AI Percakapan: Teman Curhat Baru yang Melampaui Sahabat dan Ibu di Jepang
Survei di Jepang mengungkap 65 persen pengguna AI percakapan kini lebih memilih mencurahkan isi hati kepada teknologi tersebut dibandingkan kepada sahabat atau ibu. Tren ini menunjukkan pergeseran peran AI dari sekadar alat pencari informasi menjadi sandaran emosional harian bagi penggunanya.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
AI Percakapan: Teman Curhat Baru yang Melampaui Sahabat dan Ibu di Jepang

Mencari Dukungan dari AI

Morii Miyuki mulai menggunakan kecerdasan buatan sejak Maret lalu. Kini, ia menghabiskan waktu sekitar tiga jam setiap hari untuk berinteraksi dengan AI. Awalnya, ia hanya memanfaatkannya untuk mencari informasi praktis, seperti tips merapikan barang di rumah.
Belakangan ini, ia mulai berkonsultasi dengan layanan AI mengenai masalah pribadinya, termasuk saat ia merasa tersinggung oleh ucapan seorang teman. 'Saya merasa dikritik karena menghabiskan seluruh waktu saya untuk belajar,' tulisnya kepada AI tersebut.

AI merespons, 'Tampaknya Anda merasa seolah-olah sedang dikritik oleh teman Anda.' Kecerdasan buatan itu menyatakan memahami perasaan Morii, namun menyarankannya untuk mempertimbangkan kembali niat sebenarnya dari sang teman.
Morii mengaku akhirnya menyadari bahwa ia tidak perlu cemas berlebihan. 'Jika hanya dipikirkan sendiri, saya tidak akan pernah sampai pada kesimpulan itu,' tambahnya. 'Kini saya sulit lepas dari AI.'
Versi Terbaru AI Kurang Ramah?

Perusahaan teknologi asal AS, OpenAI, meluncurkan GPT-5, versi ChatGPT yang lebih mutakhir, pada bulan Agustus. CEO Sam Altman menyatakan bahwa pengguna kini seolah memiliki akses ke tim ahli setingkat PhD di dalam saku yang siap membantu apa pun kebutuhan mereka.
Salah satu perbedaan mencolok dari versi GPT-4o adalah sifat AI yang kini terasa kurang simpatik. Tak lama setelah pengumuman tersebut, tagar #keep4o viral di media sosial, mendesak perusahaan agar tetap mempertahankan model lama. Banyak pengguna merasa model sebelumnya jauh lebih akrab dan mampu memberikan dukungan emosional yang nyata.

Imai Shota dari Japan Advanced Institute of Science and Technology berpendapat wajar jika pengguna mulai menaruh simpati pada AI, meski ia tidak menyangka fenomena ini terjadi begitu cepat.
Ia menambahkan bahwa pengguna AI sering kali ingin mencari ketenangan, bukan sekadar solusi atas masalah mereka. Hal inilah yang menurutnya benar-benar memikat hati para pengguna.
Hubungan yang Terlalu Akrab
Namun, seiring berjalannya waktu, berbagai masalah pun mulai bermunculan.

Kayla Wanbui Chege, 15 tahun, tinggal di Kansas, Midwest AS. Ia hampir setiap hari menggunakan AI untuk urusan tata rias dan mode.

Layanan ini selalu siaga 24/7, katanya. Teman dan keluarga memang bisa dihubungi, tetapi mereka tidak selalu tersedia setiap saat.
Ibunya, Mina Njau Tubei, khawatir putrinya terlalu terobsesi dengan AI. Pihak keluarga pun menetapkan aturan, seperti memantau alasan dan frekuensi Kayla mengajukan pertanyaan.

