Lewati ke konten utama
Berita.Jepang.org

Harga Beras di Jepang Melonjak Dua Kali Lipat dalam Setahun

Harga rata-rata beras kemasan 5 kilogram di Jepang menembus 4.214 yen, melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tren kenaikan ini telah berlangsung selama 14 minggu berturut-turut meskipun pemerintah sudah melepas cadangan nasional.

NHK WORLD5 mnt

Bagikan Artikel

Tumpukan kemasan beras di rak supermarket Jepang

Visual Utama

Harga Beras di Jepang Melonjak Dua Kali Lipat dalam Setahun

Tutup
Tumpukan kemasan beras di rak supermarket Jepang

Harga Beras Terus Merangkak Naik

Kemasan beras seberat 5 kilogram
Kemasan beras seberat 5 kilogram

Berdasarkan data Kementerian Pertanian Jepang, harga rata-rata beras kemasan 5 kilogram di supermarket mencapai 4.214 yen, atau sekitar 29 dolar, untuk pekan yang berakhir pada 6 April. Angka ini melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Harga tersebut juga naik tipis 0,2 persen dari pekan sebelumnya, memperpanjang tren kenaikan selama 14 minggu berturut-turut.

Lonjakan ini dipicu oleh menipisnya pasokan beras akibat cuaca buruk pada tahun 2023.

Konsumen di Jepang kini membayar harga beras dua kali lipat lebih mahal dibandingkan tahun lalu.
Konsumen di Jepang kini membayar harga beras dua kali lipat lebih mahal dibandingkan tahun lalu.

Perubahan Pola Konsumsi

Kenaikan harga yang tajam berdampak pada gaya hidup konsumen, memaksa sebagian orang mencari alternatif makanan lain. Di sebuah supermarket di Tokyo, seorang wanita berusia 70-an menuturkan bahwa ia kini lebih sering mengonsumsi mi dan mulai mengurangi porsi nasi.

Seorang ibu berusia 20-an tengah berbelanja untuk keluarganya, termasuk sang anak yang baru berusia 2 tahun. Ia mengatakan bahwa karena nasi adalah kebutuhan pokok, ia berharap harganya segera turun.

Seorang ibu berharap harga beras segera turun.
Seorang ibu berharap harga beras segera turun.

Pasokan Masih Belum Memadai

Pemerintah berharap pelepasan sebagian cadangan beras ke pasar dapat memulihkan gangguan distribusi. Namun, konsumen masih harus bersusah payah untuk mendapatkannya.

Impor luar negeri menutupi sebagian kekurangan pasokan. Selama Februari tahun ini saja, Jepang mengimpor hampir 40 persen dari total volume impor sepanjang tahun fiskal 2023.

Volume impor beras terus meningkat.
Volume impor beras terus meningkat.

Beras Asal California

Pada Februari, perusahaan perdagangan asal Tokyo, Kanematsu, memutuskan untuk mengimpor 10.000 ton Calrose dari negara bagian California, Amerika Serikat.

Saat NHK World berkunjung ke perusahaan tersebut pada 7 Maret, para staf tengah sibuk menyusun jadwal distribusi dan mengatur koordinasi pengiriman.

Pertemuan di Departemen Biji-bijian Kanematsu pada 7 Maret.
Pertemuan di Departemen Biji-bijian Kanematsu pada 7 Maret.

Meski beberapa klien sempat khawatir soal perbedaan antara Calrose—yang tergolong beras butir sedang—dengan beras butir pendek Jepang, pedagang Asakawa Ryo menyebut tidak ada perbedaan rasa yang signifikan. Banyak klien bahkan memberikan pujian tinggi.

Ia mengungkapkan bahwa para pelanggan merasa cemas akan potensi kelangkaan beras dalam dua tahun ke depan, sehingga ia memprediksi permintaan impor akan terus tumbuh.

Permintaan beras impor sangat tinggi, bahkan pelanggan yang belum pernah membelinya pun mulai bertanya, ujarnya. Ia menambahkan bahwa mereka menerima pertanyaan setiap hari dan akan terus memasok beras selama pelanggan masih membutuhkan.

Asakawa Ryo, pedagang beras di Departemen Biji-bijian Kanematsu.
Asakawa Ryo, pedagang beras di Departemen Biji-bijian Kanematsu.

Restoran di Tokyo Mulai Beralih ke Beras Impor

Restoran Shokudo-Arata di Tokyo telah menggunakan beras impor Calrose yang lebih terjangkau untuk menu set sejak tahun lalu. Langkah ini membuat mereka mampu mempertahankan harga menu tanpa harus menaikkannya.

