Jepang Kurang Tidur, Para Dokter Bersiap Perluas Layanan Medis
Warga Jepang tercatat memiliki waktu tidur terpendek di antara negara-negara OECD dengan tingkat insomnia yang terus melonjak. Menanggapi krisis ini, para dokter mengusulkan agar gangguan tidur dijadikan kategori resmi di rumah sakit untuk mempermudah akses pengobatan.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Jepang Kurang Tidur, Para Dokter Bersiap Perluas Layanan Medis


Sulitnya Beraktivitas tanpa Tidur Nyenyak
Para dokter menemukan bukti bahwa kurang tidur dapat memicu gangguan kesehatan serius.
Seorang wanita berusia 30-an asal Prefektur Fukuoka, Jepang bagian barat, mulai mengalami kesulitan tidur saat hamil. Gejala insomnianya memburuk seiring ia membesarkan kedua putranya.
Ia bercerita bahwa dahulu ia hanya tidur rata-rata empat jam semalam. Catatan harian dari masa itu menunjukkan ia terbangun hampir setiap jam dan sangat tersiksa karena tidak bisa terlelap.

Ia menambahkan, kala itu ia merasa hanya bisa tidur nyenyak sampai pagi satu atau dua kali saja dalam setahun.
Masalah tidurnya tak kunjung membaik meski anak-anaknya bertambah besar. Ia bahkan mulai mengalami gangguan pernapasan yang membuatnya sulit bernapas dalam.
Ia ingin berobat namun bingung harus berkonsultasi ke departemen mana, atau apakah tersedia perawatan medis untuk masalah tidur. Akhirnya, ia hanya bisa memendam rasa frustrasinya.
Akhirnya, ia memberanikan diri bertanya kepada dokter di klinik tempat ia biasa membawa anak-anaknya. Dokter tersebut merujuknya ke departemen psikiatri, di mana ia mendapat resep obat untuk membantunya tidur. Langkah itu berhasil, dan kondisi fisiknya pun berangsur membaik.
'Saya rasa segalanya akan berbeda jika saya bisa segera menangani masalah ini begitu muncul,' ujar wanita tersebut. 'Seandainya saya menemukan istilah -tidur- pada nama departemen medis, mungkin saya sudah berkonsultasi dengan dokter jauh lebih awal.'
'Saya berharap orang-orang yang kesulitan tidur bisa segera menemui dokter,' pungkasnya.
Dokter Desak Pencantuman Spesialisasi Gangguan Tidur dalam Daftar Departemen Rumah Sakit
Japanese Society of Sleep Research, sebuah perhimpunan dokter dan pakar, mengajukan permohonan kepada pemerintah pada 30 April agar gangguan tidur dimasukkan sebagai kategori dalam daftar resmi departemen rumah sakit.

Saat ini terdapat 20 departemen terdaftar, seperti 'penyakit dalam' dan 'bedah'. Penambahan kategori baru memerlukan pembahasan panel pemerintah dan didasarkan pada kriteria tertentu, seperti tingginya permintaan pasien terhadap keahlian medis di bidang tersebut.
Nama departemen tersebut juga harus mudah dipahami serta menjamin pasien mendapatkan pemeriksaan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Uchimura Naohisa, Presiden Japanese Society of Sleep Research, berharap pencantuman 'Gangguan Tidur' dalam daftar departemen medis dapat mendorong masyarakat untuk berkonsultasi lebih awal.
Selama ini muncul anggapan bahwa kurang tidur tidak berisiko fatal, sehingga banyak yang belum menyadari pentingnya kualitas istirahat, tutur Uchimura.
Data menunjukkan bahwa seseorang lebih rentan terkena tekanan darah tinggi, diabetes, demensia, hingga kanker jika tidak tidur dengan benar. Tidur yang cukup sangat krusial bagi kesehatan jangka panjang, tambahnya.
Pencantuman istilah 'gangguan tidur' pada nama departemen medis akan menjadi panduan bagi masyarakat yang mengalami masalah tidur dan mendorong mereka untuk segera berkonsultasi.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.

