Ratusan Gempa Guncang Kepulauan Tokara: Sains di Balik Fenomena Seismik di Kagoshima
Hampir 500 getaran telah mengguncang gugusan Kepulauan Tokara sejak Sabtu, dengan aktivitas seismik meningkat tajam di sekitar Pulau Kodakarajima. Badan Meteorologi Jepang memperingatkan potensi guncangan yang lebih kuat dan mengimbau warga Desa Toshima untuk tetap waspada.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Ratusan Gempa Guncang Kepulauan Tokara: Sains di Balik Fenomena Seismik di Kagoshima

Hampir 500 Gempa Terdeteksi di Sekitar Kepulauan Tokara
Badan Meteorologi Jepang menyatakan aktivitas seismik meningkat di sekitar Pulau Kodakarajima, Kepulauan Tokara, sejak Sabtu pagi.
Guncangan terus dirasakan di Desa Toshima, wilayah yang mencakup Kodakarajima dan pulau-pulau sekitarnya.

Hingga Kamis pukul 11 pagi, otoritas mencatat 475 gempa dengan skala 1 atau lebih pada skala seismik 7 tingkat Jepang.
Badan tersebut mencatat bahwa meski wilayah itu pernah mengalami aktivitas serupa, jumlah gempa dalam empat hari terakhir adalah yang tertinggi dalam sejarah pencatatan.
Data harian menunjukkan jumlah getaran memuncak pada Senin sebanyak 183 kali, namun puluhan gempa masih terdeteksi hingga Kamis.
Aktivitas Tektonik Dasar Laut Picu Rentetan Gempa

Kepulauan Tokara terletak di sepanjang Palung Ryukyu, tempat Lempeng Laut Filipina menunjam ke bawah Lempeng Eurasia.
Area bawah laut ini dicirikan oleh gunung laut dan deretan punggungan besar yang dikenal sebagai landasan laut. Saat Lempeng Filipina menunjam dengan kecepatan sekitar 6 sentimeter per tahun, formasi-formasi tersebut menekan lempeng daratan sehingga memicu penumpukan tekanan.
Lektor Kepala Yokose Hisayoshi dari Sekolah Pascasarjana Universitas Kumamoto menjelaskan bahwa topografi dasar laut yang unik ini membuat wilayah tersebut rentan terhadap gempa bumi.
Intinya, punggungan atau gunung pada lempeng yang menunjam mengunci posisi lempeng di atasnya dan menghambat pergerakan. Menurut Yokose, gempa terjadi saat tekanan yang terakumulasi melampaui daya tahan lempeng daratan, hingga menyebabkannya patah dan bergeser ke samping. Dalam kasus Kepulauan Tokara, dasar laut yang bergelombang terus-menerus bergesekan dengan lempeng daratan, sehingga memicu rangkaian gempa yang sering terjadi.
Potensi Guncangan yang Lebih Kuat

Yokose telah menganalisis pola seismik di wilayah tersebut sejak data berkualitas tersedia pada era 2000-an. Ia berhasil mengidentifikasi dua fase utama dalam aktivitas seismik ini.
Tahap pertama berlangsung sekitar lima hari dengan peningkatan frekuensi gempa yang pesat. Hal ini biasanya diikuti fase kedua selama kira-kira dua minggu, di mana frekuensi getaran menurun namun risiko gempa yang lebih besar justru meningkat.
Sebagai bukti, empat tahun lalu, gempa bermagnitudo 6,1 mengguncang pada hari keenam dari rangkaian tersebut dengan intensitas mencapai 5+ pada skala seismik Jepang.
Yokose menyebut situasi saat ini tampak sebagai fase awal. Meski polanya mungkin berbeda dari sebelumnya, gempa bermagnitudo 6 masih berpotensi terjadi. Warga pun diimbau untuk tetap waspada selama sekitar satu pekan ke depan.
Tidak Terkait dengan Palung Nankai
Yokose menegaskan bahwa rangkaian gempa kecil ini bukan pertanda bencana besar seperti gempa raksasa Palung Nankai. Ia menjelaskan bahwa mekanisme tektonik getaran di Kepulauan Kagoshima berbeda sepenuhnya dengan mekanisme yang memicu gempa dahsyat di lepas pantai Pasifik Jepang.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.


