Inovasi SUSHI-tainable: Menjaga Keberlanjutan Kuliner Khas Jepang di Expo 2025
Kura Sushi memperkenalkan inisiatif SUSHI-tainable untuk melestarikan sumber daya laut, termasuk mengolah ikan nizadai yang biasanya dibuang menjadi hidangan layak konsumsi. Langkah ini menjadi sorotan menjelang Expo 2025 di Osaka sebagai solusi atas kekhawatiran kelangkaan bahan sushi di masa depan.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Inovasi SUSHI-tainable: Menjaga Keberlanjutan Kuliner Khas Jepang di Expo 2025

Inisiatif 'SUSHI-tainable'
'SUSHI-tainable' merupakan slogan dari Kura Sushi, jaringan restoran sushi ban berjalan terkemuka di Jepang.
Perusahaan ini menjalankan berbagai inisiatif untuk menjaga kelestarian laut. Salah satu idenya adalah pemanfaatan nizadai atau ikan sawtail. Ikan ini kurang populer karena aromanya yang menyengat, sehingga sering kali dibuang begitu saja oleh nelayan saat tertangkap.

Kura Sushi berhasil mengurangi aroma tak sedap tersebut dengan memberikan pakan kubis pada nizadai budidaya. Ikan tersebut biasanya mengonsumsi rumput laut di alam liar.
Bahkan spesies yang kurang dimanfaatkan pun sebenarnya adalah sumber daya laut yang berharga. Kami terus mencari cara terbaik untuk mengolahnya, ujar Koyama Yuichiro dari Kura Sushi.

Seorang pelanggan mengaku terkesan dengan hasilnya dan menyebut cita rasanya tidak amis serta mirip dengan ikan yellowtail.
Pelanggan lain berharap lebih banyak varietas ikan yang sebelumnya tidak layak konsumsi kini dapat dinikmati.
AI Tingkatkan Efisiensi Budi Daya
Pendekatan lain memanfaatkan kecerdasan buatan guna mendongkrak efisiensi dan keberlanjutan budi daya ikan.

Di sebuah fasilitas di Kota Uwajima, Prefektur Ehime, alat pemberi pakan berbasis AI menganalisis nafsu makan ikan guna menentukan waktu dan volume pakan yang paling tepat.
Nakata Rikio, Presiden Nakata Suisan, menyebut biaya pakan melonjak hampir dua kali lipat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, ia mencatat bahwa teknologi ini mampu memangkas pemborosan pakan sebesar 5 persen.
Staf dapat memantau pemberian pakan secara jarak jauh melalui ponsel pintar, sehingga mengurangi kebutuhan tenaga kerja dalam pengelolaan fasilitas budi daya.
Jika sistem ini diterapkan di seluruh fasilitas saya, kami bisa memelihara ikan tiga kali lebih banyak dengan jumlah staf yang sama, ujar Nakata.

Sistem ini juga memberikan waktu libur lebih banyak bagi karyawan. Nakata menjelaskan bahwa saat alat pemberi pakan terisi penuh, stok pakan tersedia hingga tiga hari sehingga pekerja tidak perlu datang ke lokasi setiap hari.
Siklus Berkelanjutan melalui Akuaponik

Osaka Expo menghadirkan pameran akuaponik, sebuah sistem yang memadukan akuakultur dengan hidroponik.
Sistem berbasis darat ini memanfaatkan tanaman untuk mendukung proses budi daya ikan.

Eksibisi ini memperlihatkan cara bakteri di dalam tangki mengubah limbah ikan menjadi nutrisi. Nutrisi tersebut kemudian dipompa dan diserap oleh tanaman, sehingga air kembali murni sebelum dialirkan kembali ke tangki.
Namun, tantangan teknis tetap membayangi karena mayoritas tanaman tidak dapat tumbuh di air asin. Dalam pameran ini, kadar garam air dikurangi dari 3 persen menjadi 1 persen agar ikan laut dan sayuran dapat tumbuh bersama dengan subur.

Proyek ini dipimpin oleh Kitaya Yoshiaki, profesor di Osaka Metropolitan University. Ia menjelaskan bahwa budidaya perikanan darat dapat berperan penting dalam mengurangi tekanan terhadap ekosistem laut.
Seiring pertumbuhan pesat populasi dunia, kita harus menemukan cara produksi pangan yang efisien dan minim dampak lingkungan, tuturnya. Akuaponik ikan laut bisa menjadi teknologi kunci bagi masa depan.

Penipisan Sumber Daya Laut Dunia
Organisasi Pangan dan Pertanian PBB menyatakan bahwa lebih dari sepertiga dari 2.570 stok pangan laut dunia yang mereka pantau telah ditangkap pada tingkat yang melampaui batas pemulihan alaminya.

Penangkapan ikan berlebih adalah masalah serius yang tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja, ujar Suzuki Makoto, direktur perwakilan Japan Sustainable Seafood Society, dalam forum Expo tentang keberlanjutan laut pada 29 September.
Hanaoka Wakao, CEO konsultan keberlanjutan Seafood Legacy, memperingatkan bahwa dampak penangkapan ikan berlebih bisa jauh lebih besar daripada sekadar gangguan pada rantai pasokan pangan.
Jika hal ini terus berlanjut, masa depan berisiko diwarnai konflik perebutan sumber daya hingga kelaparan, dan kita tidak boleh membiarkan hal itu terjadi.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.



