Program Kesiapsiagaan Bencana Membantu Warga Lokal dan Asing di Jepang
Hampir 4 juta warga asing kini tinggal di Jepang, dua kali lipat sejak Gempa Besar Jepang Timur 2011. Berbagai program mengajarkan cara menghadapi bencana agar pengetahuan lokal tersalurkan ke semua warga.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Program Kesiapsiagaan Bencana Membantu Warga Lokal dan Asing di Jepang

Menghadapi Gempa Besar di Jepang Timur

Bhawani Duwadi telah menetap di Jepang hampir 20 tahun. Keluarganya pindah dari Nepal ke Kota Sendai, Prefektur Miyagi, di timur laut Jepang, untuk mencari pengobatan bagi putrinya.

Ia dan suaminya berada di pusat kota saat gempa terjadi. Dalam kepanikan orang-orang, mereka terjebak di tengah kerumunan.

Tidak tahu harus berbuat apa, ia segera menuju sekolah dasar anak-anaknya. Baru saat sampai di sana ia menyadari tempat itu adalah pusat evakuasi.
Mengenang pengalaman itu, Duwadi mengatakan ia mengungsi hanya karena kebetulan anak-anaknya berada di sekolah. Jika saat itu ia berada di rumah, mungkin ia tetap tinggal karena rasa takut. Bahasa Jepang yang belum lancar membuatnya sulit memperoleh informasi. Ia merasa aman di sekolah karena dikelilingi orang-orang Jepang.
Minat Duwadi dalam Kesiapsiagaan Bencana

Pengalaman itu mendorong Duwadi untuk mempelajari lebih dalam tentang langkah yang harus diambil saat bencana. Selama enam tahun, ia mengikuti program Pemimpin Pencegahan Bencana bagi Warga Asing, yang diselenggarakan oleh Sendai Tourism, Convention and International Association, sebuah yayasan publik bekerja sama dengan pemerintah daerah. Kegiatan program ini mencakup latihan kesiapsiagaan bencana dan persiapan tas darurat untuk evakuasi.

Hingga saat ini, 57 orang dari 26 negara dan wilayah telah bergabung. Mereka juga memainkan peran penting saat situasi darurat terjadi.

Desember lalu, wilayah lepas Prefektur Aomori diguncang gempa dengan intensitas 6 pada skala Jepang 0–7. Menanggapi hal itu, Duwadi menerjemahkan informasi tentang gempa dan potensi tsunami ke dalam bahasa Nepal, kemudian membagikannya melalui media sosial.
Dengan semakin banyaknya warga asing yang tinggal di komunitas tersebut, Duwadi berharap sebagian dari mereka akan meniru langkah serupa.

Ia berkata bahwa pelatihan itu memberinya pemahaman pertama tentang apa yang harus dilakukan. Itulah yang membuatnya merasa mampu bertindak. Meski hanya satu orang demi satu orang, ia berharap informasi ini dapat tersebar perlahan-lahan.
Saling Mendukung Saat Bencana
Sendai bukan satu-satunya kota yang melibatkan warga asing dalam kesiapsiagaan bencana. Tokyo, tempat tinggal satu dari lima warga asing di Jepang, juga pernah mengalami gempa besar. Sebuah panel pemerintah memperkirakan bahwa dalam skenario terburuk, gempa besar tepat di bawah Tokyo bisa menelan sekitar 18.000 korban tewas.

Untuk itu, pejabat di Distrik Chiyoda mengadakan tur jalan kaki kesiapsiagaan bencana pada Januari bagi warga asing dan warga Jepang.

Peserta diajari cara menggunakan sistem pesan suara darurat Jepang, yang bisa diakses gratis dari telepon umum. Sistem ini juga memungkinkan informasi keselamatan dicek dari luar negeri.

Mereka juga diperlihatkan cara mengenali tempat usaha yang akan memberikan bantuan saat darurat, seperti menyediakan air dan akses toilet, melalui stiker yang dipasang di luar bangunan. Seorang peserta dari Rusia berharap apa yang dipelajarinya dapat membantu orang di sekitarnya.

Ia mengatakan keterlibatannya dalam kegiatan seperti ini membantunya menjadi penghubung antara warga lokal dan asing. Ia menambahkan bahwa kemampuan berbahasa Inggris dan pemahaman bahasa Jepang yang dimilikinya membuatnya dapat membantu lebih banyak orang.

Salah satu perencana acara ini adalah Kikuchi Akiyoshi, profesor madya di Universitas Meisei. Ia menekankan pentingnya membangun hubungan sehari-hari antara warga Jepang dan warga asing.
Ia menjelaskan bahwa populasi Jepang terus menyusut dan menua, sementara jumlah warga asing terus bertambah. Dalam kondisi ini, yang dibutuhkan adalah hubungan yang memungkinkan warga Jepang dan asing saling mendukung, terutama saat bencana, dan itu dimulai dari kehidupan sehari-hari.
Bencana bisa datang kapan saja. Harapannya, dengan saling bergandengan tangan, tetangga dapat saling melindungi saat keadaan terburuk terjadi.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.51 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.


