Restoran Jepang Kelimpungan Cari Staf Asing Usai Pembekuan Visa 'Specified Skilled Worker'
Industri kuliner Jepang menghadapi krisis tenaga kerja baru setelah pemerintah membekukan pendaftaran izin tinggal Pekerja Berketrampilan Spesifik. Jaringan restoran kini terpaksa mengubah strategi bisnis di tengah ketergantungan tinggi pada staf internasional menjelang musim turis.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Restoran Jepang Kelimpungan Cari Staf Asing Usai Pembekuan Visa 'Specified Skilled Worker'

Pilihan Populer bagi Pekerja Internasional

Jaringan ramen ini memiliki sekitar 200 gerai di seluruh Jepang. Sebanyak 75 karyawan, atau sekitar seperempat dari total staf purnawaktu mereka, bekerja dengan status Pekerja Terampil Tertentu di bagian dapur dan pelayanan.

Hang berasal dari Vietnam dan bekerja di salah satu cabang di Prefektur Chiba. Ia mengawali kariernya sebagai pemagang teknis di pabrik pengolahan makanan di Prefektur Aichi sekitar sepuluh tahun lalu, kemudian kembali ke Jepang pada 2022 dengan status Pekerja Terampil Tertentu demi penghasilan yang lebih baik untuk membesarkan putranya. Menurutnya, sektor layanan makanan dengan status visa tersebut sangat populer di kalangan pencari kerja asal Vietnam karena banyaknya lowongan di wilayah perkotaan Jepang.
Saya lebih suka bekerja di restoran karena bisa lebih sering menggunakan bahasa Jepang, tuturnya. Kesempatan seperti itu jarang saya temukan saat masih bekerja di pabrik.
Melampaui Batas
Sistem Pekerja Terampil Tertentu (Specified Skilled Worker) diperkenalkan pada 2019 untuk merekrut warga negara asing ke sektor industri yang kesulitan mencari tenaga kerja lokal. Para pelamar wajib lulus ujian sertifikasi keterampilan dan tes kemampuan bahasa Jepang.
Secara keseluruhan, pemerintah berencana menerima lebih dari 800.000 warga negara asing di 19 sektor, dengan kuota maksimal 50.000 orang di sektor layanan makanan hingga Maret 2029.
Namun, jumlah pekerja restoran dengan status visa ini melonjak pesat setelah pandemi COVID-19.

Menyadari bahwa kuota sektor tersebut akan segera terlampaui pada Mei ini, pendaftaran pelamar baru ditangguhkan sementara sejak 13 April.
Penangguhan yang Tiba-Tiba
Pihak pengelola restoran ramen menyebut penangguhan ini sangat mendadak. Mereka bergegas merekrut 20 pekerja asing tambahan sebelum kebijakan berlaku demi mengejar target pembukaan gerai baru pada tahun fiskal ini.
Perusahaan itu awalnya berencana merekrut mahasiswa internasional dengan status ini setelah lulus, bahkan sudah memberikan tawaran kerja. Namun, karena pendaftaran ditutup, mereka kini mempertimbangkan pengalihan visa ke kategori tenaga kerja ahli untuk peran manajer pelatihan.
Perubahan ini membuat upaya pencarian tenaga kerja menjadi jauh lebih sulit. Manajer SDM Nakagawa Takahiro mengatakan perusahaan rutin membuka gerai baru setiap tahun demi merespons lonjakan turis mancanegara, dan perekrutan pekerja berketerampilan spesifik telah masuk dalam rencana kebutuhan staf mereka.

Mendapatkan tenaga kerja kini menjadi tantangan berat di seluruh industri, dan sistem Pekerja Berketerampilan Spesifik telah menjadi kanal krusial untuk merekrut personel siap kerja, ungkapnya. Namun, akibat penangguhan baru-baru ini, perusahaan kami mungkin terpaksa meninjau kembali rencana tersebut.
Akankah Batasan Kuota Direvisi?
Kekhawatiran akan krisis tenaga kerja di tengah penangguhan ini mulai meluas di industri tersebut. Namun, Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang mengelola penerimaan pekerja asing di sektor ini menyatakan kepada NHK bahwa pemerintah belum berencana merevisi batas atas kuota karena belum terlihat adanya perubahan kondisi ekonomi yang signifikan.
Lantas, mengapa kuota di sektor layanan makanan bisa terpenuhi begitu cepat? Ikebe Shoichiro, perwakilan firma konsultan perekrutan tenaga kerja asing, menjelaskan bahwa industri restoran telah mengalami perubahan besar sejak sistem visa ini diperkenalkan pada 2019.

Ikebe menyebut mustahil bagi pemerintah untuk memprediksi kebutuhan tenaga kerja industri ini selama masa pandemi. Namun, setelah krisis mereda, lonjakan drastis turis asing memicu kenaikan permintaan mendadak, sehingga proses penerimaan pekerja pun dipercepat.
Batas 50.000 pekerja dinilai tidak mencerminkan besarnya kebutuhan industri layanan makanan yang sebenarnya, ujarnya. Ia menambahkan bahwa jika bukan karena pandemi, batas tersebut pasti sudah tercapai jauh lebih awal.
Meski industri ini sangat memikat pekerja asing, sektor lain dalam skema visa Pekerja Berketerampilan Khusus—seperti konstruksi dan perawatan lansia—justru mencatat angka penerimaan yang jauh di bawah kuota.
Pakar lain, Korekawa Yu, menyebut bahwa banyak bidang pekerjaan yang biasanya diambil pekerja migran cenderung berat dan berisiko. Namun, industri restoran di Jepang dinilai lebih aman dengan kondisi kerja yang relatif baik.

Korekawa juga mencatat bahwa karena perekrutan tenaga kerja asing melalui program ini membutuhkan biaya dan upaya lebih bagi pengusaha, lonjakan angka tersebut mencerminkan permintaan pasar yang sangat kuat.
Menurutnya, pemerintah keliru dalam menghitung proyeksi jumlah pekerja yang akan diterima. Alih-alih menjadikan angka perkiraan sebagai batasan kaku, pemerintah seharusnya membangun sistem penerimaan yang lebih baik dan menggunakan angka tersebut sebagai target umum.
Upaya Mengatasi Kelangkaan Tenaga Kerja
Demi mengatasi masalah ini, pihak industri telah melakukan berbagai langkah signifikan. Asosiasi Layanan Makanan Jepang menyatakan telah mengadopsi teknologi seperti robot pelayan, sistem pemesanan seluler, hingga pembayaran mandiri. Industri ini bahkan menghapus batasan usia pensiun dan aktif mempekerjakan lansia.
Meski demikian, krisis tenaga kerja masih terasa berat. Para ahli khawatir jika kuota pekerja asing terus dibatasi, beberapa pengusaha mungkin akan terdorong melakukan perekrutan secara ilegal.
Seiring kian menyusutnya angkatan kerja di Jepang, kontribusi pekerja asing menjadi semakin vital. Diperlukan mekanisme evaluasi sistem yang jelas guna memastikan kesesuaiannya dengan dinamika industri layanan makanan serta kebutuhan jutaan wisatawan yang datang menikmati pesona Jepang.

Tonton video: Restoran Terhimpit Saat Lonjakan Kebutuhan Pekerja Asing | NHK WORLD-JAPAN News
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Versi Berita.Jepang.org
- Peran
- Kurasi, terjemahan, dan penyuntingan naskah.
- Pembaruan
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.