Lewati ke konten utama
Berita.Jepang.org

Iklan Web Palsu Incar Konsumen Jepang dengan Janji Barang Mewah

Pusat Urusan Konsumen Nasional Jepang memperingatkan lonjakan penipuan iklan daring yang menjual produk berkualitas rendah. Salah satu korban tertipu iklan pembersih futon seharga 7.000 yen yang diklaim sebagai hasil riset lembaga ternama Tokyo.

NHK WORLD4 mnt

Bagikan Artikel

Ilustrasi iklan daring palsu di layar ponsel yang menawarkan produk peralatan rumah tangga dengan harga miring.

Visual Utama

Iklan Web Palsu Incar Konsumen Jepang dengan Janji Barang Mewah

Tutup
Ilustrasi iklan daring palsu di layar ponsel yang menawarkan produk peralatan rumah tangga dengan harga miring.

'Daya isapnya Hampir tidak ada,' keluh seorang wanita Jepang berusia 40-an yang membeli alat pembersih futon pada Juni lalu setelah melihat iklannya di YouTube. 'Ini keterlaluan. Saya merasa benar-benar tertipu.'

Seorang wanita mengadu kepada NHK bahwa pembersih futon ini tidak bisa digunakan.
Seorang wanita mengadu kepada NHK bahwa pembersih futon ini tidak bisa digunakan.

Wanita itu sempat percaya bahwa produk tersebut dikembangkan bersama lembaga ilmiah terkemuka di Tokyo. Belakangan ia baru mengetahui bahwa situs web penjualnya dikelola oleh perusahaan asal Tiongkok.

Harganya dibanderol sedikit di bawah 7.000 yen, atau sekitar 47 dolar. Ia pun mengambil tawaran khusus yang memungkinkannya membeli unit kedua seharga 3.000 yen.

Pembersih futon tersebut tiba sekitar dua minggu kemudian, namun ada yang terasa janggal. Sang wanita terkejut mendapati bahwa perangkat tersebut diproduksi oleh produsen non-Jepang.

Parahnya lagi, tombol dayanya tidak berfungsi seperti yang terlihat di iklan. Alat itu bahkan kesulitan menyedot tisu, apalagi tungau debu yang bersarang jauh di dalam futon.

Wanita tersebut mengaku tertipu dan telah kehilangan uangnya.
Wanita tersebut mengaku tertipu dan telah kehilangan uangnya.

Ia sudah mencoba menghubungi pihak situs web, tetapi tidak mendapat jawaban. Ia juga tidak bisa mengirimkan kembali barangnya ke alamat yang tertera.

NHK telah berupaya menghubungi perusahaan tersebut melalui telepon maupun surel, namun hingga kini belum mendapatkan tanggapan.

Belanja Daring Vs. Realita

Ia tidak sendirian. Pihak Pusat Urusan Konsumen Nasional melaporkan adanya tren pengaduan dari warga yang terjebak iklan daring; mereka menerima barang dengan kualitas yang jauh lebih rendah daripada yang dijanjikan dalam iklan.

Banyak iklan palsu mengeklaim menjual produk hasil kolaborasi ternama. Merek-merek besar seperti Iris Ohyama dan Panasonic sering kali disandingkan dengan institusi bergengsi, layaknya Universitas Osaka dan Rumah Sakit Universitas Tokyo, demi meyakinkan calon pembeli.

Associate Professor Yamaguchi Shinichi dari International University of Japan menjelaskan bahwa mencatut nama merek besar dan universitas adalah salah satu trik untuk menciptakan kesan tepercaya secara instan.

Iklan video bisa tampil sangat memikat, tambahnya, seraya memperingatkan bahwa teknologi AI saat ini sudah mampu menghasilkan narasi dalam Bahasa Indonesia yang terdengar cukup alami.

Produsen Rilis Peringatan Keras

Sejumlah perusahaan terpaksa mengeluarkan pernyataan resmi untuk menegaskan bahwa mereka sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan produk-produk yang ditawarkan tersebut.

