Generasi Muda Asia Lestarikan Kenangan Kampanye Burma di Kuil Wakayama
Peringatan ke-60 kampanye Burma di Wakayama menghormati 190.000 tentara Jepang dan warga sipil yang gugur dalam salah satu pertempuran tersengit Perang Dunia Kedua. Kehadiran mahasiswa Myanmar dan sejarawan Singapura menjadi simbol estafet ingatan sejarah di tengah menyusutnya jumlah veteran perang.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Generasi Muda Asia Lestarikan Kenangan Kampanye Burma di Kuil Wakayama


Siaran Langsung Jangkau Khalayak Lebih Luas
Upacara ini pertama kali digagas di kuil Jofuku-in, Gunung Koya, oleh mendiang pendetanya, Ueda Tenzui. Ia membangun sebuah pagoda di sana sebagai bentuk penebusan atas keterlibatannya dalam Kampanye Burma, sembari bersumpah bersama veteran perang lainnya untuk terus menyuarakan perdamaian.
Biasanya sekitar 2.000 orang hadir, namun kini jumlahnya menyusut hingga tersisa sekitar 100 orang saja. Sebagian besar peserta adalah lansia, termasuk keluarga dari mereka yang gugur dalam perang.

Berkat Moe Chann, mahasiswa berusia 20 tahun, khalayak yang lebih luas dapat turut berpartisipasi tahun ini melalui siaran langsung yang ia siapkan.

Termasuk di antaranya adalah veteran kampanye Burma, Hosotani Hiroshi (106 tahun), yang menyaksikan rekaman upacara tersebut keesokan harinya di kediamannya di Prefektur Hyogo.

Jembatan antara Jepang dan Myanmar
Moe Chann, yang lahir dan besar di Jepang dari orang tua asal Myanmar, pertama kali mengikuti upacara peringatan ini pada tahun 2023.
Ia diundang oleh Shirai Minoru (81 tahun), anggota pengurus Asosiasi Koyasan Burma Nagomi yang ayahnya, seorang penerjemah sipil, gugur dalam kampanye Burma.

Lebih dari 30 tahun lalu, Shirai mengunjungi Myanmar dan menemukan sebuah sekolah di wilayah tempat ayahnya gugur. Ia memutuskan untuk mendukung lembaga tersebut, yang kemudian memicu gerakan lebih luas untuk membantu pendidikan di sana melalui penggalangan dana dan hibah. Hingga kini, enam sekolah baru telah berhasil dibangun.
Moe Chann telah membantu kampanye Shirai sejak masa SMA, termasuk dalam kegiatan penerjemahan.
'Saya mengajaknya bergabung dengan harapan ia bisa menjadi jembatan antara Jepang dan Myanmar,' jelas Shirai.

Menyuarakan Perdamaian
Dalam upacara peringatan tahun lalu, Shirai meminta Moe Chann menyampaikan pembacaan khusus.

'Banyak orang yang gugur dalam pertempuran itu seumuran dengan saya, dan saya merasa kita tidak boleh melupakan mereka,' kata Moe Chann, seraya menambahkan bahwa ia selalu memikirkan cara berkontribusi bagi hubungan antara Jepang dan Myanmar.
Sangat penting untuk mewariskan sejarah ini kepada masyarakat Jepang dan Myanmar demi menghargai nilai perdamaian.
Moe Chann kini menempuh tahun ketiga di Universitas Tokyo dengan jurusan pengembangan pertanian berkelanjutan internasional. Bersama rekan mahasiswa lainnya, ia kerap mengadakan acara untuk memperkenalkan budaya Myanmar.

