Ilmuwan Nuklir Serukan Rekan Hadapi Tanggung Jawab Moral di Hiroshima
Para ilmuwan dari hampir 40 negara berkumpul di Hiroshima untuk memperkuat komitmen moral dalam mewujudkan dunia bebas senjata nuklir. Konferensi ini menyoroti pengalaman hidup Hussain Al-Shahristani yang menghadapi dilema moral dalam sains nuklir.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Ilmuwan Nuklir Serukan Rekan Hadapi Tanggung Jawab Moral di Hiroshima

Pugwash Menggelar Pertemuan di Hiroshima
Dalam peringatan 80 tahun pengeboman atom di Hiroshima tahun lalu, para fisikawan nuklir serta ilmuwan dan cendekiawan dari hampir 40 negara berkumpul di kota ini untuk membahas cara mewujudkan dunia bebas senjata nuklir. Konferensi Pugwash tentang Sains dan Urusan Dunia pertama kali diadakan pada 1957, terinspirasi oleh Manifesto Russell–Einstein yang menyerukan para ilmuwan menghadapi bahaya era nuklir.
Ini merupakan kunjungan pertama Al-Shahristani ke Hiroshima. Kita berkumpul di sini bukan hanya untuk merenungkan masa lalu, tetapi juga untuk memperbarui komitmen moral bersama, ujarnya saat membuka pertemuan.

Kehidupan yang Dibentuk oleh Penolakan
Pada 1970-an, Al-Shahristani menjabat sebagai kepala ilmuwan di Komisi Energi Atom Irak. Ia mengaku diperintahkan untuk bergabung dalam program senjata nuklir Saddam Hussein, sebuah perintah yang ia tolak.

Konsekuensinya sangat berat. Al-Shahristani menyebutkan ia disiksa dan dipenjara selama 11 tahun sebelum berhasil melarikan diri dari penjara Abu Ghraib yang terkenal kejam pada Perang Teluk 1991. Seorang narapidana lain sempat mengambil foto dirinya saat masih berada di penjara.

Ketika Saddam meminta saya mengembangkan senjata nuklir, saya sudah sadar ini sesuatu yang tidak akan pernah saya lakukan, kenangnya. Saya tidak bisa membiarkan diri saya menimbulkan kematian puluhan ribu, bahkan mungkin jutaan orang tak bersalah. Keputusannya sederhana, dan saya tahu harga yang harus dibayar.
Mengunjungi Hiroshima yang Hancur
Sebelum konferensi dimulai, Al-Shahristani mengunjungi Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima. Pameran pertama, sebuah rekreasi CG yang menunjukkan bagaimana satu perangkat mampu menghancurkan seluruh kota menjadi puing, sangat menyentuh hatinya. Ia menyebutnya sebagai pengingat kuat bahwa karya ilmuwan dapat digunakan untuk dampak yang sangat merusak.

Cerita Sang Penyintas
Salah satu sesi menampilkan percakapan dengan penyintas bom atom. Ogura Keiko berusia 8 tahun saat ledakan terjadi, berada 2,4 km dari hiposenter. Kini berusia 88 tahun, dia menceritakan pengalamannya melihat orang-orang dengan wajah terbakar parah dan kulit terkelupas saat mereka terhuyung-huyung mencari keselamatan.

'Saya memberi mereka air,' katanya. 'Beberapa tampak baik-baik saja, tetapi dua orang meninggal tepat di depan Saya. Pengalaman itu sangat traumatis. Saya merasa seolah-olah telah membunuh mereka. Ini adalah bekas luka Saya. Ada begitu banyak bekas luka tak terlihat yang dimiliki para penyintas.'
Duduk di sampingnya, Al-Shahristani tampak emosional. Ia mengenang bahwa sebagai mahasiswa muda, mempelajari tentang Hiroshima meyakinkannya untuk tidak pernah menggunakan sains demi mencelakakan orang lain.
Al-Shahristani mengatakan kata-kata Ogura memperkuat tekadnya. 'Apa yang telah dia lalui membuat orang-orang semakin berkomitmen pada perjuangan ini, untuk memastikan tidak ada orang lain di dunia yang mengalami penderitaan seperti dia dan para penyintas lainnya.'

