Refleksi Tomino Yoshiyuki: Bagaimana Trauma Perang Melahirkan Legenda Gundam
Tomino Yoshiyuki mengenang pengalaman mencekam saat Perang Pasifik sebagai fondasi emosional di balik terciptanya mahakarya Mobile Suit Gundam. Di usia 83 tahun, sang kreator menekankan bahwa pesan antiperang dalam karyanya kini terasa jauh lebih relevan.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Refleksi Tomino Yoshiyuki: Bagaimana Trauma Perang Melahirkan Legenda Gundam

Masa Kecil di Tengah Kecamuk Perang

Tomino Yoshiyuki lahir di Kota Odawara, Prefektur Kanagawa pada 1941, tepat di tahun pecahnya Perang Pasifik setelah serangan Jepang ke Pearl Harbor. Sepanjang perang, pesawat tempur Amerika Serikat kerap menargetkan pabrik-pabrik militer yang berada di dekat kediamannya.
Beberapa kali saya merasakan hawa panas dari bangunan-bangunan yang terbakar saat berlindung di dalam bungker serangan udara. Kenangan masa kecil yang paling mencekam bagi saya adalah ketika berada di tempat perlindungan hasil galian warga sekitar. Karena rumah kami paling jauh, tempat itu sudah sesak saat saya tiba, sehingga saya hanya bisa duduk di ambang pintu masuk. Di sana, selembar tikar jerami tergantung untuk menghalau angin; ayunan tikar itu ke depan dan ke belakang terasa begitu menakutkan bagi saya.
Saya ingat betul momen berlari menuju bungker serangan udara sambil mendekap dua atau tiga buku bergambar kesayangan. Saya juga mengenang pemilik kontrakan kami yang sudah sepuh dan baik hati; beliau meninggal terkena ledakan bom api saat berupaya memadamkan kebakaran. Saya menyaksikan pemakamannya. Seingat saya, peristiwa itu terjadi sekitar sebulan sebelum perang berakhir.
Perang dan Pergeseran Nilai

Tomino baru berusia 3 tahun saat perang usai, sehingga ia tak menganggap dirinya bagian dari 'generasi perang'. Meski begitu, ia mencatat adanya perbedaan mendasar dalam nilai-nilai dan pola pikir antara mereka yang melewati masa Perang Dunia II dengan mereka yang tidak.
Saya masih ingat jelas deru formasi pesawat B-29 yang terbang di atas kepala. Bagi saya, kebisingan itu mencerminkan betapa masifnya skala perang. Namun, itu hanyalah ingatan seorang anak berusia 3 tahun, tentu berbeda dengan pengalaman mereka yang lebih tua dan benar-benar melewati masa perang tersebut.
Saat duduk di bangku sekolah dasar, saya mulai tertarik pada pesawat tempur Zero (pesawat yang digunakan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang). Memasuki masa SMP dan SMA, seiring saya membaca berbagai catatan masa perang, raungan pengebom B-29 menjadi sesuatu yang mulai saya anggap sebagai bagian dari keseharian.
Butuh waktu 20 tahun bagi saya untuk menyadari bahwa sudut pandang ini berbeda dari generasi yang tidak pernah mengalami perang. Ketika melihat orang-orang yang terpaut 20 tahun di bawah saya, saya merasa bagi mereka, semua itu hanyalah fantasi.
Visi di Balik Mobile Suit Gundam
Setelah lulus universitas, Tomino bergabung dengan Mushi Production milik Osamu Tezuka. Ia kemudian berkarier mandiri dan menyutradarai anime robot Reideen the Brave serta menjadi sutradara eksekutif untuk SUPER MACHINE ZAMBOT 3.
Pada tahun 1979, ia menciptakan Mobile Suit Gundam. Saat ditanya mengenai visinya, ia menjelaskan bahwa karyanya bukanlah narasi robot tradisional yang sekadar mempertentangkan baik versus jahat, melainkan penggambaran konflik manusia dalam kancah peperangan menggunakan robot.

