Lewati ke konten utama
Berita.Jepang.org

Museum Edo-Tokyo Dibuka Kembali dengan Pameran Imersif Baru

Museum Edo-Tokyo kembali dibuka setelah empat tahun renovasi, menghadirkan pameran yang lebih interaktif sekaligus meningkatkan aksesibilitas. Kebangkitan museum ini juga mengembalikan salah satu tujuan wisata populer di Tokyo ke daftar kunjungan wisatawan.

NHK WORLD4 mnt

Bagikan Artikel

Jalur masuk Museum Edo-Tokyo dengan struktur merah dan layar digital interaktif

Visual Utama

Museum Edo-Tokyo Dibuka Kembali dengan Pameran Imersif Baru

Tutup
Jalur masuk Museum Edo-Tokyo dengan struktur merah dan layar digital interaktif

Museum ini pertama kali dibuka pada 1993 sebagai tempat yang menampilkan 400 tahun sejarah Tokyo. Berlokasi di Distrik Sumida yang masih dikenal dengan nuansa era Edo, kawasan ini juga menjadi tempat berdirinya arena Ryogoku Kokugikan yang dianggap sebagai pusat spiritual sumo.

Jalur menuju pintu masuk museum
Jalur menuju pintu masuk museum

Salah satu fitur baru yang paling menonjol adalah jalur pejalan kaki menuju pintu masuk, yang menampilkan deretan struktur merah terinspirasi gerbang torii. Layar digital di sisinya memperlihatkan karakter animasi dari masa kini hingga era Edo yang berjalan di rute yang sama.

Melintasi Nihonbashi

Versi Nihonbashi di museum
Versi Nihonbashi di museum

Begitu masuk, pengunjung akan melangkah ke atas jembatan kayu besar bernama Nihonbashi, salah satu elemen utama museum lama. Replika bangunan bersejarah ini dahulu dianggap sebagai pusat distrik bisnis ibu kota dan telah diabadikan selama berabad-abad dalam seni Jepang, termasuk cetakan ukiyo-e.

Di Tokyo masa kini, Nihonbashi adalah jembatan batu yang selesai dibangun pada 1911 dan ditetapkan sebagai properti budaya penting.

Nihonbashi digambarkan dalam karya ukiyo-e Clear morning after snow at Nihonbashi bridge karya Utagawa Hiroshige
Nihonbashi digambarkan dalam karya ukiyo-e Clear morning after snow at Nihonbashi bridge karya Utagawa Hiroshige

Lengkungan ikonik Nihonbashi memiliki fungsi lain di museum ini, yakni menjadi jembatan menuju masa lalu Tokyo. Jembatan itu juga menjadi batas antara dua zona, sisi Edo dan sisi Tokyo, yang merepresentasikan ibu kota sejak era Meiji dan seterusnya.

Renovasi ini bertujuan membawa pengunjung larut dalam suasana Edo melalui proyeksi modern yang digunakan untuk mensimulasikan langit. Pemandangan langit itu menggambarkan Tokyo sepanjang pergantian musim.

Proyeksi digital itu menampilkan koinobori, bendera berbentuk ikan mas, serta Gunung Fuji.
Proyeksi digital itu menampilkan koinobori, bendera berbentuk ikan mas, serta Gunung Fuji.

Tirai pembatas tradisional yang disebut noren tergantung di pintu masuk area pameran yang telah direnovasi. Pilihan koleksi bergilir dari lebih dari 350.000 artefak milik museum akan dipamerkan. Sejak pembukaan kembali pada 31 Maret, baju zirah samurai dari periode Edo dipajang.

Setelan baju zirah itu dihargai bukan hanya karena kegunaannya, tetapi juga karena keindahannya yang dihias mewah, serta menjadi simbol kekuasaan dan prestise.
Setelan baju zirah itu dihargai bukan hanya karena kegunaannya, tetapi juga karena keindahannya yang dihias mewah, serta menjadi simbol kekuasaan dan prestise.

Sebagian pameran bersifat imersif dan interaktif, sehingga mendorong pengunjung untuk terlibat dengan berbagai cara. Rekreasi pemandangan jalan yang menggambarkan kehidupan sehari-hari di Edo dilengkapi layar sentuh yang memicu visual digital dan efek suara. Pengunjung bahkan dapat mencoba pekerjaan fisik yang berat, seperti memikul pikulan.

