Perjuangan Sunyi Hibakusha Jepang-Amerika di Hiroshima
Ernest Satoru Arai, 91 tahun, selamat dari bom atom Hiroshima saat berusia 10 tahun. Kini ia berbagi kisah pahitnya sebagai relawan perdamaian di Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Perjuangan Sunyi Hibakusha Jepang-Amerika di Hiroshima


Saat memandu pengunjung di museum, ia sering berhenti di satu etalase dan menjelaskan bahwa kemeja itu miliknya. Ia menunjuk ke pakaian yang kainnya hangus akibat gelombang panas dari ledakan, dengan bekas noda darah samar yang masih terlihat. Kemeja tersebut, kini dipajang secara permanen, menjadi pengingat memilukan hari itu.

Seorang Anak di Awal Era Nuklir
Pada pagi pengeboman, Arai mendengar deru pesawat B-29 di atas kepala. Beberapa saat kemudian, ia melihat parasut melayang turun. Tiba-tiba ledakan hebat melemparnya ke udara hingga pingsan. Ia mengenang matanya dibutakan oleh kilatan cahaya putih. Saat terbangun, suasana sudah gelap gulita, dan untuk sekejap ia mengira matahari telah berubah menjadi bulan merah.

Arai berada hanya 1,7 kilometer dari pusat ledakan. Ia mengalami luka bakar parah di wajah dan beberapa bagian tubuh lainnya, sehingga harus terbaring selama satu setengah bulan. Nenek, ayah, ibu, dan saudara laki-lakinya juga terpapar radiasi. Meski semua selamat, ibunya yang tengah hamil tujuh bulan saat itu mengalami keguguran.

Bahkan hingga kini, ia masih bergulat dengan dampak jangka panjangnya. Kulit saya terbakar begitu parah hingga kelenjar keringat saya hancur, ujarnya. Kulit saya seolah tidak bisa bernapas, dan saya tidak mampu berkeringat. Rasa panas tetap terperangkap di dalam tubuh saya, bahkan hingga hari ini.

Kembali ke Amerika — Namun Ditolak
Pada 1950-an, Arai kembali ke Amerika Serikat untuk mencari peluang kerja lebih baik, tetapi kehadirannya tidak selalu diterima. Setibanya di sana, ia dipanggil untuk pemeriksaan fisik wajib militer. Saat tim pemeriksa menanyakan bekas luka luas di tubuhnya, ia menjawab: Bom atom. Ia segera dibawa ke ruang terpisah untuk diperiksa dokter yang mendokumentasikan lukanya. Akhirnya, ia dikategorikan sebagai 4F — tidak layak dinas militer.
Arai mengingat stigma sosial yang ia alami: Orang sering bertanya apa yang terjadi pada kulit saya. Saya akan menjawab bahwa ini luka bakar akibat bom. Mendengar itu, mereka biasanya memalingkan muka. Warga Amerika saat itu enggan membicarakan pengeboman — dan menurut saya, hal itu tidak banyak berubah. Puluhan tahun lamanya, Arai hidup dengan ketakutan akan dampak kesehatan jangka panjang di negara yang sebagian besar mengabaikan nasibnya.

Ketakutan Tersembunyi Seorang Hibakusha
NHK mewawancarai Arai di California, tempat ia dan keluarganya akhirnya menetap. Ia menceritakan realitas hidup seorang hibakusha — ketakutan akan masalah kesehatan yang tak terhindarkan. Ibu Arai, yang sering sakit setelah pengeboman, meninggal pada usia 61 tahun.
Setiap kali merasakan sakit, saya bertanya-tanya apakah itu akibat radiasi, kata Arai. Kecemasan itu selalu ada. Namun saya merasa tidak bisa mengungkapkannya secara terbuka kepada publik Amerika; saya takut hal itu akan memengaruhi tarif asuransi atau posisi saya di masyarakat.
Saat itu, dokter-dokter Amerika hampir tidak memiliki pengetahuan tentang efek jangka panjang radiasi. Bahkan ketika para penyintas mengeluh merasa kurang sehat, hanya sedikit dokter yang menanggapinya dengan serius. Banyak hibakusha merahasiakan riwayat mereka karena takut diskriminasi.
Memecah Kesunyian

