Dampak Tarif Agresif Trump terhadap Ekonomi Global dan Strategi The Fed
George Bory dari Allspring Global Investments menganalisis dampak kebijakan tarif Trump yang membentuk kembali ekonomi global serta posisi strategis Jepang. Pertumbuhan ekonomi diprediksi melambat pada akhir tahun, yang akan menjadi pertimbangan utama Federal Reserve dalam memangkas suku bunga.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Dampak Tarif Agresif Trump terhadap Ekonomi Global dan Strategi The Fed


The Fed Masih Pertahankan Suku Bunga Tinggi
Jika kebijakan tarif mulai menekan pertumbuhan ekonomi AS, bagaimana Federal Reserve akan merespons? (Catatan: Wawancara ini dilakukan sebelum The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada 18 Juni.)
George Bory: Kami menilai The Fed cenderung memangkas suku bunga. Mereka berniat melakukannya, namun memilih bergerak perlahan guna memantau dampak nyatanya. Ekonomi berjalan sedikit lebih baik dari perkiraan dan inflasi tetap terkendali, bahkan mungkin melampaui ekspektasi. Karena itu, The Fed bisa bersikap sabar; belum ada urgensi besar untuk bereaksi saat ini. Menurut hemat kami, faktor terpenting adalah angka pengangguran. Jika mulai merangkak naik, The Fed kemungkinan besar akan segera merespons. Namun, dengan inflasi yang masih di atas target dan kondisi pasar tenaga kerja AS yang hampir jenuh — angka pengangguran hanya sedikit di atas 4 persen — tidak ada desakan untuk segera bertindak. Mereka bisa menunggu dan baru bereaksi jika situasi memburuk. Menjelang September atau Oktober, kami memperkirakan adanya perlambatan pertumbuhan dan sedikit kenaikan angka pengangguran. Selama inflasi tetap stabil, hal itu akan memungkinkan The Fed mulai menurunkan suku bunga kembali, meski dengan tempo yang cukup lambat.

Kebijakan Tarif: Guncangan Awal dan Penyesuaian Bertahap
Apakah skala kebijakan tarif Trump mengejutkan Anda?
Bory: Ya. Kami memang memperkirakan adanya tarif, tetapi tidak setinggi itu dan tentu saja tidak seluas itu. Reaksi pasar, baik saham maupun obligasi, menunjukkan kekhawatiran atas besaran tarif tersebut. Sejak saat itu, Presiden Trump dan Menteri Keuangan Scott Bessent telah memulai negosiasi. Negosiasi tersebut tampaknya menekan tingkat tarif menjadi lebih rendah, meski tetap jauh lebih tinggi dibanding awal tahun. Kami memperkirakan tarif 10 persen kemungkinan akan diterapkan di sebagian besar negara, dengan Tiongkok menjadi pengecualian utama pada angka sekitar 30 persen.
Bagaimana kebijakan Trump mengubah prospek ekonomi AS?
Bory: Ekonomi sudah menunjukkan tanda-tanda pelambatan saat Presiden Trump dilantik pada Januari lalu. Hingga kini, ekonomi AS masih menunjukkan deselerasi—pertumbuhan yang lebih lambat namun tetap positif, serta terbukti cukup tangguh menghadapi kebijakan tarif yang diumumkan. Perlu waktu agar tarif dapat diterapkan sepenuhnya, sehingga kita akan melihat penyebarannya ke seluruh ekonomi secara bertahap, meski pertumbuhan memang melambat. Kami memperkirakan kondisi ini berlanjut hingga akhir tahun tanpa sampai terpuruk. Jadi, kami tidak mengharapkan resesi, melainkan hanya perlambatan pertumbuhan di kisaran satu atau satu setengah persen, dengan porsi lebih banyak di awal tahun. Bergantung pada kebijakan pajak yang disetujui Kongres, hal itu mungkin akan membantu pertumbuhan tahun depan.

