Meneruskan Estafet Hibakusha: Generasi Muda Jepang Jaga Memori Bom Atom Lewat Seni
Jumlah pengunjung Museum Perdamaian Hiroshima mencapai rekor tertinggi seiring meningkatnya inisiatif anak muda dalam melestarikan kisah penyintas. Melalui medium seni seperti lukisan, para pelajar kini berperan aktif memastikan sejarah kelam tersebut tetap relevan bagi masa depan.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Meneruskan Estafet Hibakusha: Generasi Muda Jepang Jaga Memori Bom Atom Lewat Seni

Tahun fiskal lalu, Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima mencatat rekor pengunjung tertinggi sepanjang sejarah: 2,2 juta orang. Tren saat ini menunjukkan museum tersebut berada pada jalur yang tepat untuk kembali melampaui rekor itu. Bagi banyak pengunjung, pengalaman ini bukan tentang sejarah yang telah usai, melainkan sesuatu yang masih terus bergema.
Bagaimana kenangan ini diteruskan kini kian banyak dibentuk oleh individu, terutama generasi muda, alih-alih hanya bergantung pada peran pemerintah atau lembaga.
Menyulap Kesaksian Menjadi Karya Seni

Di sebuah ruang kelas yang hening di SMA Kota Hiroshima Motomachi, seorang siswa tampak terpaku menatap kanvas, berupaya menemukan sapuan warna yang tepat.
Higuchi Fumina sedang melukis punggung seorang wanita yang terbakar parah dan penuh luka parut akibat ledakan bom atom. Ia sempat ragu saat menentukan gradasi warna kulitnya.
'Sulit sekali,' ucapnya. 'Sebab saya tidak berada di sana saat kejadian.'

Subjek lukisan ini adalah Takiguchi Sakae, seorang penyintas bom atom. Permintaan pembuatannya datang dari putranya, Takiguchi Hidetaka, yang masih berusia empat tahun saat ledakan terjadi. Adik perempuannya, Hiroko, kala itu baru berumur sepuluh bulan.
'Ada kilatan cahaya,' kenangnya. 'Ibu saya melindungi tubuh adik saya.'
Sakae menderita luka bakar hebat di sekujur punggungnya. Meski terluka parah, ia mati-matian mencari putranya di antara puing-puing bangunan. Hiroko meninggal dunia beberapa minggu setelahnya.
'Ibu saya dulu sering berkata tidak ingin mengingat kejadian itu karena rasanya seperti neraka,' ujar Takiguchi. 'Saya tidak ingin orang lain mengalami hal serupa.'

Makna Sejati Proyek Ini
Selama berbulan-bulan, Higuchi dan Takiguchi rutin bertemu untuk berbincang. Awalnya, Higuchi berfokus pada akurasi ― berupaya melukiskan kerusakan seotentik mungkin. Namun seiring waktu, ia menyadari bahwa bukan itu tujuan utamanya.
'Ini bukan sekadar soal realisme,' ungkapnya. 'Melainkan tentang apa yang dirasakan sang ibu, serta bagaimana perasaan sang putra terhadap ibunya.'

Higuchi merampungkan lukisannya pada 2024. Kini, Takiguchi menggunakan karya itu saat berbagi kisah kepada para pengunjung—baik dalam bahasa Inggris maupun Jepang.
Di usia 85 tahun, ia terus aktif memberikan kesaksian. Dalam lima tahun terakhir saja, hampir 20.000 orang telah menyimak kisahnya.
Ia berpesan kepada para pendengar untuk menyebarkan kisah ini. Tindakan kecil bisa menjadi gerakan besar, tuturnya.
Ia selalu menyelipkan satu pesan di penghujung bicaranya: Setiap orang itu berbeda. Jika kita belajar menerima perbedaan, dunia akan jauh lebih damai. Semangat saling menopang akan meluas. Saya optimis, inilah seharusnya wajah dunia kita.