Pemilik restoran Hirano Arata menyebut harga beras domestik telah mencapai lebih dari 800 yen per kilogram, sementara Calrose hanya sekitar 520 yen pada Maret lalu.

Restoran Shokudo-Arata di Tokyo menggunakan beras Calrose untuk sajian menu paket mereka.
Restoran Shokudo-Arata di Tokyo menggunakan beras Calrose untuk sajian menu paket mereka.

'Awalnya kami menyadari perbedaan rasa antara beras domestik dan impor, sehingga kami melakukan penyesuaian seperti mengubah takaran air, menambahkan sedikit sake masak, dan mencoba berbagai teknik memasak lainnya,' jelasnya.

'Hasilnya, kami tetap bisa menyajikan nasi yang lezat. Butirannya kokoh dan warnanya mirip beras Jepang. Harganya terjangkau, jadi saya sangat puas,' tuturnya.

Pemilik Shokudo-Arata, Hirano Arata.
Pemilik Shokudo-Arata, Hirano Arata.

Seorang pelanggan wanita berkomentar: 'Lauknya sangat cocok dengan nasi ini dan rasanya lezat. Kalau tidak diberitahu, saya tidak akan sadar bahwa ini beras Calrose dan bukan beras Jepang.'

Hirano mengatakan restorannya akan terus menyajikan beras impor untuk sementara, namun ia berharap bisa kembali menggunakan beras domestik setelah harganya stabil.

Hirano saat mencuci beras Calrose.
Hirano saat mencuci beras Calrose.

Petani Terkendala Kebijakan Produksi Beras

Musim tanam padi tahun ini telah dimulai di Prefektur Miyazaki, Jepang bagian barat daya. Namun, para petani kini menghadapi tantangan dalam meningkatkan hasil panen akibat terbentur kebijakan pemerintah.

Pemerintah Jepang mensubsidi petani untuk membatasi produksi beras demi memenuhi kebutuhan domestik sekaligus menjaga stabilitas harga. Sebagai bagian dari kebijakan tersebut, petani menerima insentif untuk mengalokasikan sebagian lahan guna memanen beras yang tidak ditujukan sebagai beras konsumsi, melainkan untuk bahan makanan olahan atau pakan ternak.

Aktivitas penanaman padi di Prefektur Miyazaki
Aktivitas penanaman padi di Prefektur Miyazaki

Di Kota Kushima, Miyazaki, seorang petani bernama Mori Michihiro kini berfokus menanam beras untuk konsumsi langsung. Sebelumnya, ia menyisihkan 10 persen lahan garapannya untuk menanam beras yang akan digunakan dalam industri makanan olahan.

Mori memperingatkan bahwa kebijakan jangka panjang pemerintah dalam mengendalikan produksi beras telah membawa konsekuensi yang serius.

Petani beras Mori Michihiro
Petani beras Mori Michihiro

Mori menyebutkan bahwa harga beras yang ditetapkan Koperasi Pertanian bagi para petani tidak mengalami kenaikan yang signifikan. Ia menambahkan bahwa para petani sendiri tidak mendapatkan keuntungan dari situasi tersebut.

Ia menyebutkan bahwa lonjakan biaya bahan bakar dan peralatan menyulitkan upaya meraih laba dari beras konsumsi, namun ia tetap bertekad memenuhi harapan pelanggannya.

Ia menjelaskan bahwa banyak petani telah berhenti karena faktor usia, sehingga ada keterbatasan dalam memperluas produksi. Ia pun ragu hasil panen bisa meningkat signifikan.

Mencari Solusi Jangka Panjang

Yamashita Kazuhito, Direktur Riset di Canon Institute for Global Studies, menilai kelangkaan beras sebenarnya sudah bisa diprediksi. Ia menunjuk kebijakan pemerintah sebagai akar masalahnya.

Yamashita Kazuhito, Direktur Riset di Canon Institute for Global Studies
Yamashita Kazuhito, Direktur Riset di Canon Institute for Global Studies

Ia berpendapat bahwa pemerintah Jepang semestinya melepas cadangan beras saat harga melonjak, namun ia menganggap langkah tersebut hanyalah solusi sementara.

Yamashita menegaskan bahwa pemerintah memerlukan sistem baru demi menjamin stabilitas pasokan beras.

Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB

Sumber Berita

Penerbit
NHK WORLD
Tanggal Sumber
Pranala Sumber

Video Sumber

Dengarkan Artikel

Putar versi audio langsung dari browser Anda.

Menyiapkan audio browser...

Kata Kunci

Jejak Topik

Komentar Pembaca

Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.