Bagaimana dengan prospek ekonomi global?
Bory: Saat ini, perkiraannya adalah ekonomi global juga akan melambat. Masih ada perdebatan mengenai seberapa besar dampaknya, namun tarif pada dasarnya adalah pajak, dan pajak itu menghambat pertumbuhan. Kita bahkan sudah melihat tanda-tandanya di Jepang. Eropa bertahan sedikit lebih baik, tetapi pertumbuhannya mulai melesu, sehingga ECB memangkas suku bunga. Tiongkok juga mencoba memberikan stimulus, meski kami belum yakin itu cukup untuk mendongkrak pertumbuhan global. Tarif bisa dianggap sebagai semacam pajak yang memperlambat laju ekonomi, setidaknya sampai ekonomi global mencapai keseimbangan baru, yang kemungkinan besar baru terwujud pada 2026.
Trump mulai menjajaki perjanjian dagang dengan beberapa negara. Menurut Anda, apakah tarif menyeluruh ini sekadar strategi untuk membawa mitra dagang ke meja perundingan?
Bory: Pertanyaan yang sangat bagus. Ada pergeseran filosofi perpajakan, yakni memangkas pajak penghasilan dan menaikkan tarif impor. Tarif adalah pajak atas barang produksi luar negeri yang masuk ke AS. Jadi, saat pajak penghasilan turun, pajak konsumsi justru naik dengan sasaran utama barang impor. Sebagaimana disampaikan Presiden Trump, ia ingin menggenjot sektor manufaktur domestik, dan kebijakan pajak ini menjadi instrumen untuk mencapai target tersebut.

Lantas, apakah menurut Anda skenario ini juga berlaku untuk Tiongkok atau Inggris?
Bory: Benar. Saya rasa ini terutama ditujukan bagi Tiongkok, mengingat AS mengimpor banyak produk manufaktur dari sana. Tujuannya adalah memindahkan sebagian basis produksi ke AS. Dengan menaikkan pajak barang impor asal Tiongkok, diharapkan ada insentif bagi sektor manufaktur AS untuk mengambil alih sebagian kapasitas produksi tersebut.
Untuk Inggris, situasinya cenderung lebih sederhana karena volume impornya tidak terlalu signifikan. Hal ini memudahkan negosiasi, didukung pula oleh hubungan strategis yang sudah lama terjalin. AS tampak ingin segera mencapai kesepakatan dan mereka berhasil melakukannya, sementara negosiasi dengan Tiongkok hingga kini masih berlangsung.
Dampak Tarif pada Peta Industri Manufaktur
Bagaimana pengaruh tarif ini terhadap inflasi dan harga konsumen di AS?
Bory: Harga-harga di AS terpantau cukup stabil. Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Indeks Harga Produsen (IHP) terbaru menunjukkan kondisi yang terkendali. Kami memperkirakan adanya sedikit tekanan inflasi dalam beberapa bulan ke depan, tetapi tidak akan bertahan lama. Perubahan harga sudah mulai menyebar di seluruh sektor ekonomi; ada yang naik, ada yang stabil, dan sebagian kecil mungkin turun. Secara rata-rata memang ada tekanan ke atas, namun setelah tarif berlaku, permintaanlah yang akan menentukan harga akhir. Kami tidak melihat adanya lonjakan inflasi yang ekstrem karena pertumbuhan ekonomi yang melambat akan membantu menjaganya tetap terkendali. Kami memproyeksikan inflasi AS di kisaran 2,5 hingga 3 persen selama beberapa tahun ke depan.
Bagaimana dengan potensi dampaknya secara global?
Bory: Secara global, saya melihat pola yang serupa. Terjadi rotasi sektor besar-besaran di mana perusahaan berupaya keras menyesuaikan diri dengan kebijakan tarif. Mereka mengatur ulang harga agar tetap profitabel, namun tetap menyerap sebagian biaya tarif demi menjaga daya saing. Inilah keseimbangan yang harus dihadapi perusahaan saat ini hingga beberapa bulan ke depan.

