Lewati ke konten utama
Berita.Jepang.org

Delapan Dekade Menanti Pengakuan bagi Warga Jepang yang Tertinggal di Filipina

Rosalina Harada Mondragon, yang lahir di Filipina pada 1940 dari ayah berkebangsaan Jepang yang tewas dalam Perang Pasifik, telah menunggu seumur hidupnya untuk diakui sebagai warga negara Jepang. Delapan dekade setelah perang berakhir, ia termasuk 50 penyintas yang masih berjuang agar diakui oleh Jepang.

NHK WORLD12 mnt

Bagikan Artikel

Rosalina Harada Mondragon menatap ke kejauhan mengenang ayahnya

Visual Utama

Delapan Dekade Menanti Pengakuan bagi Warga Jepang yang Tertinggal di Filipina

Tutup
Rosalina Harada Mondragon menatap ke kejauhan mengenang ayahnya
Rosalina Harada Mondragon
Rosalina Harada Mondragon

Kenangan yang Memudar tentang Ayah Jepang

Rosalina masih mengingat kisah ibunya, seorang perempuan Filipina, tentang ayahnya. Saat saya masih bayi, ia tiba-tiba menghilang. Mereka bilang ia dilempar ke dalam lubang dan tewas terkena granat tangan. Ibu memberi tahu saya bahwa ia sudah meninggal, dan tidak ada yang bisa ia lakukan.

Ibunya terpaksa membesarkan Rosalina dan empat saudara kandungnya dalam kemiskinan di daerah terpencil di Provinsi Palawan. Mereka bertahan hidup dari hari ke hari dengan apa pun yang bisa mereka tangkap atau panen.

Sebagai anak dari ayah berkebangsaan Jepang, seharusnya Rosalina menjadi warga negara Jepang. Pada masa itu, kewarganegaraan di kedua negara diwariskan melalui ayah. Namun tanpa dokumen yang membuktikan hubungan itu, Rosalina dan banyak orang lain senasib dengannya menjadi tanpa kewarganegaraan.

Surga yang Hilang

Kehidupan di komunitas Jepang
Kehidupan di komunitas Jepang

Sebelum Perang Pasifik, Filipina, yang saat itu merupakan koloni AS, menjadi rumah bagi komunitas Jepang terbesar di Asia Tenggara. Lebih dari 30.000 orang pindah ke sana untuk mencari kehidupan yang lebih baik, lalu membangun bisnis, sekolah, dan lingkungan yang menyatu dengan masyarakat setempat.

Carlos Teraoka, yang lahir pada 1930, adalah salah satu dari segelintir orang yang masih mengingat kehidupan di Filipina sebelum perang.

Carlos Teraoka
Carlos Teraoka

Kami orang Jepang dihormati karena kejujuran dan kerja keras kami. Di sepanjang Session Road, jalan utama di Baguio, sebagian besar toko dimiliki orang Jepang. Itulah masa paling damai bagi komunitas Jepang.

Seperti ayah Carlos, Muneo, banyak pemukim Jepang menikahi perempuan Filipina dan mulai membangun keluarga. Mereka tengah merintis masa depan bersama.

Ayah Carlos, Muneo, ibunya, Antonina, dan kakak-kakak laki-lakinya
Ayah Carlos, Muneo, ibunya, Antonina, dan kakak-kakak laki-lakinya

Perang Meruntuhkan Ikatan

Pada Desember 1941, Perang Pasifik pecah. Pasukan Jepang datang dalam kekuatan penuh, dan dalam hitungan bulan, sebagian besar wilayah Filipina berada di bawah kendali mereka. Banyak ayah berdarah Jepang direkrut menjadi tentara negara asal mereka, lalu harus berperang melawan tetangga mereka sendiri.

Militer Kekaisaran Jepang di Manila
Militer Kekaisaran Jepang di Manila
Banyak warga Filipina bergabung dalam perjuangan gerilya melawan Jepang.
Banyak warga Filipina bergabung dalam perjuangan gerilya melawan Jepang.

Carlos mengenang bahwa para gerilyawan sangat membenci keturunan Jepang generasi kedua, karena mereka menguasai bahasa Jepang, dialek lokal, serta bahasa Inggris. Banyak di antara mereka kemudian dijadikan penerjemah.

Keluarga Carlos Teraoka. Carlos berdiri di baris belakang paling kiri.
Keluarga Carlos Teraoka. Carlos berdiri di baris belakang paling kiri.

