategis dalam Isu Nuklir
Pada saat yang sama, mantan duta besar itu tidak menutup kemungkinan bahwa Takaichi dapat berperan dalam meredakan ketegangan terkait program nuklir di Teheran.
Ia menyebutkan bahwa meskipun AS merupakan sekutu utama Jepang, Jepang secara tradisional memiliki hubungan baik dengan Iran. Berdasarkan hal itu, pemerintah dan rakyat Jepang menyampaikan kepada Iran agar tetap menggunakan energi nuklir untuk tujuan damai.

Sugiyama menggambarkan Jepang sebagai siswa No.1 di dunia dalam hal perlunya memanfaatkan energi nuklir hanya untuk tujuan damai. Ia mengatakan bahwa sekarang adalah momen yang tepat bagi pemerintah Jepang untuk memberi tahu para pemimpin Iran bahwa mereka harus tetap berpegang pada gagasan itu.
Jepang Menanamkan Miliaran di AS
Iran bukan satu-satunya topik dalam agenda Takaichi dan Trump. Tahun lalu, Jepang setuju berinvestasi 550 miliar dolar AS di Amerika Serikat, dengan proyek energi dan mineral di Texas, Ohio, dan Georgia yang diumumkan pada Februari.
Perhatian kini tertuju pada apakah rincian lebih lanjut akan dibuka dalam pertemuan puncak mendatang.
Mantan Duta Besar Sugiyama mengisyaratkan bahwa kesepakatan utama kemungkinan sudah berada di atas meja, dan kedua pihak tentu harus menepati apa yang telah disepakati.
China Tetap Jadi Prioritas dalam Agenda Jepang-AS
Trump semula dijadwalkan mengunjungi China akhir bulan ini untuk pertemuan puncak dengan Presiden Xi Jinping. Namun, ia menunda perjalanan itu karena situasi di Timur Tengah.
Mantan Duta Besar Sugiyama juga menekankan bahwa Takaichi dan Trump sama sekali tidak akan mengesampingkan China dalam pembicaraan mereka.

Ia menekankan bahwa seluruh pihak di komunitas internasional perlu memberi perhatian serius pada pertemuan puncak antara perdana menteri Jepang dan presiden AS ini, terutama karena faktor China. Ia menambahkan bahwa isu-isu terkait, seperti Taiwan, pasti akan masuk dalam agenda mereka.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.51 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.

