Tokyo Perkuat Ketahanan Api untuk Hadapi Gempa Besar
Setelah kebakaran hebat di Prefektur Oita, Tokyo meningkatkan upaya pencegahan agar kawasan pemukiman kayu lebih aman dari risiko kebakaran saat gempa. Pemerintah fokus pada pengurangan kepadatan bangunan dan strategi mitigasi bencana.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Tokyo Perkuat Ketahanan Api untuk Hadapi Gempa Besar

Jepang memiliki tradisi panjang dalam arsitektur kayu, termasuk kuil Buddha, kuil Shinto, dan rumah tinggal. Menurut Badan Perhutanan, lebih dari 90 persen rumah yang dibangun tahun lalu menggunakan kayu.
Namun, Jepang juga berada di wilayah rawan gempa. Gempa sebelumnya pernah memicu kebakaran yang menyebar di antara bangunan kayu, menimbulkan kerusakan parah dan korban jiwa.
Menanggapi Gempa Besar Jepang Timur 2011, Pemerintah Metropolitan Tokyo mempercepat upaya mengurangi kepadatan kawasan pemukiman kayu di ibu kota.
Struktur kayu sebenarnya tidak selalu menjadi risiko kebakaran utama. Risiko meningkat tajam ketika bangunan-bangunan itu berdiri sangat rapat satu sama lain.

Pada 2010, area yang ditunjukkan pada peta ini adalah lingkungan hunian padat dengan bangunan kayu. Namun pada 2025, jumlahnya berkurang hingga kurang dari separuh.
Langkah Pengamanan di Kawasan Pemukiman Tokyo dengan Jalan Sempit
Yoshikawa mengunjungi kawasan pemukiman khas di Distrik Sumida, Tokyo timur, untuk melihat bagaimana pemerintah kota berupaya membuat lingkungan lebih aman.

Kawasan ini dipenuhi rumah-rumah kayu tua dengan atap yang hampir bersentuhan. Jalannya terlalu sempit untuk dilewati mobil pemadam kebakaran. Distrik padat seperti ini bisa ditemukan di banyak kota di Jepang, dan jika kebakaran terjadi, api dapat menyebar sangat cepat.

Para pejabat Distrik Sumida berupaya meminimalkan risiko tersebut. Pihak distrik membeli lahan dari warga dan menawarkan kompensasi agar masyarakat dapat merenovasi rumah atau pindah ke tempat lain. Proyek ini dimulai sekitar 40 tahun lalu, dan sejak itu 6 dari 17 jalan yang ditargetkan telah diperlebar, sehingga lebih mudah diakses kendaraan maupun pejalan kaki.
Distrik ini juga mengubah sebagian lahan menjadi taman yang berfungsi sebagai zona penyangga untuk mencegah penyebaran api serta menjadi basis pemadaman kebakaran.

Jika terjadi kebakaran, siapa pun dapat mengangkat dudukan bangku dan mengambil selang tersebut. Tekanan airnya cukup kuat untuk menjangkau lantai dua bangunan. Para pejabat menekankan bahwa upaya pemadaman awal sangat penting untuk mencegah api meluas.
Penduduk setempat Yoshino Masahiko mengatakan bahwa ia lebih menyukai bangunan kayu dibanding baja dan beton yang terasa dingin. Warga lainnya, Hayashi Mamoru, menambahkan, Kami ingin melestarikan keistimewaan kawasan ini sambil meningkatkan upaya pemadaman kebakaran.
Mori Takanori dari Departemen Perencanaan Kota Distrik Sumida mengatakan, Kami belum mampu memperluas semua jalan yang kami inginkan, dan masih kekurangan ruang-ruang seperti ini. Dukungan warga sangat dibutuhkan agar proyek ini terus maju.
Membangun Bangunan Tahan Gempa
Profesor Emeritus Nakabayashi Itsuki dari Universitas Metropolitan Tokyo, pakar pencegahan bencana perkotaan, mengatakan bahwa upaya Tokyo sudah membuahkan hasil namun belum tuntas. Ia menekankan bahwa memperluas jalan sama pentingnya dengan membangun struktur yang tahan gempa.

Nakabayashi juga menyoroti bahwa rumah-rumah individu bisa menimbulkan risiko bagi lingkungan sekitarnya: ada bangunan tahan gempa dan bangunan lama yang rawan runtuh. Kota ini ibarat mosaik yang dipenuhi bangunan mudah terbakar, dan saat struktur seperti itu terbakar habis, api akhirnya merambat.
Pejabat Distrik Sumida mencoba mengatasi masalah ini dengan memberikan subsidi kepada warga agar dapat membangun kembali rumah menggunakan bahan yang tidak mudah terbakar. Namun, ini bukan berarti melarang penggunaan kayu; ada cara-cara memanfaatkan kayu yang tetap mengurangi risiko kebakaran.
Cepat Memadamkan Api Adalah Kunci
Yoshikawa mengunjungi Ikebukuro Life Safety Learning Center milik Departemen Pemadam Kebakaran Tokyo, tempat masyarakat bisa berlatih memadamkan kebakaran, termasuk mengoperasikan alat pemadam. Kepala pusat, Utashiro Tsubasa, mengimbau masyarakat untuk mencoba memadamkan api sebelum petugas pemadam kebakaran datang.

Utashiro mengatakan: Meskipun Anda menelepon 119 untuk meminta bantuan pemadam kebakaran, mereka tidak akan tiba seketika. Dalam hitungan menit, api bisa menyebar. Dengan mengetahui cara memadamkan api sendiri, Anda bisa melindungi rumah dan lingkungan sekitar.
Ia menjelaskan tiga hal penting yang perlu diingat saat memadamkan kebakaran.
Beri peringatan kepada orang di sekitar. Di Jepang, ini dilakukan dengan berteriak Kaji da!, yang berarti Ada kebakaran! Pastikan Anda mengetahui rute pelarian sebelum mulai memadamkan api. Dengan begitu, meski gagal memadamkan api, Anda tahu jalan keluar aman. Arahkan alat pemadam ke dasar kobaran api, bukan ke bagian atas.
- Beri peringatan kepada orang di sekitar. Di Jepang, ini dilakukan dengan berteriak Kaji da!, yang berarti Ada kebakaran!
- Pastikan Anda mengetahui rute pelarian sebelum mulai memadamkan api. Dengan begitu, meski gagal memadamkan api, Anda tahu jalan keluar aman.
- Arahkan alat pemadam ke dasar kobaran api, bukan ke bagian atas.

Namun Utashiro menekankan, jika kebakaran tidak terkendali, evakuasi menjadi prioritas utama. Ia menegaskan, jika lidah api sudah menyentuh langit-langit, segera tinggalkan lokasi.
Setiap bulan, fasilitas ini mengadakan hari Bahasa Jepang sederhana. Penduduk asing dapat berlatih menggunakan alat pemadam api dan mencoba simulasi gempa bumi.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.