Pengunjung dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi pedagang keliling yang menjual hasil bumi dari keranjang yang digantung pada pikulan.
Pengunjung dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi pedagang keliling yang menjual hasil bumi dari keranjang yang digantung pada pikulan.

Beberapa bagian juga memamerkan benda-benda nyata yang tetap akrab dalam kehidupan modern, meski ukurannya berbeda, seperti sushi. Di bawah jembatan terdapat teater kabuki yang sebelumnya hanya berupa fasad, tetapi kini memiliki bagian dalam.

Sushi pada masa itu disajikan dalam ukuran dua hingga tiga kali lebih besar daripada sekarang.
Sushi pada masa itu disajikan dalam ukuran dua hingga tiga kali lebih besar daripada sekarang.

Saat Edo Menjadi Tokyo

Di seberang teater, kota ini memasuki babak baru. Menjelang akhir abad ke-19, periode Meiji dimulai, ketika pengaruh Barat mulai mencapai pesisir Jepang dan Edo kemudian dikenal sebagai Tokyo. Menara jam baru yang dibangun dan menjadi landmark Ginza itu berdiri setinggi 26 meter, mencerminkan perubahan besar yang dialami kota tersebut dalam masa transformasi yang sangat cepat.

Menara jam ini menjadi pintu masuk ke zona modernisasi museum.
Menara jam ini menjadi pintu masuk ke zona modernisasi museum.

Diorama selalu menjadi salah satu ciri khas museum ini, dan sebagai bagian dari renovasi, beberapa di antaranya kini dibuka agar detailnya dapat diamati dari jarak dekat.

Diorama di dalam menara jam
Diorama di dalam menara jam

Tambahan baru dalam pameran permanen adalah replika skala penuh Gerbang Asakusa Hanayashiki, yang pertama kali dibangun sekitar 1900. Pada masa itu, orang-orang melewati gerbang tersebut untuk menuju taman hiburan yang hingga kini masih ada di kawasan wisata populer itu.

Gerbang Asakusa Hanayashiki
Gerbang Asakusa Hanayashiki

Dengan menjelajahi seluruh museum, pengunjung dapat melihat bagaimana kehidupan warga Tokyo berubah dari era Meiji, Taisho, dan Showa hingga era modern Heisei dan Reiwa.

Hunian era Showa dengan furnitur dan perlengkapan rumah tangga yang sesuai dengan zamannya
Hunian era Showa dengan furnitur dan perlengkapan rumah tangga yang sesuai dengan zamannya

Pengalaman yang Kian Kaya

Salah satu kurator museum, Kutsusawa Hiroyuki, mengatakan bahwa ia senang dapat kembali menyambut pengunjung setelah jeda yang begitu lama.

Kutsusawa Hiroyuki, kurator Museum Edo-Tokyo
Kutsusawa Hiroyuki, kurator Museum Edo-Tokyo

Sebelum pandemi, fasilitas ini menarik lebih dari sejuta orang setiap tahun. Tempat ini berharap dapat menarik lebih banyak pengunjung dari luar negeri dengan panduan audio yang kini tersedia dalam 13 bahasa dan dapat diakses sepenuhnya melalui ponsel pintar.

Menurut Kutsusawa, panduan audio ini dibuat agar sejarah Jepang dan perkembangannya dapat dijelaskan dengan lebih baik kepada pengunjung asing, sehingga mereka bisa memperoleh pengalaman semaksimal mungkin sambil menikmati Tokyo itu sendiri.

Pengunjung dapat memilih panduan audio yang sesuai di setiap bagian museum.
Pengunjung dapat memilih panduan audio yang sesuai di setiap bagian museum.

Ia ingin para pengunjung yang sudah mengenal sedikit sejarah Tokyo menelusuri masa lalunya lebih dalam. Menurutnya, banyak pengunjung asing mengetahui sebagian tentang kota itu melalui media atau anime. Ia berharap dengan mengunjungi museum ini, mereka dapat menghubungkan berbagai pengetahuan tersebut dan memahami sejarah serta budayanya dengan lebih baik, sehingga memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana ibu kota ini berkembang.

Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.51 WIB

Sumber Berita

Penerbit
NHK WORLD
Tanggal Sumber
Pranala Sumber

Video Sumber

Dengarkan Artikel

Putar versi audio langsung dari browser Anda.

Menyiapkan audio browser...

Kata Kunci

Jejak Topik

Komentar Pembaca

Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.