Ia mengatakan pengalamannya dalam upacara peringatan tersebut telah mengajarkannya bahwa perdamaian dapat dibangun melalui pertukaran budaya yang gigih: Saya berharap kita dapat menjangkau lebih banyak orang di seluruh dunia untuk mempromosikan perdamaian dan empati, tidak hanya bagi mereka di Jepang dan Myanmar.
Berbagi Cerita
Sejarawan Ling Xi Min menjadi sosok baru di tengah kerumunan peringatan tahun ini setelah menempuh perjalanan dari Singapura untuk hadir. Ia adalah kandidat PhD di departemen sejarah sebuah perguruan tinggi Amerika Serikat: Universitas Northwestern di Illinois.

Ling sedang meneliti bagaimana veteran Jepang memengaruhi komunitas mereka sekembalinya dari pertempuran di negara-negara Asia Tenggara, termasuk melalui pertukaran internasional dan kegiatan amal.

Ia berkesempatan bertemu Fujiwara Yoshiko (70), yang berkomitmen menjaga warisan mendiang ayahnya, Imasato Shukuro, seorang veteran kampanye Burma.

Usai perang, Imasato rutin menghadiri upacara peringatan di Jepang dan Myanmar untuk menghormati para korban konflik tersebut. Di usia 84 tahun, ia membaktikan diri pada jalan spiritual dengan menjadi biksu di Myanmar, memimpin berbagai upacara untuk mengenang mereka yang gugur.

Upacara peringatan bagi korban perang bukan hanya untuk warga Jepang, melainkan juga bagi penduduk setempat yang gugur di Myanmar, ungkap Fujiwara. Mengingat besarnya kehancuran dan penderitaan di medan perang, ia berharap semua pihak dapat saling memahami dengan merenungkan masa lalu melalui hubungan yang setara.
Ling mengetahui perihal upacara peringatan tersebut dari Nakao Yoshinobu (52). Mendiang kakeknya, Nakao Sakuzo, juga berperang dalam kampanye Burma sebelum akhirnya mendedikasikan diri pada kegiatan amal untuk mendukung pendidikan serta pertanian di Myanmar.

Saya ingat kakek berulang kali mengatakan bahwa perang tidak boleh terulang lagi. Saya meneruskan kegiatannya untuk mencoba memenuhi harapan beliau dengan cara tertentu, kata Yoshinobu.

Ling mengamati bahwa tekad Nakao Sakuzo telah diwariskan turun-temurun hingga ke cucu-cucunya. Banyak tentara merasakan sentimen antiperang yang kuat. Dengan cara masing-masing, mereka ingin menebus kesalahan masa lalu, baik atas tindakan pribadi maupun atas nama mesin militer negara. Mereka berupaya memastikan sejarah kelam tidak terulang melalui diplomasi akar rumput yang mereka bangun sendiri.
Perang benar-benar menjadi pengalaman transformatif bagi para veteran, tutur Ling. Seluruh pandangan dunia mereka berubah. Nilai moral serta sikap hidup itulah yang kemudian menjadi pesan utama untuk mereka sampaikan kepada anak-anak mereka.
Kenangan demi Masa Depan

Nakashita Zuiho, kepala pendeta Kuil Jofuku-in, terus menyelenggarakan upacara peringatan dan pernah mengadakan acara serupa di Myanmar. Sebagai salah satu murid Tenzui, ia mengenang gurunya yang selalu membicarakan Burma di setiap kesempatan. 'Saya ingin melanjutkan tradisi ini persis seperti keinginannya, apa pun yang terjadi', ungkapnya.

Ia merasa resah dengan perkembangan terkini: Myanmar tengah dilanda perang saudara, dan warga sipil yang tak bersenjata menderita menjadi korban. 'Saya sangat khawatir. Mari kita ingat pentingnya menghargai nyawa manusia dan terus berdoa demi perdamaian', pesannya.

Ling, yang berencana membagikan kisah-kisah kumpulannya dari Jepang dalam sebuah seminar di Singapura, meyakini bahwa ingatan tidak pernah hanya soal masa lalu, melainkan juga tentang masa depan. Ia menekankan bahwa kenangan dan sejarah yang sulit perlu direnungkan demi mendorong pembelajaran serta pemahaman.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.

