Thailand Bergerak Cepat Menuju Masyarakat Super Usia Lanjut
Thailand sedang beralih dari pertumbuhan populasi yang meledak ke tren kelahiran rendah dan penuaan penduduk yang sangat cepat.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Thailand Bergerak Cepat Menuju Masyarakat Super Usia Lanjut

Kenyataan Pahit yang Dihadapi Keluarga Perawat
Dream Nursing Home berjarak sekitar 30 menit berkendara dari pusat Bangkok, ibu kota Thailand. Fasilitas ini dibuka 3 tahun lalu oleh seorang pengusaha Jepang bersama mitra bisnisnya yang orang Thailand. Saat ini fasilitas ini memiliki 11 penghuni.

Salah satunya adalah Worawit Dirokkanjanaman. Ia menderita Parkinson dan demensia. Pria berusia 70 tahun itu sebelumnya dirawat oleh keluarganya, tetapi tahun lalu keponakannya, Ittichet, mengatakan mereka sudah mencapai batas kemampuan.

Ittichet mengatakan pamannya perlu disuapi lewat selang, dan tidak ada orang di rumah yang bisa melakukannya. Ia tidak ragu menempatkan pamannya di fasilitas ini karena para staf sangat kompeten dan bisa memberi perawatan yang lebih baik.

Shoda Susumu, direktur utama operator panti jompo itu, mengatakan bahwa lonjakan permintaan sangat terasa karena panti ini terus menerima pertanyaan semakin banyak sejak dibuka.
Penuaan Cepat Saat Angka Kelahiran Turun
Berkat kemajuan teknologi medis yang luas, penduduk Thailand menua lebih cepat dibanding banyak negara maju.
Berdasarkan proyeksi Perserikatan Bangsa-Bangsa, Thailand berpindah dari masyarakat berusia, ketika lebih dari 14 persen penduduk berusia setidaknya 65 tahun, ke masyarakat super-usia saat proporsinya melebihi 21 persen.

Thailand diperkirakan menjadi masyarakat super-usia dalam 11 tahun saja, jauh lebih cepat dibanding negara lain.
Di Italia, Portugal, dan Yunani, di mana penuaan populasi juga sangat cepat, transisi itu memakan waktu 24 tahun. Di Jepang, prosesnya memakan 12 tahun.
Sebuah media lokal menyebut jumlah bayi yang lahir di Thailand pada 2025 mencapai 416.000, terendah sejak 1950. Menurut estimasi PBB, tingkat fertilitas total negara itu pada 2023 adalah 1.21, sama dengan Jepang.
Dulu, di Thailand, satu atau lebih anak dalam keluarga besar biasanya tinggal serumah untuk merawat orang tua mereka yang menua. Namun, keadaan itu kini tidak lagi realistis.
Tekanan yang Meningkat pada Fasilitas Perawatan Lansia
Layanan perawatan lansia kini menjadi kebutuhan penting di Thailand, tetapi jumlahnya di seluruh negeri masih sangat sedikit. Jumlah warga berusia 65 tahun ke atas di Thailand mencapai lebih dari 10 juta orang. Namun survei Pusat Informasi Properti menunjukkan bahwa secara nasional baru ada sekitar 800 panti jompo.
Masalah besar lainnya adalah keterjangkauan biaya. Selama ini, panti jompo umumnya melayani kalangan berpenghasilan tinggi, bukan keluarga yang tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup.
Sementara itu, penuaan penduduk Thailand terus berlangsung cepat. Muncullah upaya baru untuk mempelajari cara negara lain menghadapi tantangan ini.
Belajar dari Sistem Perawatan Lansia Jepang
Di tengah meningkatnya permintaan, upaya mendirikan fasilitas perawatan lansia baru kian menguat.

Pansith Khlibthong mengelola sebuah rumah sakit di luar Bangkok dan berencana membangun panti jompo. Pada bulan Desember lalu, ia bersama stafnya mengunjungi Prefektur Kanagawa untuk mempelajari bagaimana Jepang menghadapi tantangan sebagai pelopor masyarakat berusia lanjut.

Kelompok itu mengunjungi panti jompo untuk melihat langsung kehidupan sehari-hari para penghuninya. Mereka melihat bahwa di Jepang kini umum memberi perawatan yang dipersonalisasi di ruang yang lebih kecil, dan cara ini sangat berpengaruh pada kualitas hidup.
Staf menjelaskan bahwa penghuni baru didorong membawa benda-benda yang dikenali dari rumah agar lebih cepat merasa nyaman di fasilitas tersebut.