Toshiba Lifestyle Products & Services Corporation merilis pernyataan resmi setelah namanya dicatut dalam iklan palsu.
Toshiba Lifestyle Products & Services Corporation merilis pernyataan resmi setelah namanya dicatut dalam iklan palsu.

Baru-baru ini, Toshiba Lifestyle mendapati namanya kembali dicatut dalam iklan online palsu untuk produk pembersih futon. Produk tersebut diklaim telah dikembangkan bersama sang raksasa elektronik selama lebih dari 20 tahun.

Pihak perusahaan menyatakan bahwa maraknya iklan palsu sangat disayangkan dan menjadi masalah serius yang memicu kebingungan di kalangan konsumen.

Kualitas Produk yang Mengecewakan

Seorang wanita berusia 50-an menuturkan kepada NHK bahwa ia membeli sebuah alat sirkulasi udara seharga 9.000 yen (sekitar 60 dolar AS) pada Juli lalu setelah tergiur iklan di media sosial. Ia sempat percaya bahwa barang tersebut merupakan hasil pengembangan bersama antara merek ternama dan sebuah universitas.

Namun, ia menyebut produk yang diterimanya justru tampak seperti mainan. Sensor AI dan fitur otomatis yang dibayarnya mahal ternyata sama sekali tidak ada.

Waspadai Klaim Berlebihan

Penelusuran cepat oleh NHK menunjukkan bahwa iklan palsu kini merajalela. Kami menemukan sebuah iklan di TikTok untuk alat sirkulasi udara lain yang mengeklaim produk tersebut mampu menurunkan suhu ruangan hingga 20 derajat Celsius hanya dalam waktu satu menit.

Selain itu, ditemukan pula video YouTube palsu untuk produk sandal yang mengeklaimnya sebagai solusi kaki datar rekomendasi Departemen Bedah Ortopedi Fakultas Kedokteran, Universitas Tokyo.

NHK juga menemukan sejumlah iklan palsu di YouTube.
NHK juga menemukan sejumlah iklan palsu di YouTube.

Upaya Platform Mengatasi Masalah

Pengelola kedua platform tersebut mengakui perlunya perlindungan yang lebih kuat bagi publik.

Iklan yang bertujuan menyesatkan atau menipu pengguna melanggar kebijakan kami, ujar seorang pejabat Google, pengelola YouTube. Kami segera mengambil tindakan untuk menghapus setiap iklan yang terdeteksi bermasalah.

Afiliasi Jepang dari operator TikTok menyatakan: Kami meninjau dan menanggapi semua laporan iklan palsu secara tepat. Kami akan terus menginvestasikan lebih banyak sumber daya dan teknologi demi memastikan iklan di platform tersebut memenuhi standar kami.

Associate Professor Yamaguchi Shinichi dari International University of Japan saat memberikan penjelasan kepada NHK.
Associate Professor Yamaguchi Shinichi dari International University of Japan saat memberikan penjelasan kepada NHK.

Profesor Yamaguchi menilai bahwa langkah-langkah tersebut saja belum cukup.

Iklan merupakan sumber pendapatan utama mereka, sehingga tanggung jawab yang mereka pikul sangat besar, ujarnya. Di era AI, dampaknya bisa jauh lebih parah. Karena itu, mereka harus memperkuat sistem peninjauan dengan memadukan teknologi dan tenaga manusia.

Belanja dengan Sikap Waspada

Pejabat Pusat Urusan Konsumen Nasional Jepang mengimbau masyarakat untuk selalu waspada. Jika suatu penawaran atau diskon tampak terlalu muluk, kemungkinan besar penawaran itu memang bermasalah.

Mereka juga meminta publik untuk meneliti situs e-commerce dengan saksama: mulai dari alamat, informasi kontak, hingga penggunaan bahasa Jepang yang terasa janggal.

Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB

Sumber Berita

Penerbit
NHK WORLD
Tanggal Sumber
Pranala Sumber

Dengarkan Artikel

Putar versi audio langsung dari browser Anda.

Menyiapkan audio browser...

Kata Kunci

Jejak Topik

Komentar Pembaca

Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.