Ribuan Gempa Beruntun Guncang Kepulauan Tokara, Warga Mulai Dievakuasi
Kepulauan Tokara di Prefektur Kagoshima mencatat lebih dari 1.100 gempa bumi sejak 21 Juni hingga awal Juli. Evakuasi warga Desa Toshima telah dimulai seiring meningkatnya intensitas getaran beruntun yang melanda wilayah tersebut.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Ribuan Gempa Beruntun Guncang Kepulauan Tokara, Warga Mulai Dievakuasi

Mengapa Rentetan Gempa Ini Begitu Sering Terjadi?
Shimakawa, jurnalis spesialis bencana yang meliput topik ini, menjelaskan latar belakang fenomena tersebut.
T: Apa yang sebenarnya terjadi di sekitar Kepulauan Tokara?
Shimakawa Eisuke: Kepulauan ini dilanda serangkaian gempa di area yang sangat terbatas. Sejak 21 Juni hingga 4 Juli pukul 11 pagi, tercatat sudah ada 1.180 gempa dengan intensitas 1 atau lebih.
Wilayah ini memang pernah mengalami aktivitas seismik serupa sebelumnya, namun tahun ini intensitasnya jauh lebih menonjol.

Grafik ini membandingkan periode saat ini dengan periode serupa di masa lalu. Sumbu vertikal menunjukkan jumlah kumulatif gempa, sementara sumbu horizontal menunjukkan jumlah hari terjadinya getaran dengan intensitas 1 atau lebih.
Biasanya, jumlah gempa akan menurun secara bertahap setelah sekitar 5 hari aktivitas seismik. Namun kali ini, grafik melonjak tajam, menandakan frekuensi gempa yang terus meningkat.
Tanya: Mengapa gempa jenis ini terjadi? Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Shimakawa: Wilayah di sekitar kepulauan ini memang rawan gempa. Lempeng tektonik di sisi timur menunjam ke bawah gugusan pulau, sementara di sisi barat terdapat Palung Okinawa yang kian melebar.

Namun, Badan Meteorologi Jepang menyatakan belum bisa memastikan penyebab aktivitas seismik yang sangat intens saat ini.
Profesor Nishimura Takuya dari Universitas Kyoto, pakar mekanisme gempa bumi, menjelaskan bahwa tingginya aktivitas seismik yang mengguncang wilayah tersebut dalam jangka panjang menunjukkan adanya gaya eksternal luar biasa yang sedang bekerja.

Ia juga menyebutkan bahwa aktivitas saat ini kemungkinan bersifat vulkanik dan berkaitan dengan pergerakan magma.
Profesor Nishimura menyatakan bahwa rangkaian gempa ini tidak akan berhenti sebelum faktor eksternalnya mereda, seraya menambahkan bahwa sulit memprediksi kelanjutan aktivitas gempa pada tahap ini.
Maraknya Rumor Tak Berdasar
Baru-baru ini, rumor tak berdasar menyebar luas ke mancanegara yang menyebutkan bahwa gempa besar dan tsunami akan melanda Jepang pada bulan Juli. Isu ini menurunkan minat wisata ke Jepang dan memicu pengurangan jadwal penerbangan dari Hong Kong. Shimakawa kemudian dimintai pendapat mengenai prospek prediksi gempa.
T: Gempa Tokara terjadi tepat sebelum tanggal yang dirumorkan sebagai waktu bencana, sehingga menarik banyak perhatian. Apakah memprediksi gempa bumi benar-benar memungkinkan?
Shimakawa: Istilah prediksi dan prakiraan memiliki makna berbeda, sedangkan kabar yang beredar luas di dunia hanyalah rumor belaka. Pejabat Badan Meteorologi Jepang telah menyampaikan penjelasan mengenai prediksi gempa bumi pada hari Kamis.
Badan tersebut menyatakan ada tiga syarat utama dalam prediksi gempa bumi: waktu, lokasi, dan skala. Namun, hal ini belum bisa dicapai dengan sains dan teknologi saat ini, sehingga kabar yang beredar dipastikan merupakan rumor palsu.

T: Mengapa rumor ini bisa menyebar begitu luas?
Shimakawa: Kami sebelumnya telah berdiskusi dengan Sekiya Naoya, seorang profesor dari Universitas Tokyo yang merupakan pakar di bidang komunikasi bencana.

Beliau menyebutkan bahwa faktor emosional, seperti rasa cemas dan ketertarikan yang tinggi, memiliki pengaruh yang lebih besar dalam interaksi sehari-hari dibandingkan kebenaran ilmiah.
Hal terpenting adalah tidak menyebarkan rumor. Jepang adalah negara rawan gempa, dan guncangan besar bisa terjadi kapan saja. Namun, sekadar merasa cemas bukanlah langkah yang bijak.
Masyarakat harus bersiap menghadapi gempa atau tsunami dengan mengenali titik-titik berbahaya yang berisiko menyebabkan cedera, serta mencari tahu lokasi evakuasi. Dengan persiapan seperti ini, warga bisa tetap tenang bahkan jika gempa terjadi.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.

