Titik Balik Warga Suriah di Jepang Usai Runtuhnya Rezim Assad
Kejatuhan rezim Assad memicu dilema bagi sekitar 1.500 warga Suriah di Jepang untuk memilih antara tetap tinggal atau pulang membangun kembali tanah air mereka. Lebih dari 500.000 pengungsi tercatat telah kembali ke Suriah sejak Desember lalu menyusul berakhirnya konflik yang telah berlangsung sejak 2011.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Visual Utama
Titik Balik Warga Suriah di Jepang Usai Runtuhnya Rezim Assad

Bukan Sekadar Mimpi
Menurut Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, lebih dari 500.000 dari total lima juta lebih warga Suriah yang mengungsi selama konflik telah kembali ke tanah air mereka sejak Desember lalu.
Mohammed Al-Masri kini harus memutuskan apakah ia akan ikut kembali. Berasal dari Homs, kota di Suriah yang luluh lantak akibat konflik, ia pindah ke Jepang bersama istri dan anak-anaknya pada 2018.

NHK World berbincang dengan Al-Masri di kediaman temannya di dekat Tokyo pada Maret lalu — di ruangan yang sama saat ia dan rekan-rekannya menyaksikan berita runtuhnya rezim Assad. Ia mengungkapkan luapan emosi yang dirasakannya dan mengakui bahwa situasi ini terkadang masih terasa tidak nyata baginya.
Meski sudah berbulan-bulan berlalu, setiap hari saya masih bertanya pada diri sendiri: Apakah ini benar-benar terjadi? Apakah dia sudah pergi? Apakah Assad benar-benar telah digulingkan? Lalu saya tersadar bahwa ini bukanlah mimpi, tuturnya.
Al-Masri baru belakangan ini berhenti bermimpi buruk ditangkap di pos penjagaan, atau menatap langit dengan penuh ketakutan setiap kali mendengar suara helikopter atau jet melintas. Ia menyebut jutaan warga Suriah lainnya pun hidup dalam kecemasan serupa.
Ini adalah sesuatu yang harus kita hadapi dan pulihkan. Langkah pertama menuju pemulihan adalah mengakui bahwa kita semua memiliki trauma masing-masing, katanya.
Beban Mental Sang Penyintas
Al-Masri mengaku kerap dihantui rasa bersalah sebagai penyintas, menyadari bahwa banyak rekannya yang bertahan di Suriah harus menghadapi nasib yang jauh lebih tragis.
Saat gelombang unjuk rasa menentang kekuasaan rezim Assad pecah pada 2011, Al-Masri turut turun ke jalan dalam gerakan pro-demokrasi tersebut.
Kala itu, ia tengah menempuh studi pascasarjana di Universitas Homs sembari mengajar bahasa Inggris di sebuah sekolah dasar. Namun, keterlibatannya dalam aksi protes membuatnya menjadi sasaran ancaman pemerintah. Ia terpaksa meninggalkan studinya ketika situasi negara kian memburuk dan terjerumus ke dalam perang saudara yang berkepanjangan.
Hingga suatu malam di bulan November 2013, sebuah serangan menghantam apartemennya saat ia dan sang istri tengah terlelap.
Kami nyaris kehilangan nyawa. Sungguh sebuah keajaiban kami bisa selamat dari hantaman roket itu, tuturnya. Di titik itulah, saya dan istri memutuskan untuk meninggalkan Suriah.

Memetik Pelajaran dari Jepang
Pasangan ini mengungsi ke negara tetangga, Lebanon, pada 2014, tempat kedua anak mereka lahir. Di sana, Al-Masri mulai aktif mengajar kaum muda di kamp pengungsian Suriah.
Empat tahun berselang, ia memboyong keluarganya ke Jepang berkat beasiswa pemerintah Jepang. Ia meraih gelar magister di bidang pembangunan perdamaian dari Tokyo University of Foreign Studies, sebelum melanjutkan penelitian doktoral di Universitas Waseda.

Pada 2022, Al-Masri memproduksi sebuah dokumenter bersama rekannya sesama warga Suriah. Ia melakukan syuting di Hiroshima dan Rikuzentakata, Prefektur Iwate, untuk merekam pelajaran berharga yang dipetik masyarakat Jepang dari sejarah mereka.
Ia berkunjung ke Hiroshima pada 2022 untuk menemui para hibakusha—penyintas bom atom—yang gigih mengampanyekan penghapusan senjata nuklir. Ia ingin mempelajari bagaimana mereka bangkit dari keputusasaan dan terus menyuarakan dunia yang damai tanpa perang.
Bagi saya, tantangan terberat selama di Jepang adalah melihat situasi di Suriah yang kian memburuk, sementara harapan untuk menggulingkan rezim Assad seolah sirna saat itu, tuturnya.
Setelah bertemu para hibakusha, saya bisa melihat betapa penting dan inspiratifnya perjuangan yang mereka lakukan.