Ogawa Rikyu, ketua Well Aging Japan Association, menyampaikan dalam sebuah ceramah bahwa pekerja perawatan di Jepang dulu menangani hingga 40 orang per lantai, sehingga sulit mengingat setiap penghuni. Ia menilai bahwa dengan skala yang lebih kecil, mereka bisa merespons kebutuhan tiap penghuni dengan lebih tepat.
Pansith mengatakan hal yang paling mengesankan di Jepang adalah penghormatan terhadap hak dan martabat orang lanjut usia. Ia menambahkan bahwa pendekatan ini perlu diterapkan dalam layanan perawatan lansia di negaranya sendiri.
Menerapkan Pengalaman dari Jepang
Setibanya kembali di Thailand, Pansith memutuskan merevisi desain fasilitas yang sudah direncanakannya, mengubah kamar bersama yang luas menjadi ruang aktivitas dan kamar-kamar pribadi yang lebih kecil.
Sebelum berangkat, ia menganggap lebih banyak tempat tidur berarti pendapatan lebih tinggi. Sekarang ia menyadari bahwa fasilitas berukuran besar tidak selalu menjadi pendekatan yang terbaik.
Di Thailand, pengembangan tenaga perawat terlatih masih menjadi tantangan besar. Pansith telah bekerja keras untuk melatih personel baru.

Ia meluncurkan pelatihan untuk stafnya agar mampu menanggapi berbagai pertanyaan penghuni. Seorang peserta menyadari betapa sulitnya menangani keadaan darurat dengan tepat. Pansith menjelaskan bahwa orang dengan keuangan terbatas tetap ingin memberi orang tuanya perawatan terbaik.

Tujuannya adalah menyediakan layanan berkualitas tinggi yang terjangkau bagi keluarga berpenghasilan menengah dengan menekan biaya operasionalnya.
Tantangan Pemerintah Thailand
Thailand menghadapi masyarakat yang menua sebelum menjadi negara maju sepenuhnya. Negara itu belum memiliki sistem asuransi perawatan jangka panjang, dan pembangunannya belum mudah karena keterbatasan sumber daya finansial. Untuk saat ini, pemerintah memprioritaskan pencegahan.
Bootsakorn Loharjun, direktur Institute of Geriatric Medicine milik pemerintah, mengatakan bahwa tujuannya adalah menjaga orang tetap sehat daripada membelanjakan biaya pengobatan setelah mereka sakit.

Kelas Daring untuk Menjaga Kesehatan Lansia
Inisiatif sektor swasta untuk memajukan kesehatan lansia juga mulai mendapat perhatian.
Dalam kelas pencegahan jatuh secara daring, Monnakorn Setthachuea yang berusia 62 tahun itu, bersama lebih dari 170 lansia lain, mempelajari latihan menjaga kekuatan otot serta makanan yang sebaiknya dikonsumsi.
Monnakorn mengatakan teknik peregangan yang ia pelajari di kelas itu membantu mengurangi nyeri di tubuhnya.

Program ini terjangkau dan mudah diakses oleh para lansia di seluruh Thailand. Program ini juga memungkinkan perusahaan pengelola menyediakan layanan tanpa perlu investasi membangun fasilitas khusus. Jumlah anggotanya sudah melebihi 50.000 orang.
Charkhris Phomyoth adalah CEO Young Happy, operator layanan ini. Ia mengatakan perusahaan mereka berharap dapat mendukung pemerintah, masyarakat, dan keluarga agar para lansia dapat menjalani masa tua dengan lebih percaya diri.

Berbagi Pengetahuan dan Teknologi Jadi Kunci
Saat Thailand bergerak menuju masyarakat berusia super tua, Jepang—yang sudah lebih dulu mengalami penuaan populasi—punya peran penting untuk berbagi teknologi, termasuk robot perawatan.
Thailand juga bukan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang menua dengan cepat. Vietnam dan Malaysia juga diperkirakan akan mencapai fase itu dalam beberapa dekade mendatang. Namun jika negara-negara ini dan Jepang mampu menghadapi tantangan bersama lewat berbagi pengetahuan dan kerja sama, semuanya akan mendapat manfaat.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.51 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.