Akhirnya, karena frustrasi dengan minimnya perawatan medis, Arai mengambil inisiatif. Pada tahun 1971, ia dan penyintas Jepang-Amerika lainnya membentuk Committee of Atomic Bomb Survivors in the United States untuk mencari dukungan pemerintah. Seruan mereka mempertemukan banyak penyintas yang sebelumnya bersembunyi, sehingga akhirnya mereka bisa berbagi cerita.
Aktivisme anggota kelompok itu akhirnya menarik perhatian nasional. Pada 1972, Newsweek menampilkan kisah para penyintas, termasuk Arai. Salah satu anggota menceritakan bagaimana ia menghabiskan lebih dari 1.000 dolar per tahun untuk menemui dokter yang tidak mampu menyembuhkan penyakit kronisnya.
Sementara penyintas di Jepang menerima dukungan medis dari pemerintah, hibakusha Jepang-Amerika dibiarkan menghadapi krisis kesehatan mereka sendirian.
Pada 1974, Arai menjadi ketua kelompok tersebut, yang mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah negara bagian California. Ia bersaksi bahwa sebagai warga negara Amerika yang terjebak di Jepang saat masih anak-anak, ia tidak bisa pulang ke tanah air. Meski memberikan kesaksian di sidang legislatif, permintaan rancangan undang-undang dukungan itu ditolak.

Misi Medis dan Terobosan yang Dinantikan Lama
Kelompok ini kemudian meminta bantuan pemerintah Jepang, bernegosiasi agar tenaga medis spesialis dikirim ke Amerika Serikat.
Pada 1977, mereka meraih keberhasilan pertama: dokter-dokter Jepang tiba di San Francisco dan Los Angeles untuk memeriksa para penyintas. Para spesialis ini memiliki keahlian khusus menangani kondisi terkait radiasi, seperti beberapa jenis kanker dan gangguan hati.
Sejak saat itu, misi medis ini digelar setiap dua tahun sekali. Kini, cakupannya telah meluas hingga Hawaii, Kanada, Amerika Selatan, dan Korea Selatan.

Pengakuan Resmi Puluhan Tahun Kemudian
Pada 1988, Arai akhirnya diakui sebagai hibakusha resmi di Jepang. Kemeja hangusnya menjadi bukti utama. Status ini memberinya akses perawatan medis gratis di Jepang. Setelah pensiun, ia dan istrinya pindah ke Hiroshima, dan pada 2007, ia mulai bekerja di Museum Peringatan Perdamaian.

Di usia 91 tahun, ia tetap merasa cemas soal kesehatannya. 'Saya ingin tahu sebanyak mungkin, jadi Saya membaca segala hal yang bisa Saya temukan, tetapi masih banyak hal yang belum kami pahami tentang apa yang terjadi pada kami.'
Saat ini, Arai tengah mengusahakan sertifikasi baru untuk memastikan sudut pandangnya sebagai hibakusha Jepang-Amerika tetap diakui. Ia ingin dunia memahami 'kecemasan tanpa akhir' yang ia dan keluarganya rasakan selama puluhan tahun di Amerika. Melalui program pelatihan Kota Hiroshima, ia terus berupaya memastikan sejarah unik para penyintas luar negeri tidak terlupakan.

Catatan Editor: Hashimoto Tomomi dari NHK World
Saya pertama kali bertemu Tuan Arai di Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima tujuh tahun lalu. Sebelumnya, saya harus mengakui bahwa saya belum begitu mengenal penderitaan para hibakusha Jepang-Amerika.
Selama bertahun-tahun sejak pertemuan itu, dengan mendengarkan kisah Tuan Arai dan mempelajari pengalamannya, saya mulai memahami bahwa meski ada perawatan medis, ketakutan mendalam terhadap dampak radiasi pada tubuh tidak pernah benar-benar hilang.
Kisah-kisah para penyintas keturunan Jepang-Amerika memaksa saya melihat melampaui sejarah Hiroshima dan Nagasaki, menyoroti warisan pengujian nuklir di seluruh dunia.
Sejak 1945, lebih dari 2.000 uji coba nuklir telah dilakukan di berbagai belahan dunia. Siklus pengembangan dan pengujian senjata nuklir yang terus-menerus meninggalkan jejak paparan radiasi di seluruh planet. Saat ini, semakin banyak orang muncul untuk mencari bantuan medis dan menuntut pengakuan atas masalah kesehatan yang mereka alami.
Ketangguhan yang saya saksikan pada hibakusha keturunan Jepang-Amerika memberi saya keberanian untuk menyuarakan nasib mereka yang lain. Sangat penting bagi dunia untuk memahami penderitaan korban paparan radioaktif, terutama para 'downwinders' yang masih menanggung dampak dari era nuklir.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.