Proyek kolaborasi ini mengubah sudut pandang Higuchi secara drastis. Ia merasa kengerian bom atom yang merenggut nyawa siapa pun tanpa pandang bulu justru membuatnya kian menghargai pentingnya berpikiran positif.
Setelah lulus SMA, Higuchi kini mendalami bidang fesyen. Ia percaya setiap orang bisa berkontribusi pada perdamaian lewat keseharian; baginya fesyen adalah jalan itu karena mampu menghadirkan kebahagiaan bagi sesama.

Saya percaya keinginan untuk membahagiakan orang lain berkaitan erat dengan perdamaian, ujarnya. Saya ingin merancang pakaian yang mampu menghadirkan kebahagiaan bagi pemakainya.

Kekuatan Empati
Di Nagasaki, Hayashida Mitsuhiro mengajak para peserta Tur Perdamaian miliknya untuk melakukan sebuah visualisasi.
Bayangkan hari ini adalah 9 Agustus 1945, katanya kepada mereka. Seorang anak bersimbah darah memegangi kaki Anda sembari meminta air. Apa yang akan Anda lakukan?

Jawabannya sangat beragam. Banyak dari peserta tur tersebut merupakan siswa sekolah menengah atas.
'Saya rasa saya ingin membantu,' kata salah satunya. 'Tapi saya tidak tahu apakah saya benar-benar sanggup.'
'Saya pasti akan panik,' kata peserta lainnya.
Hayashida tidak menyanggah mereka. Keraguan itu justru menjadi poin utamanya. Ia ingin kaum muda membayangkan bukan hanya penderitaan, melainkan juga kebingungan — serta memahami bahwa banyak orang saat itu merasakan hal yang sama. Beberapa orang bahkan hidup dalam rasa bersalah selama bertahun-tahun atas apa yang tidak mampu mereka lakukan.

Perdamaian Berawal dari Pemahaman
Lahir di dekat hiposenter Nagasaki, Hayashida percaya bahwa empati adalah hal yang paling utama.
Perdamaian dimulai dengan memahami penderitaan orang lain, ujarnya. 'Itu adalah landasan dari segala hal yang saya lakukan.'
Ia melatih para sukarelawan muda sebagai pemandu — mitra perdamaian — untuk memperluas jejaring keterlibatan. Banyak yang mengaku ingin berkontribusi, namun tidak tahu apa yang harus dilakukan atau bagaimana caranya.

Hayashida belajar tentang kekuatan empati dari Yoshida Katsuji, seorang hibakusha. Kepada para pendengar muda, Yoshida sering berpesan: 'Jika kalian benar-benar memahami penderitaan orang lain, kalian dapat membantu mencegah konflik.'
Kata-kata yang pertama kali didengar Hayashida saat remaja itu terus membentuk pemikirannya tentang perdamaian hingga kini.
Metode Hayashida tidak hanya terpaku pada sejarah. Dalam sebuah tur, ia memutar suara sirene yang melengking tajam dari ponselnya.
'Terdengar seperti masa lalu,' ujarnya kepada para siswa. 'Namun, itu sebenarnya berasal dari Ukraina saat ini.'
Kelompok tersebut menyimak dalam keheningan.

Realitas Virtual Gambarkan Pengalaman Para Hibakusha
Seiring bertambahnya usia para penyintas bom atom dan jumlah mereka yang kian berkurang, upaya pelestarian ingatan mereka menjadi sangat mendesak. Salah satu pendekatannya adalah dengan memanfaatkan teknologi realitas virtual.

NHK memproduksi pengalaman VR berdasarkan kesaksian Kodama Mitsuo, yang baru berusia 12 tahun saat bom atom dijatuhkan di Hiroshima. Beliau wafat pada 2020, setelah puluhan tahun menceritakan apa yang ia saksikan pada hari itu.

Pagi yang Menentukan pada 1945
Pada 6 Agustus 1945, Kodama sedang berada di dalam ruang kelas tujuh. Konten VR ini menangkap suasana pagi sekolah yang lazim dengan riuh suara para siswa. Kodama mengisahkan ada 307 siswa kelas tujuh di sana hari itu, sebelum semuanya hancur berantakan dalam sekejap.

