Para Ayah di Jepang Berjuang Menghadapi Beban Ganda
Semakin banyak ayah di Jepang mengambil cuti paternitas dan terlibat dalam pengasuhan anak, tetapi banyak yang tetap dibebani budaya kerja panjang dan minim dukungan di kantor. Di tengah pergeseran ini, sebagian pria mulai menghadapi tekanan mental yang selama ini lebih sering dikaitkan dengan ibu.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Para Ayah di Jepang Berjuang Menghadapi Beban Ganda

Jepang sedang mengalami pergeseran sosial besar. Survei pemerintah pada tahun fiskal lalu menunjukkan persentase ayah yang mengambil cuti paternitas melampaui 40 persen, tertinggi sepanjang sejarah. Meski begitu, banyak pria masih hanya mengambil cuti singkat dari pekerjaan, sebuah tren yang sejalan dengan panjangnya jam kerja di Jepang dan rendahnya tingkat kelahiran.
Seiring pria semakin terlibat dalam membesarkan anak, sebagian mulai menghadapi masalah kesehatan mental yang selama ini lebih sering dilaporkan oleh ibu.
Klinik Pertama di Jepang untuk Depresi Pascapersalinan pada Ayah

Tahun lalu, Rumah Sakit Universitas Shinshu di Prefektur Nagano membuka klinik pertama di Jepang yang khusus membantu para ayah mengatasi depresi pascapersalinan.
Salah satu pasiennya, Ito Yoshiki, mengatakan masalah mulai muncul bagi dirinya dan istrinya, Rena, setelah anak pertama mereka meninggal dalam kandungan. Ketika kondisi fisik dan mental istrinya memburuk, Ito berusaha sekuat tenaga untuk mendukungnya. Namun, ia juga ikut menderita. Ia sulit tidur dan mulai mengalami gangguan kesehatannya sendiri.

Ito kini berangsur pulih. Namun, karena pasangan itu sedang menantikan anak kedua, ia masih datang ke klinik untuk berkonsultasi. Ia mengaku, tanpa kunjungan itu, mungkin ia tidak akan pernah bisa terbuka.
Sebagai laki-laki, kamu harus kuat. Sebagai laki-laki, kamu tidak boleh menunjukkan kelemahan, kata Ito. Saya rasa tekanan itu makin saya rasakan karena pandangan seperti itu.
Murakami Hiroshi, seorang dokter di rumah sakit yang berspesialisasi dalam kesehatan mental perinatal, mengatakan bahwa ia menangani sekitar 20 ayah setiap tahun. Ia menjelaskan bahwa gagasan layanan rawat jalan ini berawal dari pengalamannya merawat perempuan dengan depresi pascapersalinan, yang juga mengkhawatirkan kesehatan mental suami mereka.

Jika kita ingin mendorong para pria mengambil peran lebih besar dalam pengasuhan anak atau mengambil cuti mengasuh anak, saya rasa kita juga perlu memberi perhatian pada kesehatan mental mereka, ujar Murakami.
Menurut saya, kita perlu menyadari bahwa mereka yang menjalani pekerjaan dan pengasuhan anak dengan sungguh-sungguh justru sering menjadi pihak yang paling rentan terhadap masalah. Karena itu, kebijakan dan dukungan kesehatan mental harus berjalan beriringan.
Karier dan Pengasuhan Anak: Bukan Lagi Isu Khusus Perempuan

Bagi sebagian ayah, persoalannya terletak pada pekerjaan. Kawanishi Keiji dan istrinya memiliki tiga anak, dan keduanya sama-sama bekerja. Pada hari kerja, Kawanishi yang menjemput anak mereka di tempat penitipan. Namun, semuanya tidak selalu berjalan semudah itu.
Sebelum anak-anaknya lahir, ia sering bekerja hingga larut malam. Saat pasangan itu menantikan kelahiran anak pertama, Kawanishi ingin lebih fokus mengasuh anak.

