Putra Aung San Suu Kyi Serukan Pembebasan Ibunya
Aris, putra Aung San Suu Kyi, kembali ke Jepang setelah hampir 40 tahun dan menekankan pentingnya pembebasan ibunya yang masih ditahan militer Myanmar. Ia mengenang masa kecilnya di Kyoto dan berharap situasi akan membaik sehingga bisa kembali dengan damai.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Putra Aung San Suu Kyi Serukan Pembebasan Ibunya

Kenangan Aris Bersama Ibunya di Jepang

Kunjungan Aris ke Jepang ini merupakan yang pertama dalam sekitar 40 tahun. Ia tinggal di Kyoto selama setahun bersama ibunya ketika berusia 7 tahun. Ibunya merupakan peneliti tamu di Universitas Kyoto, meneliti tentang ayahnya, Jenderal Aung San. Aris mengatakan ia bersekolah di Kyoto dan belajar bermain harmonika, lompat tali, serta kaligrafi Jepang pada masa itu.
Ia menyatakan senang bisa kembali ke sini, meski sangat disayangkan kunjungannya terjadi dalam situasi seperti ini, dan ia berharap bisa kembali di waktu yang lebih baik.
Aris menceritakan bahwa ia memiliki kenangan indah di Jepang, karena itu merupakan waktu langka untuk menghabiskan banyak saat bersama ibunya. Beberapa waktu setelah itu, ibunya menjalani tahanan rumah untuk pertama kalinya.

Ia berharap bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan ibunya selama bertahun-tahun, dan berharap kesempatan itu datang di masa depan, namun ibunya kini berusia 80 tahun dan bisa meninggal kapan saja di penjara.
Suu Kyi Ditangkap Berulang Kali

Aung San Suu Kyi beberapa kali mengalami status sebagai tahanan politik. Pihak militer membebaskannya dari tahanan rumah pada 2010, sesaat sebelum pemilihan umum, tampaknya sebagai bagian dari upaya memperbaiki citra Myanmar di mata dunia.
Namun, Aung San Suu Kyi tetap menjadi duri dalam mata pihak militer.
Dia menyatakan bahwa dirinya mencoba melakukan reformasi, termasuk reformasi finansial dan penyelidikan keuangan militer. Hal itu berarti pada akhirnya mereka akan menghadapi pertanggungjawaban dengan satu atau lain cara, dan itulah sebabnya mereka menolak reformasi tersebut.
Aris Menjadi Publik Figur, Meski Bertentangan dengan Keinginan Ibunya
Aris pertama kali muncul di publik pada 1991, saat mewakili ibunya yang tengah menjalani tahanan rumah untuk menerima Penghargaan Nobel Perdamaian. Sejak itu, dia berusaha menghindari sorotan publik sesuai keinginan ibunya, meskipun dia termasuk sedikit orang yang dapat membela ibunya secara terbuka.
Dia mengatakan bahwa ibunya tidak pernah menginginkan dia mengikuti jejak yang sama, karena mengetahui jalan itu sangat berat.
Meski begitu, Aris tetap menjadi sosok penting dalam perjuangan untuk kebebasan Myanmar dan pembebasan ibunya.

Dia mengatakan bahwa ibunya pasti akan senang mengetahui dia mendukung rakyat Burma saat ini, namun pada saat yang sama, sang ibu juga pasti merasa sedih karena harus turun tangan dalam urusan ini.
Menjelang Pemilu
Menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan mulai 28 Desember, Aris ikut serta dalam aksi protes di Tokyo pekan lalu.
Para pengunjuk rasa meminta komunitas internasional untuk tidak mengakui hasil pemilu, meskipun junta mengklaim pemungutan suara ini bagian dari proses transisi menuju pemerintahan sipil.
Militer yang berkuasa di Myanmar terus meningkatkan tekanan terhadap para pemilih.
Junta menuduh lebih dari 220 orang berusaha menghalangi proses pemilu berdasarkan undang-undang baru yang disahkan pada Juli, dan mereka yang dituduh bisa menghadapi hukuman penjara yang panjang.

Aris menyebut pemilihan tersebut sebagai sandiwara, dengan alasan militer menggelar pemilu sekarang hanyalah untuk menunjukkan pada dunia bahwa mereka berusaha bersikap demokratis dan terus maju. Namun ia menegaskan bahwa itu hanyalah kebohongan.
Mereka hanya melakukan ini untuk mempertahankan kekuasaan.
Aris mengatakan saat ini hanya ada sedikit kesempatan untuk membuat komunitas internasional menaruh perhatian pada Myanmar.
Sambil menyinggung pusat penipuan, perdagangan manusia, dan narkoba yang keluar dari negara itu, ia menekankan bahwa dunia perlu waspada, memperhatikan, dan bertindak untuk membantu.
Seruan Pembebasan Ibunya
Ia juga meminta masyarakat mengingat bahwa ibunya termasuk sedikit tokoh yang mengambil langkah nyata menuju perdamaian dan rekonsiliasi, serta telah mengajarkan dunia tentang demokrasi.

Aris mengatakan misinya baru akan selesai ketika ibunya dibebaskan.
Menurut saya, jika saya bisa menemuinya, dia dikembalikan ke tahanan rumah, ada verifikasi independen tentang kondisinya, dan dia mendapatkan hak asasi dasar untuk berkomunikasi dengan keluarga serta memastikan menerima perawatan yang dibutuhkan, maka saya telah menunaikan tugas saya.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.