Dengan negara ayahnya berperang melawan negara ibunya, Carlos mengatakan bahwa musuh ada di setiap sisi.

Kakak laki-laki kedua saya sedang dalam perjalanan dari Manila ke Baguio ketika para gerilyawan menangkap dan membunuhnya. Kakak tertua saya bekerja untuk militer Jepang, tetapi dituduh sebagai mata-mata karena mengisap rokok Amerika, lalu dibunuh. Ibu saya dan saudara lainnya tewas dalam serangan Amerika. Kami dianggap sebagai musuh oleh ketiga pihak tersebut.

Manila yang terbakar.
Manila yang terbakar.

Pada akhir perang, lebih dari satu juta warga Filipina, sebagian besar warga sipil, dan sekitar setengah juta warga Jepang, yang mayoritas personel militer, telah tewas. Sentimen anti-Jepang pun meluas. Sejumlah warga Filipina menyasar orang-orang yang dianggap kolaborator serta keturunan Jepang.

Ditinggalkan

Tak lama kemudian, warga Jepang direpatriasi secara paksa oleh militer AS. Namun, istri mereka yang berkewarganegaraan Filipina dan anak-anak mereka biasanya ditinggalkan di Filipina ketika kapal-kapal itu berangkat.

Masaru Ogata adalah satu dari ribuan anak yang terpaksa mengucapkan selamat tinggal kepada ayah mereka.

Masaru Ogata pada 2010
Masaru Ogata pada 2010

Saat diwawancarai NHK pada 2010, ia masih dapat mengingat momen terakhir mereka bersama: Ayah memanggil nama saya, Masaru! Matanya berlinang air mata. Saya menangis begitu keras sampai pakaian saya basah kuyup. Itulah perpisahan terakhir kami. Saya memanggil, Ayah! Hidup saya pasti akan sangat berbeda seandainya saya bisa ikut bersamanya.

Bagi banyak anak, berakhirnya perang tidak membawa kedamaian. Setelah kehilangan ayah, mereka juga harus menghadapi ketidakadilan dari warga Filipina yang masih menyimpan trauma akibat perang.

Rodolfo Nakama pada 2019
Rodolfo Nakama pada 2019

Rodolfo Nakama mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang letnan di tentara Jepang. Di Filipina pada masa kecilnya, fakta itu saja sudah cukup untuk menjadikannya sasaran. Sewaktu kecil, mereka menggantung saya di pohon dan memukuli saya, meninggalkan luka memar di sekujur tubuh saya.

Carlos Teraoka
Carlos Teraoka

Carlos ingat betul bagaimana nama belakang keluarganya saja bisa menjadi beban.

'Saya sering tidak memakai nama Teraoka. Saya malah menggunakan nama belakang ibu Saya. Orang-orang bilang, itu karena kamu Orang Jepang. Orang Jepang sangat dibenci, terutama keturunannya.'

Setelah perang, otoritas Filipina menyita harta milik warga Jepang. Tanpa sumber penghidupan dari sang ayah, ibu Rosalina dan keempat saudaranya terpaksa berjuang sendiri untuk bertahan hidup.

Rosalina Harada Mondragon sedang menyiapkan makan malam
Rosalina Harada Mondragon sedang menyiapkan makan malam

'Saya anak bungsu. Kakak laki-laki Saya bekerja agar Saya bisa bersekolah. Tapi saya hanya sempat belajar sampai kelas dua SD.'

Anak-anak yang ditinggalkan ini kini berusia 80-an tahun atau lebih. Bagi mereka, impian memperoleh kewarganegaraan Jepang bukan sekadar memulihkan jati diri. Mereka juga ingin membuka jalan bagi generasi berikutnya untuk tinggal dan bekerja di Jepang.

Namun, harapan itu sudah lama terhambat oleh berbagai kendala hukum.

Terlantar tanpa Kewarganegaraan

Setidaknya 3.815 anak tetap berada di Filipina setelah perang berakhir, dan banyak di antara mereka kemudian menjadi tanpa kewarganegaraan. Hukum di kedua negara saat itu menetapkan bahwa kewarganegaraan mengikuti ayah. Namun, banyak dari mereka tidak memiliki dokumen untuk membuktikan hubungan tersebut.