Al-Masri juga mengunjungi Rikuzentakata di Prefektur Iwate, wilayah yang terdampak parah oleh Gempa Besar Jepang Timur 2011. Kota itu dahulu tersohor karena hutan pinus luas berisikan 70.000 pohon, yang seluruhnya—kecuali satu batang—tersapu tsunami pascagempa.
Ia mengaku terinspirasi oleh para penyintas berusia 80-an yang menanam bibit pohon sebagai bagian dari upaya pemulihan, meski mereka sadar tidak akan sempat melihat pohon-pohon itu tumbuh besar.

Kita tidak bisa menjamin perubahan akan terjadi semasa kita hidup. Kita harus terus mencoba dan mencoba, serta melakukan apa yang benar, tuturnya.
Al-Masri termotivasi untuk pulang ke tanah airnya guna membantu pembangunan kembali demi anak-anak, yang nantinya akan mewariskan makna perdamaian kepada generasi mendatang.
Hal terpenting adalah benar-benar fokus pada masa depan, mengedepankan rekonsiliasi, serta merencanakan hari esok ketimbang memikirkan balas dendam, ujarnya.
Membangun Kembali Sekolah
Pada Januari 2025, Al-Masri pulang ke Suriah seorang diri dan bertemu kembali dengan orang tuanya untuk pertama kali dalam lebih dari satu dekade. Sang ayah menemaninya melihat puing-puing kehancuran yang tersisa setelah runtuhnya rezim tersebut.
Pemandangan gedung sekolah yang hancur total akibat serangan udara memicu tekadnya untuk memulihkan sistem pendidikan di sana. Ia bercita-cita mendirikan sebuah sekolah dasar baru di wilayah tersebut.
Sudah menjadi tanggung jawab kami untuk berbuat semaksimal mungkin, agar anak-anak kami tidak perlu menghadapi tantangan dan situasi serupa di masa depan, tuturnya.

Istrinya, Aya Idrees, yang memiliki visi serupa, mengatakan kepada NHK World bahwa ia sama sekali tidak ragu untuk mendukung keputusan tersebut.
Anak-anak mereka sangat antusias mengunjungi tanah air yang belum pernah mereka injak sebelumnya. Namun, sang putri merasa bimbang karena kendala bahasa; ia belum banyak menguasai bahasa Arab.

Mencari Makna Rumah
Warga Suriah yang menetap di Jepang kini tengah bergulat dengan pertanyaan tentang bagaimana cara terbaik membantu tanah air mereka.
Anas Hijazi adalah salah satu sahabat Al-Masri. Berasal dari kota Homs, ia tiba di Jepang pada 2019 melalui program studi yang sama setelah sempat menetap di Lebanon selama tujuh tahun. Hijazi menuturkan bahwa ia terpaksa melarikan diri untuk menghindari wajib militer rezim Assad tepat setelah lulus dari jurusan teknik Universitas Homs. Namun, adik laki-lakinya sempat ditahan dan disiksa selama setahun tak lama setelah ia meninggalkan negara tersebut.

'Saya selalu merasa sangat takut selama tinggal di Suriah. Bahkan untuk ke kampus saja, ada tiga pos pemeriksaan militer yang harus dilewati. Jadi setiap hari saya merasa nyawa saya terancam,' kata Hijazi. 'Namun, saya sadar jika meninggalkan Suriah tanpa gelar, saya akan sangat menderita. Maka saya memilih mempertaruhkan nyawa selama dua tahun berikutnya hingga lulus.'
Ia mengaku sangat merindukan ayah dan kakak perempuannya yang masih tinggal di kampung halaman. Di tengah masa perantauannya, ibunda Hijazi meninggal dunia akibat terinfeksi COVID-19.
Setelah meraih gelar magister teknik dari Universitas Soka, Hijazi kini bekerja di sebuah perusahaan sebagai konsultan IT.

'Saya bisa katakan dengan mantap bahwa setelah beberapa tahun tinggal di Jepang, inilah pertama kalinya saya merasa benar-benar betah. Saya menetap di Lebanon selama tujuh tahun, tetapi tidak pernah merasa senyaman di rumah sendiri seperti di sini,' ujarnya.
Hijazi mengatakan bahwa tinggal di negara yang aman memungkinkannya berbagi cerita kepada mahasiswa Jepang mengenai penderitaan rakyat Suriah. Pasca-gempa bumi dahsyat yang melanda wilayah utara Suriah pada 2023, ia bersama Al-Masri aktif menggalang dana untuk membantu para korban bencana.