Dunia Nuklir yang Salah Arah
Delapan dekade setelah tragedi Hiroshima, para penyintas masih berharap penghapusan senjata nuklir bukan sekadar impian.
Menurut perkiraan sebuah kelompok riset internasional, terdapat lebih dari 12.000 hulu ledak nuklir di seluruh dunia. Negara-negara pemilik senjata nuklir sedang memodernisasi persenjataan mereka; Rusia berulang kali mengancam dengan senjata nuklir selama invasi ke Ukraina, sementara Amerika Serikat memberi isyarat bahwa uji coba nuklir mungkin akan dilanjutkan.
Yang paling mengkhawatirkan, menurut Al-Shahristani, adalah normalisasi retorika nuklir, terkikisnya pengendalian diri, dan pelanggaran terus-menerus terhadap perjanjian internasional. Ia meyakini ancaman saat ini lebih besar dari apa pun yang pernah dialami dunia sejak Krisis Rudal Kuba tahun 1962.
Ia juga mengkhawatirkan penyalahgunaan teknologi disruptif, seperti kecerdasan buatan, persenjataan ruang angkasa, dan rekayasa biologi, yang bisa mempercepat pengembangan senjata nuklir atau senjata pemusnah massal lainnya.
Mewariskan Misi

Pada usia 83 tahun, Al-Shahristani merasa berkewajiban mewariskan rasa tanggung jawab ini kepada generasi yang lebih muda.
Matteo Bordin, mahasiswa doktoral asal Italia, adalah salah satu ilmuwan muda yang bersemangat mengemban misi Pugwash. Kami melakukan segala yang bisa kami lakukan untuk akhirnya mencapai penghapusan senjata nuklir, ujarnya kepada NHK World.
Fisikawan Amerika Serikat, Nicholas Benoit, adalah ilmuwan muda lainnya. Ia mengatakan berusaha selalu menempatkan etika sebagai inti pekerjaannya. Saya berpikir tidak hanya tentang bagaimana penelitian saya digunakan sendiri, tetapi juga bagaimana orang lain mungkin menggunakannya dan dampak apa yang dapat ditimbulkan bagi dunia.

Bagi Al-Shahristani, inovasi saja tidak cukup. Kita tidak boleh menyerahkan nasib umat manusia ke tangan segelintir pemimpin negara yang memiliki senjata nuklir atau senjata pemusnah massal lainnya, ujarnya. Memang kita belum berhasil menghapuskan senjata nuklir, tapi itu tidak membuat kita menyerah.
Ilmuwan harus mengantisipasi potensi penyalahgunaan karya mereka, meningkatkan kesadaran akan risiko, dan mendorong norma serta perlindungan global. Mereka memikul tanggung jawab untuk bertindak dengan integritas moral dan etis.

Catatan Editor
Dalam laporan sebelumnya tentang dilema penggunaan ganda sains dan teknologi — penelitian yang awalnya untuk kepentingan sipil namun dapat disalahgunakan untuk militer atau tujuan berbahaya — beberapa ilmuwan menyatakan bahwa tanggung jawab mereka berakhir pada tahap pengembangan, sementara keputusan penggunaan diserahkan pada politik. Hussain Al-Shahristani menentang pandangan ini. Ia berargumen bahwa komunitas ilmiah memiliki tanggung jawab etis untuk memastikan pengetahuan digunakan demi kemanusiaan. Ia memperingatkan bahwa di tengah retorika nuklir yang kembali mencuat, perubahan teknologi yang cepat, dan kemajuan pelucutan senjata nuklir yang lambat, diam saja sudah merupakan sebuah pilihan moral.
Pesan itu diperkuat oleh penyintas bom atom Ogura Keiko, yang mendorong ilmuwan untuk berani bersuara, mengingat ketakutan dan kesedihan yang dialami mereka yang menyaksikan kengerian Hiroshima dan Nagasaki secara langsung. Seiring berkurangnya jumlah saksi, kesaksian mereka menjadi semakin penting.
Pertanyaan yang muncul sangat nyata: Jika ilmuwan tidak secara aktif mempertahankan batasan etika dan menentang penyalahgunaan sains, siapa yang akan melakukannya — dan dengan harga apa?
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.