Ia kemudian menemukan pekerjaan baru dengan lembur kurang dari 10 jam per bulan. Namun, ketika ia mengambil cuti untuk merawat anaknya yang sakit, atasannya terlihat tidak senang.
Menurut Kawanishi, atasannya menyiratkan bahwa laki-laki seharusnya tidak mengambil cuti seperti itu.
Ia mengatakan kepada saya secara terus terang bahwa jika saya meninggalkan pekerjaan untuk urusan seperti itu, ia tidak bisa memberi saya tanggung jawab yang lebih besar atau meminta saya menangani tugas yang lebih penting.
Kawanishi pun kembali berganti pekerjaan demi meringankan beban istrinya.
Ia mengatakan bahwa bila masyarakat bisa menerima bahwa ada banyak cara untuk menjadi ayah, dengan gaya bekerja dan cara hidup yang berbeda-beda, maka ia tidak akan merasa perlu berganti pekerjaan hanya agar semuanya berjalan lancar.

Dukungan Karier untuk Orang Tua Bekerja
Di seluruh Jepang, banyak pria seperti Kawanishi yang berusaha menemukan keseimbangan hidup yang lebih baik. Dalam sebuah acara di Tokyo yang baru-baru ini digelar oleh XTalent, perusahaan penyedia bimbingan karier bagi orang tua bekerja, para orang tua yang pernah memakai layanannya untuk pindah kerja bertemu dengan mereka yang sedang mempertimbangkan langkah serupa. Perusahaan itu menyebutkan bahwa 30 persen pengguna layanannya adalah pria.

Seorang ayah dengan dua anak mengatakan bahwa karena bekerja di bidang penjualan, terus terang pekerjaannya cenderung lebih diutamakan. Ia merasa sangat sulit untuk terlibat dalam pengasuhan anak seperti yang diinginkannya.

Uehara Tatsuya mendirikan XTalent setelah ia sendiri mengalami kesulitan menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dan pengasuhan anak yang sama-sama besar.
Dengan menurunnya populasi usia kerja, gagasan tradisional bahwa karyawan harus bertahan di satu perusahaan sepanjang karier mereka mulai bergeser. Menurut saya, ini adalah titik balik. Perusahaan perlu memikirkan kembali cara mereka memperlakukan karyawan jika ingin menarik dan mempertahankan talenta terbaik.
Uehara mengatakan perusahaan perlu menunjukkan kepedulian yang lebih besar kepada karyawannya, bukan hanya demi kesehatan bisnis, tetapi juga demi kesehatan keluarga yang menopang mereka.

Analisis: Katsumata Chieko dari NHK World

Meski upaya pemerintah dan reformasi hukum telah mendorong lonjakan tajam dalam pengambilan cuti ayah, sebagian besar masyarakat Jepang masih memegang pola pikir lama: pria bekerja, wanita membesarkan anak.
Pandangan itu masih sangat kuat, terutama di kalangan eksekutif. Banyak perusahaan tidak mengharapkan para ayah tetap berperan aktif dalam mengasuh anak setelah masa cuti ayah mereka berakhir.
Pakar budaya kerja, Profesor Universitas Kyoto Shibata Haruka, mengatakan bahwa perubahan sangat dibutuhkan.

Grafik yang ia susun memperlihatkan jam kerja pria di negara-negara G7 dan Korea Selatan, beserta tingkat kelahiran di masing-masing negara. Negara-negara dengan jam kerja lebih panjang, seperti Jepang dan Korea Selatan, cenderung memiliki tingkat kelahiran yang lebih rendah.
Shibata mengatakan bahwa laki-laki di Jepang diharapkan bekerja dalam jam panjang sambil tetap berusaha membantu pekerjaan rumah tangga atau mengasuh anak. Akibatnya, mereka mengorbankan waktu pribadi dan mengurangi waktu tidur.

Ia menyarankan bahwa jika tarif lembur di Jepang dinaikkan sekitar 50 persen, seperti di Eropa dan AS, perusahaan mungkin akan merekrut lebih banyak staf atau berinvestasi dalam digitalisasi dan AI, alih-alih terus mengandalkan para pria ini untuk bekerja dalam jam panjang. Perubahan semacam itu akan menguntungkan Jepang secara keseluruhan.
Banyak orang di Jepang berharap bahwa apa yang terjadi saat ini dapat membawa perubahan yang bertahan lama. Jika masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan, dapat menyeimbangkan pekerjaan dan pengasuhan anak dengan bahagia, kita bisa membangun masa depan yang lebih adil bagi semua orang.
VIDEO: Analisis: Bagaimana masyarakat Jepang menekan para ayah saat ini
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.