Sangat mudah untuk menjadi kecanduan. Anak-anak atau siapa pun bisa dengan mudah menjadi bergantung, kata Mina. Kayla dan saya selalu membicarakannya. Saya mengizinkannya memakai AI, tetapi tetap menyimpan keraguan.
Orang Tua Sebut Ketergantungan AI Berlebih Sebabkan Kasus Bunuh Diri pada Remaja
Di Amerika Serikat, muncul berbagai insiden saat kaum muda menjadi bergantung secara mental pada AI akibat interaksi terus-menerus dengan chatbot.
Pada 2024, seorang ibu menggugat perusahaan pengembang aplikasi AI. Ia menyatakan aplikasi tersebut membiarkan putranya yang berusia 14 tahun berkomunikasi dengan AI berwujud karakter kartun, yang akhirnya berujung pada tindakan bunuh diri.

Pengacara Matthew Bergman menyatakan bahwa chatbot memberikan kesan palsu kepada anak-anak seolah mereka berinteraksi dengan manusia, padahal sebenarnya itu adalah AI. 'Kami yakin platform ini sangat berbahaya,' ungkapnya.
Pada Agustus, orang tua seorang siswa SMA berusia 16 tahun yang mengakhiri hidupnya menggugat OpenAI. Mereka mengeklaim bahwa penggunaan ChatGPT memengaruhi sang anak untuk mengambil keputusan fatal tersebut.
Gugatan tersebut menyebutkan bahwa sang anak mulai menggunakan ChatGPT pada September 2024, terutama untuk membantu mengerjakan tugas-tugas sekolah yang sulit.
Namun hanya dalam hitungan bulan, laporan itu menambahkan bahwa ia mulai mencurahkan kecemasan dan tekanan mentalnya kepada AI generatif tersebut.
Disebutkan bahwa ChatGPT kemudian mulai membahas metode bunuh diri dan menawarkan diri untuk menyusun draf surat bunuh dirinya.
Orang tuanya menuduh bahwa percakapan tersebutlah yang menyebabkannya meninggal dunia akibat bunuh diri.
Menanggapi hal tersebut, pihak perusahaan menyampaikan duka cita mendalam atas kematian remaja tersebut. Perusahaan menambahkan bahwa mereka akan terus melakukan perbaikan di bawah bimbingan para ahli.
Peningkatan Perlindungan
OpenAI menyatakan tengah memperkuat perlindungan bagi pengguna remaja ChatGPT lewat pengenalan fitur kontrol orang tua.

Perusahaan tersebut menyatakan bahwa mulai bulan depan, orang tua akan dapat mengelola penggunaan chatbot oleh anak remaja mereka.
Mereka akan dapat mengatur cara ChatGPT merespons anak-anak mereka. Orang tua juga akan menerima notifikasi jika sistem mendeteksi sang remaja tengah mengalami tekanan batin yang berat.
OpenAI menyatakan bahwa saat ini banyak anak muda tumbuh besar dengan AI sebagai bagian dari keseharian mereka.
Ditambahkan pula bahwa meski teknologi ini membuka peluang belajar dan kreativitas, keluarga serta remaja mungkin membutuhkan dukungan dalam menetapkan batasan sehat yang sesuai dengan tahap perkembangan unik seorang remaja.
Mencegah Ketergantungan Berlebihan
Awarefy, sebuah perusahaan Jepang yang berfokus pada dukungan mental, tengah mengembangkan layanan mandiri kesehatan mental berbasis AI generatif. Saat pengguna menceritakan keluh kesah mereka, AI akan memberikan saran.

Perusahaan ini melibatkan staf yang memiliki kualifikasi sebagai psikolog bersertifikat.
Mereka mendiskusikan berbagai isu, termasuk cara menjaga batasan yang tepat antara AI dan manusia.
Selain itu, layanan ini dirancang untuk memberikan respons yang mengarahkan pengguna agar berkonsultasi dengan ahli dalam situasi serius.

Kami melakukan penyesuaian agar AI tidak menjadi satu-satunya sandaran bagi masyarakat, tutur Oda Airi, perwakilan perusahaan tersebut.
AI Hanyalah Pelengkap
Imai Shota sependapat bahwa masyarakat sebaiknya tidak menaruh kepercayaan sepenuhnya pada AI saja.
Ia menambahkan bahwa ia ingin masyarakat memperjelas apa yang mereka tanyakan dan menyadari sepenuhnya bahwa AI hanyalah sebuah pelengkap.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.