Bagaimana hal ini akan memengaruhi ekonomi Asia sepanjang tahun depan?
Bory: Jelas bahwa tarif yang jauh lebih tinggi bagi Tiongkok dapat mendorong relokasi produksi ke negara-negara Asia lain dengan tarif lebih rendah untuk ekspor ke AS. Kami yakin seiring waktu, sebagian produksi—khususnya dari Tiongkok—akan kembali ke AS, meski jumlahnya terbatas. Biaya produksi di AS masih tergolong tinggi, sehingga sulit menggantikan manufaktur Tiongkok yang berbiaya rendah. Ini adalah keunggulan kompetitif nyata Tiongkok. Walau tarif memberikan tekanan, hal itu belum cukup memindahkan seluruh produksi ke AS. Jadi, yang terjadi adalah redistribusi, dengan porsi kecil kembali ke AS.
Alasan Jepang Belum Mencapai Kesepakatan

Perdana Menteri Jepang Ishiba Shigeru sempat membahas isu tarif dengan Trump di KTT G7 Kanada, namun belum ada kesepakatan. Menurut Anda, apa yang menghambat proses ini?
Bory: Kemungkinan besar karena tarif, terutama di sektor otomotif. Itulah poin negosiasi utama antara AS dan Jepang.
Jepang adalah sekutu dekat sekaligus salah satu investor terbesar di AS. Mengapa kesepakatan masih sulit dicapai?
Bory: Sektor otomotif sangat krusial bagi Jepang. Kami melihat Perdana Menteri benar-benar berupaya menegosiasikan keringanan tarif khusus di sektor ini. Namun, kami berasumsi Presiden Trump enggan menurunkan tarif di bawah 10 persen. Inilah hambatan terbesarnya. Padahal seperti yang Anda sebutkan, hubungan keduanya sangat erat. Jepang adalah kreditor besar AS melalui kepemilikan surat utang negara dan mitra dagang utama, sehingga kesepakatan sangat penting meski titik temunya sulit dicari.
Menurut Anda, apakah tarif otomotif AS akan memukul perekonomian Jepang?
Bory: Mungkin akan ada dampaknya, tetapi hal itu sangat bergantung pada banyak faktor. Banyak mobil Jepang yang sebenarnya sudah diproduksi di AS. Saya menduga Presiden Trump berupaya mendorong produsen mobil Jepang untuk meningkatkan investasi di AS. Secara keseluruhan, ini bisa membawa dampak positif, meski mungkin akan menarik sebagian lapangan kerja dari Jepang yang tentu merugikan. Namun, karena mobil Jepang sangat laku di AS, saya rasa ada insentif kuat untuk terus melanjutkan tren tersebut.
AS melipatgandakan tarif tambahan untuk impor baja dan aluminium menjadi 50 persen mulai 4 Juni. Menurut Anda, apakah kebijakan ini akan bertahan?
Bory: Terkait baja, ini menarik. Belum lama ini ada pengumuman mengenai akuisisi US Steel oleh Nippon Steel Jepang, sehingga saya rasa masih ada ruang untuk negosiasi. Ada peluang untuk menemukan keseimbangan yang lebih baik, namun kami yakin tarif-tarif ini sebagian besar akan tetap berlaku. Dalam hal baja dan aluminium, Presiden Trump ingin mengembalikan sebagian basis produksi ke Amerika Serikat, dan kebijakan tarif adalah salah satu cara untuk mewujudkannya.
Tarif sebagai Alat Negosiasi
Menurut pandangan Anda, apakah tarif merupakan instrumen jangka panjang yang efektif untuk daya tawar ekonomi atau geopolitik?
Bory: Bisa saja. Ini merupakan pergeseran dalam kebijakan perpajakan yang seharusnya memberikan insentif untuk meningkatkan produksi di dalam negeri AS. Kita perlu melihat seberapa efektif langkah tersebut nantinya. Karena perbedaan biaya produksi antara AS dan negara-negara lain sangat signifikan, tarif 10 persen mungkin tidak cukup untuk sekadar menarik kembali sektor manufaktur ke AS. Namun, hal itu diharapkan dapat mendorong sebagian produksi dan investasi, serta menumbuhkan sektor manufaktur selama beberapa tahun ke depan.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.