Kala itu, tim produksi merasa kurang tepat menyajikan kisah perang kepada anak-anak. Mungkin karena bayang-bayang kekalahan Jepang, ada keengganan naluriah untuk menggambarkan perang. Karena pesawat tempur dikendalikan oleh pilot tunggal, saya membuat ukuran mobile suit saya cukup ringkas. Tingginya hanya sekitar 20 meter, sebanding dengan ukuran sebuah pesawat tempur.
Membuat cerita tentang pilot tunggal melawan alien dalam Gundam adalah hal yang sudah kami lakukan selama hampir 20 tahun dengan robot raksasa, jadi saya pikir sudah saatnya untuk beralih. Untuk mengoperasikan senjata setinggi 20 meter seperti mobile suit, diperlukan sistem produksi yang melibatkan kompleks industri militer dan infrastruktur untuk produksi massal. Akhirnya, kami tidak punya pilihan selain menggambarkan perang antarnegara.
Penggambaran Perang yang Realistis
Tomino sangat teliti dalam memastikan anime ini menggambarkan perang secara realistis. Ia menjelaskan pemikiran di balik adegan terkenal yang melibatkan pembelot Cucuruz Doan:
Tiba-tiba saya menyadari bahwa jika semua orang berpikir dengan cara yang sama, seluruh tim akan musnah. Karakter yang 'tersadar' (Cucuruz Doan) akan bertindak seperti itu. Lagipula, timnya sudah hancur. Namun pada akhirnya, ada tentara Jepang yang melarikan diri, bergabung dengan tentara Amerika, dan menjadi tawanan perang. Saya menulis ceritanya dengan pemahaman bahwa ini adalah konsekuensi yang wajar.

Ia juga mengungkapkan bahwa salah satu adegan terakhir Mobile Suit Gundam, saat Amuro hanyut menuju kapal sekutu, terinspirasi oleh peristiwa nyata.
Saya merenungkan apakah tentara dan warga sipil Jepang yang tenggelam di Samudra Pasifik bisa diselamatkan atau tidak. Saat memilih adegan penyelamatan dari kisah perang, saya merasa sedang menelusuri kembali sejarah.
Nuansa Krisis
Tomino berupaya menggambarkan realitas perang sekaligus menyampaikan kekejaman serta kebodohannya. Namun, ia mengakui bahwa pertempuran di dunia nyata saat ini telah melampaui imajinasinya.

Lewat Mobile Suit Gundam, saya mencoba menyajikan kisah perang berlatar masa depan dekat. Senjata bernama mobile suit jauh lebih canggih daripada jet tempur masa kini. Saat perang menggunakan senjata semacam itu dimulai, drone pasti akan muncul. Senjata yang dikendalikan manusia mulai usang. Drone kini sudah lumrah, dan saya rasa kita akan melihat senjata tanpa awak yang lebih canggih di masa depan. Apa artinya berperang di dunia seperti itu? Saya mulai berpikir bahwa ini sekadar tentang menciptakan tontonan di medan laga.
Berhenti Berpikir
Tomino juga mengungkapkan konflik batinnya sebagai pencipta Mobile Suit Gundam, serial yang memiliki basis penggemar besar baik di Jepang maupun mancanegara.

Manusia ternyata sangat cepat mematikan kemampuan berpikir mereka. Mereka merakit model kit Gundam dan berkata, 'Ini keren.' Begitulah yang saya rasakan tentang dunia modern. Ini bukan sekadar masalah masa kini; saat manusia pertama kali melihat mesin uap pada era Revolusi Industri, mereka begitu terpukau oleh kekuatannya hingga berhenti berpikir secara mandiri.
Namun, saya bukan seorang pendidik, jadi saya tidak bisa mengajarkan hal ini kepada kaum muda. Selama 20 tahun terakhir, saya menanti dengan penuh harap agar seseorang menangkap pesan tersirat saya dan menyampaikannya lewat cara yang lebih mudah dimengerti, namun rasanya sosok itu belum juga muncul.
Visi Masa Depan
Meski telah menginjak usia 80-an, Tomino tidak menunjukkan tanda-tanda akan melambat. Ia mengungkapkan bahwa saat ini tengah menggarap sebuah judul baru.
Saya benar-benar berupaya menjadikannya kisah pertempuran, namun tanpa kehadiran musuh di dalamnya. Musuhnya mungkin adalah manusia yang mengeksploitasi Bumi. Saya ingin menciptakan cerita semacam itu, dan saya yakin mampu mewujudkannya melalui media anime.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.

