15 Tahun Pasca Gempa 3/11, Pencarian Korban Masih Berlanjut
Rabu menandai 15 tahun sejak Gempa Besar Jepang Timur 11 Maret 2011 yang memicu tsunami dahsyat. Dari 19.711 korban tewas, 2.519 masih hilang, sementara keluarga terus berupaya menemukan orang tercinta mereka.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
15 Tahun Pasca Gempa 3/11, Pencarian Korban Masih Berlanjut

Natsuse, Enam Tahun, Akhirnya Pulang
Di antara korban hilang terdapat Yamane Natsuse, seorang gadis dari Prefektur Iwate. Bocah berusia enam tahun ini ceria, aktif, dan selalu tersenyum.

Pada hari bencana, Natsuse baru saja pulang dari sekolah. Tak lama setelah itu, ibunya, Chiyumi, berangkat bekerja.
Ia mengenang momen terakhir mereka. Natsuse menangis seakan memohon agar tidak ditinggalkan. Saya memanggil neneknya lalu memaksakan diri keluar. Itulah kali terakhir saya melihatnya.
Ayah Natsuse, Tomonori, bergegas pulang setelah gempa dan menemukan lantai pertama rumah mereka terendam. Sang nenek selamat di lantai atas, tetapi ia mengatakan Natsuse berada di suatu tempat di lantai bawah.

Keluarga itu menyisir berbagai kamar mayat yang didirikan di sekitar daerah itu, tetapi tidak membuahkan hasil. Selama tahun-tahun berikutnya, mereka terus bertanya-tanya apa lagi yang bisa mereka lakukan.
Tomonori mengatakan ia merasa takut saat sendirian dan tidak bisa berhenti memikirkan Natsuse, bahkan saat bekerja. Yang terus terlintas di pikirannya hanyalah mengapa ia tidak bisa menyelamatkannya. Rasanya sangat menyiksa.

Kisah mereka berubah pada Oktober 2025, ketika keluarga itu menerima kabar yang tak terduga.
Fragmen tulang manusia yang ditemukan di Prefektur Miyagi, lebih dari 70 kilometer jauhnya, dipastikan milik Natsuse. Putri mereka akhirnya pulang ke rumah.

Chiyumi mengatakan Natsuse telah menempuh lautan yang luas ini, dan entah bagaimana ia merasa Natsuse bisa kembali atas kehendaknya sendiri. Namun, mereka tetap merasa bersalah karena sempat berhenti mencarinya.
Sekarang, Tomonori berbicara kepada putrinya setiap pagi. Sejak Natsuse ditemukan, ia tidak lagi muncul dalam mimpiku, katanya. Jadi aku merasa dia selalu ada di sisiku.

Tomonori dan Chiyumi dulu bahkan takut memandang laut setelah kehilangan putri mereka, tetapi perasaan itu kini hilang. Setelah Natsuse pulang ke rumah, kami mulai menghabiskan waktu memandangi laut, kata Chiyumi. Keajaiban benar-benar terjadi. Kami sungguh ingin berterima kasih kepada orang-orang yang menemukannya.
Pencarian di Bawah Laut
Di tengah tragedi pribadi yang bagi sebagian orang memberi sedikit penutupan luka, ada mereka yang masih terjebak dalam kehilangan dan keinginan untuk menemukan jawaban.

Istri Takamatsu Yasuo, Yuko, tersapu tsunami saat berada di atap gedung tempat ia bekerja. Yasuo selamat dan, seperti banyak orang lain, menghabiskan waktu setelah bencana dengan mengunjungi tempat pengungsian dan rumah sakit, namun tidak membuahkan hasil.

Satu-satunya yang berhasil ia temukan adalah ponsel Yuko, berisi pesan yang dikirim Yuko padanya tepat sebelum tsunami datang: Kamu baik-baik saja? Aku ingin pulang.
Pesan itu mendorong Yasuo untuk memutuskan mencari istrinya sendiri, memenuhi permintaan Yuko. Hingga saat itu, ia belum pernah menyelam scuba, tetapi sejak 2014 ia mulai rutin menyelam dan melanjutkan pencariannya ke dasar laut.

Setelah lebih dari 750 kali menyelam, ia menemukan banyak jejak kehidupan, seperti tas dan pakaian, namun belum ada tanda istrinya. Menjelang ulang tahunnya yang ke-70 tahun ini, Yasuo bertekad untuk terus menyelam selama masih mampu.
Bagi Yasuo, berada di bawah laut terasa seperti bertemu kembali dengan istrinya. Baginya, 15 tahun setelah bencana itu bukanlah akhir, melainkan sebuah titik di tengah perjalanan hidup.

Pencarian Belum Usai
Banyak orang memanjatkan doa bagi mereka yang meninggal pada hari itu dan setelahnya. Namun, bagi 2.519 orang yang hingga kini masih hilang, pencarian terus berlanjut.

Di Prefektur Miyagi saja, lebih dari 1.200 orang masih belum ditemukan. Di Kota Kesennuma, sekitar 110 orang, termasuk polisi dan relawan, ikut menyisir pasir dan bebatuan untuk pencarian jenazah pada Rabu pagi.
Polisi di Ishinomaki juga melakukan pencarian mereka sendiri pada hari Senin.
Meskipun hasil yang diharapkan belum didapat, pencarian akan terus berlanjut dengan harapan setiap korban bisa dibawa pulang.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.51 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.

