Kota dalam Bayang-Bayang Chornobyl dan Fukushima Bersatu Pulihkan Luka Pascabencana
Empat puluh tahun setelah kecelakaan nuklir Chornobyl, Slavutych di Ukraina menjalin kerja sama dengan Futaba di Prefektur Fukushima. Kedua kota berbagi pengalaman memulihkan komunitas dari trauma, stigma, dan dampak radiasi.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Kota dalam Bayang-Bayang Chornobyl dan Fukushima Bersatu Pulihkan Luka Pascabencana


Kota Slavutych dibangun setelah ledakan dahsyat mengguncang pembangkit listrik tenaga nuklir Chornobyl pada April 1986. Dengan populasi sekitar 24.000 jiwa saat ini, kota itu didirikan untuk menampung pekerja pembangkit beserta para pengungsi.
Sejak saat itu, warga terus bergulat dengan isu pemulihan dan pembangunan kembali pascabencana, termasuk stigma dan rusaknya reputasi akibat hujan radioaktif.

Menghadapi Tantangan
Kini Slavutych menghadapi tantangan baru. Invasi Rusia yang berkepanjangan memberi dampak besar pada perekonomian kota.
Pertempuran telah mengganggu perjalanan harian penduduk ke pembangkit listrik Chornobyl, yang masih menjadi pemberi kerja utama di wilayah itu. Sebelum invasi, para pekerja dapat tiba di lokasi itu dalam waktu kurang dari satu jam lewat rute di Belarus. Karena rute itu tidak lagi tersedia, mereka kini menempuh perjalanan lebih dari enam jam sekali jalan.

Pada saat yang sama, jumlah penduduk terus menurun.
Serhii Akulinin bekerja di pembangkit itu saat kecelakaan terjadi. Kini sebagai pemandu wisata, ia berbagi pelajaran dari kecelakaan itu serta kemajuan upaya dekomisioning kepada para pengunjung.
Akulinin mengatakan penduduk kota terus menua. Menurutnya, Slavutych merupakan tempat yang baik bagi anak-anak, tetapi tidak memiliki cukup lapangan kerja bagi kaum muda. Ia berharap perang segera berakhir.

Mencari Mitra
Pejabat Slavutych berupaya menghidupkan kembali komunitas dengan mempelajari pengalaman negara lain yang menghadapi bencana serupa.
Kota Futaba di Prefektur Fukushima terus berjuang membangun kembali komunitasnya setelah kecelakaan nuklir. Kota itu berada di zona paparan radiasi akibat pelelehan inti pada tiga reaktor di pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi yang dioperasikan Tokyo Electric Power Company, menyusul gempa bumi dan tsunami besar pada Maret 2011.

Perintah evakuasi dicabut untuk sebagian wilayah kota pada 2022. Kini kota itu mendorong penduduk untuk kembali ke kampung halaman, sekaligus menyambut warga baru dari daerah lain.
Futaba juga berupaya menarik dunia usaha dan membuka lapangan kerja. Kota itu telah membangun kawasan industri yang menampung produsen, sementara sebuah hotel besar baru-baru ini dibuka.
Wali Kota Slavutych, Yurii Fomichev, mengatakan kepada NHK bahwa kunjungannya ke Kota Futaba tujuh tahun lalu mendorongnya membangun kemitraan dengan kota di Jepang itu. Yang menarik perhatiannya adalah pemulihan sosial—bagaimana mendukung orang-orang yang terpaksa meninggalkan kampung halaman setelah kecelakaan nuklir, dan bagaimana membangun kembali komunitas yang telah hilang.
Pengalaman Bersama
Tragedi yang sama mendorong kedua pemerintah kota membentuk kemitraan resmi. Pada akhir Juni, mereka menandatangani perjanjian untuk mempererat hubungan dan bekerja sama membangun kembali komunitas masing-masing.

Invasi Rusia ke Ukraina membuat pertemuan tatap muka menjadi tantangan. Akibatnya, wali kota kedua kota menandatangani dokumen itu dalam upacara daring.
Wali Kota Slavutych Yurii Fomichev menyinggung sulitnya mengatasi stigma bencana nuklir. Bahkan 40 tahun setelah kecelakaan Chornobyl dan 39 tahun setelah Slavutych didirikan, sebagian orang masih mempertanyakan keamanan radiasi di kota itu. Ia memperkirakan warga Fukushima menghadapi keraguan serupa.
Wali Kota Futaba Izawa Shiro berharap pertukaran kedua kota terus berlanjut. Menurutnya, pelajaran yang mereka bagikan dapat mendukung pembangunan kembali komunitas masing-masing.
Melestarikan Masa Lalu, Harapan bagi Masa Depan
Mahasiswa Sofia Sidorova adalah salah satu warga Slavutych yang menyambut baik aliansi dengan Futaba.
Sebagian besar kerabatnya bekerja di pembangkit nuklir itu.
Khawatir dengan populasi kota yang semakin berkurang, ia berharap pengalaman Futaba dapat membantu Slavutych melestarikan sejarahnya.
Sofia menyebut Chornobyl sebagai pelajaran bagi seluruh umat manusia. Ia berharap generasi muda mau kembali mengunjungi Slavutych dan kisah tragedi nuklir itu tetap tersampaikan kepada generasi mendatang.

Hampir separuh pameran di sebuah museum di Kyiv yang menampilkan kecelakaan nuklir itu telah hancur akibat serangan Rusia. Sofia mengatakan cara alternatif diperlukan untuk melestarikan kenangan. Bekerja sama dengan kaum muda di Kota Futaba, rencananya adalah menciptakan museum virtual daring menggunakan teknologi VR.
Kedua kota tidak ingin masa lalu menentukan masa depan mereka. Berbekal pelajaran dari trauma bersama, mereka berharap dapat menghidupkan kembali komunitas masing-masing.
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Versi Berita.Jepang.org
- Peran
- Kurasi, terjemahan, dan penyuntingan naskah.
- Pembaruan
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.