Kawai Hiroyuki, pengacara
Kawai Hiroyuki, pengacara

Pengacara Kawai Hiroyuki telah menghabiskan puluhan tahun membantu keturunan Jepang di Filipina menempuh jalur kewarganegaraan. Ia mengatakan anak-anak dari ayah berkebangsaan Jepang terjebak dalam ketidakpastian hukum.

Mereka tidak pernah memperoleh kewarganegaraan Filipina. Mereka hidup di sana tanpa diperhatikan. Secara hukum mereka tetap orang Jepang. Namun, tanpa dokumen untuk membuktikannya, mereka pada akhirnya menjadi tanpa kewarganegaraan.

Pengakuan Tidak Otomatis

Kawai mengatakan bahwa meskipun setiap anak dari ayah berkebangsaan Jepang dianggap sebagai warga Jepang menurut hukum kewarganegaraan lama Jepang, persoalannya adalah pengakuan itu tidak terjadi secara otomatis. Hubungan ayah dan anak harus dibuktikan, dan hal itu memerlukan dokumen yang tidak dimiliki banyak keluarga.

Untuk membuktikan bahwa anak itu lahir dari orang tua yang menikah secara sah, Anda memerlukan akta nikah dan akta kelahiran, jelasnya.

Namun, di tengah kebencian terhadap orang Jepang, banyak keluarga berusaha menyembunyikan identitas mereka. Banyak yang kehilangan, bahkan membuang, dokumen mereka.

Kawai mencatat bahwa berdasarkan bunyi hukum, tidak ada keraguan bahwa mereka adalah orang Jepang. Mereka memang memiliki kewarganegaraan, tetapi itu hanya sebatas nama. Mereka tidak bisa memperoleh paspor atau perlindungan dari Jepang.

Satu-satunya Harapan

Enam tahun lalu, keluarga Rosalina meminta bantuan kepada Philippine Nikkei-jin Legal Support Center (PNLSC), sebuah organisasi nirlaba yang membantu keturunan Jepang melacak ayah mereka. Tanpa catatan yang dapat diandalkan, para anggota organisasi itu mula-mula mengumpulkan kesaksian. Sekecil apa pun, informasi apa pun dapat membantu menyusun perkara di pengadilan Jepang.

Staf PNLSC dan Rosalina Harada Mondragon
Staf PNLSC dan Rosalina Harada Mondragon

Bagi mereka yang tertinggal tanpa dokumen, PNLSC telah menjadi satu-satunya jalan ke depan. Selama dua dekade, timnya telah membantu lebih dari 300 keturunan Jepang memperoleh kewarganegaraan dengan menyusun petunjuk dari catatan masa perang yang sudah usang dan tercecer.

Setelah bertahun-tahun mencari, organisasi itu akhirnya mengidentifikasi seseorang yang rinciannya sangat cocok dengan keterangan Rosalina dan keluarganya. Sebuah berkas lama pemerintah menunjukkan bahwa seorang pria bernama Harada Kameichi berangkat dari Nagasaki menuju Filipina pada 15 April 1917. Organisasi nirlaba itu meyakini bahwa dialah ayah Rosalina.

Nama Harada Kameichi dalam dokumen lama pemerintah
Nama Harada Kameichi dalam dokumen lama pemerintah

Perjuangan demi Pengakuan

Menjelang 1980-an, sentimen anti-Jepang mulai mereda, dan para keturunan pun bersatu untuk mendesak Tokyo agar akhirnya mengakui keberadaan mereka.

Di tengah desakan keluarga agar mereka diakui, pemerintah Jepang melakukan survei pada 1988 untuk menentukan apakah ada keturunan di Filipina yang perlu mereka bantu.

Dua tahun kemudian, Jepang mengumumkan bahwa hanya dua keturunan yang memenuhi syarat. Keduanya lahir dari pasangan sesama orang Jepang. Tidak ada anak dari orang tua campuran yang disertakan.

Kebijakan Jepang seusai Perang

Takenoshita Kazuo adalah pejabat Kementerian Kesehatan yang saat itu menangani langsung penyelesaian pascaperang. Ia menjelaskan mengapa pemerintah Jepang begitu ragu untuk turun tangan.

Takenoshita Kazuo, mantan pejabat Kementerian Kesehatan
Takenoshita Kazuo, mantan pejabat Kementerian Kesehatan

Ayah mereka menikah di sana dan memiliki anak. Jika orang tua mereka telah mendaftarkan diri di konsulat, sesuai hukum kewarganegaraan saat itu, sang istri juga akan menjadi warga negara Jepang. Namun, kebanyakan tidak pernah mendaftar. Karena itu, anak-anak mereka tidak dipandang sebagai warga Jepang yang perlu dipulangkan negara, melainkan sebagai orang-orang yang memilih untuk tetap tinggal.