Setelah kilatan cahaya yang membutakan, Kodama merangkak keluar dari reruntuhan menuju kegelapan. Para siswa yang terluka berkumpul di kolam sekolah dengan luka bakar yang sangat parah hingga nyaris tak dapat dikenali.
Air... air... orang-orang berteriak. Punggung saya terbakar.
Seseorang memanggil namanya. Kodama menoleh, namun ia tidak bisa langsung mengenali siapa orang itu.
Saya tidak bisa melihat dengan jelas, ucap suara itu. Apa yang terjadi pada wajah saya?
Kodama mengaku selalu memikul rasa bersalah sebagai penyintas karena 288 teman sekolahnya tewas.

Saat para siswa SMA Hiroshima Kokutaiji mencoba simulasi VR tersebut, banyak yang merasa sangat terguncang hingga menangis.
Mereka semua sudah mempelajari sejarah bom atom sejak kecil. Namun, dampak dari pengalaman VR ini terasa jauh lebih nyata dari apa pun yang pernah mereka pelajari sebelumnya.
Beberapa orang terdiam seribu bahasa. Yang lain menangis tersedu-sedu atau berteriak pilu saat adegan demi adegan terungkap di hadapan mereka. Yamada Koharu tampak sangat terguncang.

Masih banyak yang harus saya pelajari, dan saya tak mungkin bisa menyamai perasaan mereka yang benar-benar mengalaminya. Namun, harapan terdalam para hibakusha hanya bisa terwujud jika kita mulai bertindak, tuturnya.
Yamada mulai mencurahkan upaya lebih pada pelajaran sejarah dan bahasa Inggris, bertekad untuk berkontribusi lebih jauh.
Ini bukan sekadar tentang penderitaan di Hiroshima, katanya. Kita harus melihat gambaran yang lebih besar. Mengajak orang untuk menghentikan perang tanpa pemahaman mendalam hanyalah idealisme kosong. Baginya, kunci perdamaian adalah memahami alasan di balik pecahnya perang.

Berupaya Sepenuh Hati
Lebih dari delapan dekade pascaperang, fokus kini bukan lagi sekadar cara mengingat, melainkan siapa yang bertanggung jawab membangun dunia tanpa kekejaman serupa. Pesan itu telah lama diserukan para hibakusha: Tiada lagi Hiroshima. Tiada lagi Nagasaki. Tiada lagi perang.
Bagi Yamada, itu berarti memilih bertindak, bukan sekadar mendengar. Bagi Higuchi, itu berarti menemukan cara menginspirasi sesama. Bagi Takiguchi, itu berarti terus bersuara dan percaya bahwa pesannya akan terus tersebar.
Tak satu pun dari mereka mengaku punya jawaban atas masa depan, namun mereka melakukan segalanya demi memastikan suara mereka didengar.
*Laporan ini disusun berdasarkan karya Oku Shotaro dan Aruga Michi dari NHK Hiroshima, serta Koyama Shoko dari NHK Nagasaki. Pelaporan tambahan dan penyuntingan dilakukan oleh Ogawa Yuuka dan Takaya Natsuko dari NHK World.
Catatan Editor: Takaya Natsuko, Produser NHK World
Serial 'Passing the Torch of Peace' diluncurkan pada 2025 untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II. Saya berharap tayangan ini mengingatkan audiens global NHK World bahwa pengeboman atom di Hiroshima dan Nagasaki meninggalkan warisan yang terus memengaruhi masyarakat hingga hari ini.
Dalam ketiga episode tersebut, muncul satu benang merah: kaum muda, yang terkadang terpisah beberapa generasi dari peristiwa pengeboman, mulai mengambil tindakan. Mereka menyatakan bahwa upaya tersebut berakar dari momen ketika mereka merasakan penderitaan para penyintas bom atom. Saya percaya kekuatan empati semacam itu dapat melampaui zaman dan batas negara, serta mendorong dunia menuju penghapusan senjata nuklir.
Tonton laporannya: '80 Years and Beyond: Passing the Torch of Peace' https://www3.nhk.or.jp/nhkworld/en/shows/3025279/
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Versi Berita.Jepang.org
- Peran
- Kurasi, terjemahan, dan penyuntingan naskah.
- Pembaruan
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.
