Krisis Bantuan Hambat Pemulihan Pasca-Gempa Dahsyat di Afganistan Timur
Sepekan setelah gempa magnitudo 6,0 menewaskan lebih dari 2.200 orang, medan terpencil dan minimnya bantuan internasional menghambat upaya penyelamatan di Provinsi Kunar. Tim NHK berhasil mencapai lokasi terdampak di tengah pembatasan ketat pemerintahan Taliban terhadap media asing.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Krisis Bantuan Hambat Pemulihan Pasca-Gempa Dahsyat di Afganistan Timur

Provinsi Kunar di Timur Paling Parah Terdampak
Zardad sedang tertidur saat gempa mengguncang. Delapan anggota keluarganya juga berada di rumah mereka di kawasan pegunungan.
Saat saya mencoba bangun, rumah itu langsung runtuh. Semua terjadi dalam sekejap, ungkapnya kepada NHK.

Gempa tersebut merenggut nyawa putra Zardad yang berusia 8 tahun dan putrinya yang berumur 1 tahun. Ia dan istrinya juga terluka, dan kini keluarga tersebut terpaksa tinggal di kamp pengungsian.
Seluruh barang kami tertimbun di bawah reruntuhan, dan kami kini kekurangan segalanya, ujarnya.

Rumah Zardad berada di pegunungan distrik Chawkay, Provinsi Kunar, salah satu wilayah yang terdampak paling parah. Lebih dari 6.700 rumah di daerah itu telah hancur.
Kelompok Taliban tengah melakukan operasi penyelamatan dan menyalurkan bantuan, namun para penyintas menyampaikan kepada tim kami bahwa dukungan tersebut masih jauh dari memadai.
Pemerintah asing dan lembaga kemanusiaan telah merespons dengan mengirimkan makanan, tenda darurat, serta pasokan medis. Namun, pejabat PBB menekankan bahwa dengan perkiraan 84.000 warga terdampak, masih banyak hal yang mendesak untuk dilakukan.

Sebanyak 68 sumber air utama hancur dan memutus akses air bersih bagi ribuan orang, demikian ungkap Stephen Rodriques dari Program Pembangunan PBB kepada wartawan pada Jumat.

Dana bantuan untuk Afganistan sudah mengalami defisit bahkan sebelum bencana terbaru ini melanda. Banyak negara belum mengakui pemerintahan sementara Taliban akibat kebijakan kelompok tersebut yang membatasi hak perempuan dalam menempuh pendidikan dan bekerja.

Sejumlah media internasional melaporkan adanya insiden di mana petugas penyelamat dan tenaga medis laki-laki menolak mengevakuasi atau mengobati perempuan usai gempa terjadi.
Rodriques dari UNDP menyatakan bahwa organisasinya tidak menemukan bukti adanya larangan sistematis bagi perempuan untuk memperoleh perawatan medis darurat.
Waktu Kian Sempit bagi Penyintas di Tengah Keterbatasan Bantuan

Berbagai badan PBB telah menyalurkan bahan pangan dan tenda ke wilayah terdampak. Namun, banyak akses jalan pegunungan yang terputus serta ancaman gempa susulan masih terus membahayakan jiwa warga.
Meskipun demikian, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah minimnya respons dari komunitas internasional.
Afghanistan saat ini berada di bawah kendali pemerintah sementara Taliban. Jauh sebelum gempa terjadi, Washington telah menghentikan sebagian besar bantuannya ke Kabul, langkah yang kemudian diikuti oleh sejumlah negara lain dengan memangkas program bantuan mereka.

Berbicara kepada NHK, John Aylieff mengungkapkan bahwa dana yang tersedia saat ini hanya cukup untuk memberi makan warga di zona gempa selama empat minggu ke depan.
Aylieff mendesak komunitas internasional agar segera memberikan bantuan finansial. Ia menuturkan bahwa para penyintas akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk bisa bangkit kembali.
Komitmen Bantuan Perlengkapan Darurat
Pakistan menjadi salah satu negara tetangga yang merespons seruan bantuan dengan mengirimkan sekitar 100 ton logistik. Sementara itu, Pemerintah Australia telah menjanjikan dana lebih dari 650.000 dolar AS untuk mendukung para korban gempa.

Jepang juga mengirimkan bantuan darurat berupa 250 tenda, sekitar 1.600 selimut, dan kebutuhan pokok lainnya. Sementara itu, Pemerintah Inggris dan India menyatakan komitmen untuk menyumbangkan bahan pangan serta tenda.
Pakar: Skala Kerusakan Ungkap Kerentanan Wilayah terhadap Gempa

Seorang peneliti Jepang menyebutkan bahwa tingginya angka kematian dan kerusakan parah berkaitan dengan pusat gempa yang dangkal serta jenis material bangunan yang digunakan di wilayah tersebut.
Profesor Universitas Doshisha, Tsutsumi Hiroyuki, menjelaskan bahwa gempa terjadi sangat dekat dengan permukaan bumi, dengan pusat gempa diperkirakan berada di kedalaman sekitar 8 kilometer. Selain itu, kondisi tanah di wilayah tersebut cenderung lunak karena mengandung endapan pasir sungai. Menurut Profesor Tsutsumi, kombinasi faktor inilah yang membuat guncangan terasa jauh lebih kuat.
Ia juga menyoroti penggunaan batu bata lumpur yang dikeringkan di bawah sinar matahari sebagai material rumah warga setempat. Menurutnya, struktur bangunan seperti itu tidak cukup kuat menahan guncangan besar, sehingga warga di wilayah tersebut menjadi sangat rentan.

Terkait mekanisme gempa, Profesor Tsutsumi menjelaskan adanya sesar aktif yang membentang di dekat pusat gempa, lokasi bertemunya lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia. Ia menyebutkan bahwa gempa berkekuatan magnitudo 6 tersebut kemungkinan dipicu oleh pergeseran beberapa sesar sekaligus.
Tsutsumi mencatat bahwa gempa berkekuatan magnitudo 6 terjadi beberapa kali dalam setahun di Jepang. Ia mengatakan jumlah korban jiwa di Afganistan yang mencapai ribuan orang menyoroti kerentanan wilayah tersebut terhadap gempa. Ia pun memperingatkan bahwa tingkat kerusakan serupa bisa terulang kembali jika komunitas internasional tidak mendukung Afganistan dalam memperkuat ketahanan bangunan terhadap gempa.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.