Jika kami membantu anak-anak yang hanya memiliki satu orang tua berkebangsaan Jepang, kasus-kasus baru akan terus muncul di bekas koloni Barat. Menurut saya, penyelesaian pascaperang tidak akan pernah benar-benar selesai.

Takenoshita mencatat bahwa bagi anak-anak yang tumbuh dalam perundungan dan penelantaran, Jepang tentu tampak sebagai negeri yang tak berbelas kasih.

Permohonan kepada Jepang

Mereka yang tertinggal harus mengandalkan donasi dan kelompok masyarakat untuk membantu mereka pergi ke Jepang demi mencari bukti hubungan keluarga.

Carlos Teraoka bersama delegasi keturunan pada tahun 1998
Carlos Teraoka bersama delegasi keturunan pada tahun 1998

Carlos telah memimpin berbagai permohonan bantuan kepada para politisi Jepang. Ia mengatakan bahwa tampaknya rakyat Jepang telah melupakan perang. Ia berkata, saya sudah berulang kali memohon. Saya bahkan memohon langsung di hadapan para pembuat undang-undang. Namun tetap saja, tidak ada yang mau bertindak.

Terlambat bagi Sebagian Orang

Delapan dekade telah berlalu, dan waktu kian menipis. Sekitar 1.800 orang telah meninggal tanpa kewarganegaraan. Rodolfo adalah salah satu dari mereka. Ia meninggal pada usia 80 tahun tahun lalu. Putranya yang berduka, Ejay, mengatakan bahwa kata-kata terakhir ayahnya kepada keluarga adalah bahwa mereka tidak boleh pernah melupakan bahwa mereka adalah keturunan Jepang.

Rodolfo Nakama meninggal dunia pada tahun 2024.
Rodolfo Nakama meninggal dunia pada tahun 2024.

Pernyataan Perdana Menteri

Pada Maret 2025, Perdana Menteri Jepang saat itu, Ishiba Shigeru, membahas persoalan tersebut di Diet.

Menurutnya, sudah sewajarnya Jepang menanggung biaya perjalanan para keturunan ini untuk mencari kerabat mereka, sebuah perkembangan yang disambut baik oleh sejumlah pihak.

Perdana Menteri Jepang saat itu, Ishiba Shigeru
Perdana Menteri Jepang saat itu, Ishiba Shigeru

Jose Takei: Bertemu Saudara Laki-Laki yang Tak Pernah Dikenalnya

Salah satunya adalah Jose Takei, 82 tahun, yang menghabiskan sebagian besar hidupnya mencari ayah Jepangnya yang tak pernah ia temui. Yang ia miliki hanya serpihan kisah yang kerap diceritakan ibunya, Benita, tentang pria yang meninggalkannya di tengah kekacauan perang dan tak pernah kembali.

Jose Takei bersama ibunya, Benita
Jose Takei bersama ibunya, Benita

Saat ayah pergi, saya masih berada dalam kandungan ibu, katanya. Ayah mengatakan kepada ibu bahwa ia akan kembali ke Filipina. Namun ia tidak pernah kembali. Dan saya merasa ayah telah menelantarkan saya.

Benita terus mendatangi Kedutaan Besar Jepang bahkan setelah menikah lagi, untuk menanyakan apakah ayah Jose masih hidup. Namun, tanpa surat nikah, permintaannya ditolak.

Dua dekade lalu, Jose mendatangi PNLSC untuk meminta bantuan. Tidak ada dokumen, tidak ada catatan pernikahan, bahkan tidak ada akta kelahiran.

Jose Takei, putrinya, dan Direktur Perwakilan PNLSC, Inomata Norihiro
Jose Takei, putrinya, dan Direktur Perwakilan PNLSC, Inomata Norihiro

Selama bertahun-tahun, upaya itu tidak membuahkan hasil. Namun pada 2009, para peneliti di NPO tersebut menemukan daftar nama dari masa perang yang mencantumkan seorang tentara bernama Takei Ginjiro. Mereka meyakini Ginjiro adalah ayah Jose.