Meski jatuhnya rezim Assad membawa sedikit rasa lega, ia belum yakin untuk kembali menetap di sana. Untuk saat ini, ia terus memantau apakah perdamaian di negaranya benar-benar bisa terjaga.
Pada Mei lalu, pemerintah sementara Suriah membentuk dua lembaga independen: Komisi Nasional untuk Keadilan Transisional dan Komisi Nasional untuk Orang Hilang. Keduanya bertugas menyelidiki kejahatan di masa rezim Assad, memberikan kompensasi bagi korban, serta melacak keberadaan ribuan orang yang masih hilang.
'Menurut saya, tanpa keadilan transisional, perdamaian tidak akan pernah terwujud. Mencari titik temu yang sulit untuk menyatukan negara adalah hal yang sampai sekarang masih membuat saya bimbang,' tutur Hijazi.
Ia menambahkan bahwa pengalaman traumatis di tanah air serta bertahun-tahun menjadi pengungsi di Lebanon membuatnya ragu untuk pindah ke tempat yang keamanan dan stabilitasnya belum terjamin.
'Semua itu meninggalkan luka batin dan ingatan buruk yang seolah tak berakhir, dan mengatasinya tidaklah mudah,' ujarnya. 'Kami perlu membangun kembali rasa percaya antara diri saya dan tempat yang dulu saya sebut rumah, dan itu adalah proses yang benar-benar baru bagi saya.'
Tak Ada Jawaban Benar Atau Salah
NHK World menyimak percakapan di Tokyo pada Maret lalu saat Hijazi mengutarakan kekhawatirannya kepada Al-Masri, sembari menanyakan keputusan Al-Masri untuk tetap tinggal di Jepang saat ini.

Hijazi mengungkapkan bahwa ia telah memiliki pekerjaan tetap di Jepang dan khawatir kehilangan segalanya jika pergi. Al-Masri memahami kecemasan tersebut dan berujar bahwa kembali ke Suriah membutuhkan rencana hidup yang sangat matang. Menurutnya, pemikiran dan pilihan yang diambil Hijazi saat ini sudah tepat.
Hijazi sempat bertanya apakah temannya itu tidak mengkhawatirkan pendidikan anak-anak atau sulitnya beradaptasi saat memutuskan kembali. Al-Masri menjawab bahwa ia menyadari adanya tantangan besar, namun ia bertekad untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi di sana.
Bagi Al-Masri, Hal terpenting adalah memiliki rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap negara. Ia meyakini bahwa sekembalinya ke tanah air, ia pasti bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat, sekecil apa pun kontribusi tersebut.
Hijazi dan Al-Masri saling memahami dan menghormati keputusan masing-masing. Mereka sepakat untuk memanfaatkan jaringan serta pengalaman mereka sebagai jembatan antara Suriah dan Jepang, sekaligus berupaya semaksimal mungkin membantu pembangunan kembali negara mereka.
Lembaran Baru

Sebulan setelah kepulangannya ke Suriah, Al-Masri mengirimkan video ke NHK World yang memperlihatkan kondisi negaranya yang perlahan mulai pulih. Karena kota kelahirannya rusak parah, ia memilih menetap di wilayah lain agar anak-anaknya bisa mulai terbiasa dengan kehidupan baru mereka.

Pada Mei lalu, pemerintah Jepang mencabut sebagian sanksi terhadap Suriah, mengikuti langkah Uni Eropa dan Amerika Serikat. Sebagaimana Hijazi, dunia internasional kini mengamati apakah perdamaian dapat dipertahankan seiring transisi ke era baru.
Kami sedang membuka lembaran baru yang perlahan jadi kenyataan. Kini kami bisa mewujudkan kembali apa yang kami impikan, ujar Al-Masri dalam wawancara daring dari Suriah.

Al-Masri menuturkan bahwa siapa pun yang pernah tinggal di Jepang atau negara maju pasti membandingkan kualitas layanannya dengan Suriah yang sedang berbenah. Meski demikian, ia mengaku tetap bahagia berada di sana sekarang.
Ini adalah rumah kami. Kami harus melakukan yang terbaik untuk membantu pemulihan serta berkontribusi dalam membangun kembali negara ini.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
Video Sumber
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.