Dokumen yang memuat nama Takei Ginjiro
Dokumen yang memuat nama Takei Ginjiro

Ia selamat dari perang, memulai hidup baru di Osaka, dan membesarkan keluarga lain. Putra Ginjiro di Jepang menyetujui tes DNA, yang mengonfirmasi hubungan tersebut.

Pada bulan Juli, pemerintah Jepang mengumumkan akan mensponsori kunjungan seorang keturunan. Jose terpilih berkat bukti DNA tersebut.

Bagi sebagian besar orang, pintu menuju negara ayah mereka tetap tertutup. Namun bagi Jose, ini menjadi kesempatan untuk akhirnya bertemu saudara tirinya.

Sebelum berangkat, Jose Takei mengunjungi makam ibunya.
Sebelum berangkat, Jose Takei mengunjungi makam ibunya.

Perasaan Jose campur aduk. Saya merasa bersemangat dan bahagia bisa bertemu dengannya secara langsung, katanya kepada NHK saat itu. Namun saya tidak tahu apakah dia juga sama bersemangatnya. Saya khawatir apakah dia akan menerima kenyataan bahwa dia memiliki kakak laki-laki di Filipina.

Saya Hiroyuki

Pada Agustus 2025, Jose tiba di Osaka, tempat ayahnya dulu membangun kehidupan keduanya. Di sana, saudara tirinya, Hiroyuki, sudah menunggunya.

Jose Takei bertemu dengan saudara tirinya, Hiroyuki.
Jose Takei bertemu dengan saudara tirinya, Hiroyuki.

Akhirnya bertemu, keduanya berbicara pelan.

Saya Hiroyuki. Umurmu berapa? 73.

Jose lalu mengalihkan percakapan ke sosok ayah yang tidak pernah ia temui.

Apakah ayah kita baik padamu? Ya, dia baik. Apakah dia galang? Apakah dia pernah memukulmu? Hanya sekali. Kalau begitu, dia orang baik.

Hiroyuki telah menyiapkan potret dan papan arwah kecil milik ayah mereka.

Potret dan papan arwah Takei Ginjiro
Potret dan papan arwah Takei Ginjiro

Saya sangat bersyukur Jose bisa hidup sampai usia 80 tahun, kata Hiroyuki. Saya merasa ini adalah takdir. Saya senang kita bisa bertemu. Saya pernah mendengar ayah pergi ke suatu tempat selama perang, tetapi saya tidak pernah tahu tempat itu adalah Filipina. Saya pikir mungkin dia merahasiakannya karena hal itu membangkitkan kenangan tentang pembunuhan.

Mereka kemudian pergi bersama ke makam Ginjiro.

Ayah, jangan cemaskan kami yang masih hidup di dunia ini, doa Jose. Perang itu mengerikan. Perang merenggut begitu banyak nyawa. Ini tidak boleh terjadi lagi.

Jose Takei dan putranya bersama Hiroyuki di makam ayah mereka
Jose Takei dan putranya bersama Hiroyuki di makam ayah mereka

Meski reuni telah terjadi, pengakuan hukum masih jauh dari pasti. Pada bulan September, Pengadilan Keluarga Tokyo menolak klaim kewarganegaraan Jepang Jose karena kurangnya catatan yang membuktikan bahwa ayahnya telah mengakui statusnya sebagai anak.

Pengacaranya menyatakan putusan pengadilan itu mengabaikan sains, dan banding telah diajukan ke Pengadilan Tinggi Tokyo.

Penantian Masih Berlanjut

Bagi Rosalina, ada secercah kemajuan. Ia telah memperoleh catatan pernikahan resmi orang tuanya, dan pada September tahun ini, ia mengajukan permohonan untuk memperoleh kewarganegaraan Jepang.

Apakah permohonan itu akan disetujui masih belum pasti.

Bagi Rosalina, Jose, dan yang lainnya, penantian untuk memperoleh pengakuan masih terus berlanjut.

Rosalina Harada Mondragon
Rosalina Harada Mondragon

Tonton Dokumenter lengkapnya (* WORLD-Japan) STATELESS: Warga Jepang yang Tertinggal di Filipina ― Dokumenter 360 [https://www.youtube.com/watch?v=uG4JJU5UdGk

Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB

Sumber Berita

Penerbit
NHK WORLD
Tanggal Sumber
Pranala Sumber

Dengarkan Artikel

Putar versi audio langsung dari browser Anda.

Menyiapkan audio browser...

Kata Kunci

Jejak Topik

Komentar Pembaca

Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.