Lewati ke konten utama
Berita.Jepang.org

Legenda Bisbol Jepang Shigeo Nagashima Meninggal Dunia di Usia 89 Tahun

Shigeo Nagashima, ikon bisbol yang dijuluki Mr. Giants, meninggal dunia akibat pneumonia setelah berkarier gemilang sebagai pemain dan manajer Yomiuri Giants. Sosok yang sangat dicintai masyarakat Jepang ini wafat pada usia 89 tahun setelah sempat menjalani rehabilitasi pendarahan otak sejak 2022.

NHK WORLD9 mnt

Bagikan Artikel

Shigeo Nagashima, sosok legendaris bisbol Jepang yang dikenal sebagai Mr. Giants.

Visual Utama

Legenda Bisbol Jepang Shigeo Nagashima Meninggal Dunia di Usia 89 Tahun

Tutup
Shigeo Nagashima, sosok legendaris bisbol Jepang yang dikenal sebagai Mr. Giants.

Mantan timnya, Yomiuri Giants, mengumumkan pada Selasa pagi bahwa Nagashima Shigeo wafat akibat pneumonia. Ia sebelumnya didiagnosis menderita perdarahan otak pada 2022, serta sempat menjalani perawatan di rumah sakit dan rehabilitasi.

Nagashima, putra daerah Prefektur Chiba, mulai bersinar sebagai pemain bintang saat membela Universitas Rikkyo. Ia kemudian bergabung dengan klub bisbol profesional Jepang, Giants, pada 1958.

Sebagai batter andalan sekaligus infielder gemilang, ia memukau para penggemar dengan teknik permainannya yang piawai. Ia menyabet berbagai penghargaan batting, termasuk dua gelar home run, hingga dijuluki Mister Pro Baseball.

Nagashima pensiun sebagai pemain pada 1974, lalu dua kali dipercaya menjabat sebagai manajer Giants.

Ia menerima People's Honor Award pada 2013. Nagashima juga dianugerahi Order of Culture, menjadikannya pemain bisbol pertama dalam sejarah yang meraih penghargaan prestisius tersebut.

Bintang Major League asal Jepang, Shohei Ohtani dari Los Angeles Dodgers, turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Nagashima. Melalui media sosial, Ohtani mengunggah fotonya bersama sang legenda bisbol yang diambil di Tokyo Dome pada Maret lalu, sembari memanjatkan doa tulus.

Legenda Bisbol Jepang Shigeo Nagashima Meninggal Dunia di Usia 89 Tahun - visual artikel

Sang Ikon di Era Kebangkitan Jepang

Nagashima bergabung dengan Giants pada 1958, saat ekonomi Jepang mulai menggeliat setelah pulih dari Perang Dunia Kedua. Tahun tersebut juga bertepatan dengan rampungnya pembangunan Tokyo Tower, simbol kebangkitan Jepang.

Tokyo Tower sesaat setelah pembangunannya rampung pada 1958
Tokyo Tower sesaat setelah pembangunannya rampung pada 1958

Di Jepang, bisbol tingkat universitas sedang naik daun, dan Nagashima sudah menjadi bintang di kancah tersebut. Begitu ia bergabung dengan Giants, popularitas bisbol profesional pun melonjak tajam.

Tahun berikutnya, digelar pertandingan bisbol profesional pertama yang disaksikan langsung oleh Kaisar. Nagashima mencetak home run penentu kemenangan. Mengenang momen itu, ia bercerita bahwa Berkat pertandingan tersebut, ia mulai dipandang positif sebagai pemain bisbol. Ia juga merasa bahwa bisbol di Jepang, yang dulunya merupakan olahraga minor bagi masyarakat, mulai diakui luas sejak saat itu.

Seiring meluasnya jangkauan televisi, ia bertanding dengan kesadaran penuh bahwa setiap gerakannya tertangkap kamera. Ia sangat mementingkan ekspresi seluruh tubuh untuk menyampaikan perasaannya dalam permainan. Gaya mainnya pun dikenal luwes dan dinamis.

Antara tahun 1965 hingga 1974, populasi Jepang melampaui 100 juta jiwa di tengah era yang penuh gelora. Nagashima bersama rekan setimnya, Oh Sadaharu, menciptakan masa kejayaan bagi Giants.

Masyarakat Jepang bekerja keras dan bergegas pulang demi menonton pertandingan tersebut. Bisbol menjadi suntikan energi yang membuat semangat mereka terus membara.

Nagashima (kanan) dan Oh bahu-membahu membangun era keemasan bagi Giants.
Nagashima (kanan) dan Oh bahu-membahu membangun era keemasan bagi Giants.

Setelah 17 tahun berkarier di Giants, masa aktif Nagashima sebagai pemain berakhir pada 1974. Tahun itu sekaligus menjadi momen kegagalan tim dalam mempertahankan gelar juara untuk ke-10 kalinya secara berturut-turut.

Gaya Bermain yang Unik

Sebagai pemukul 'clean-up' Yomiuri Giants, Nagashima memukau para penggemar dengan aksi dinamisnya saat bertahan maupun berlari antar-base.

Selama 17 tahun berkarier profesional, ia menyabet berbagai penghargaan, termasuk 6 gelar juara batting Central League, dua gelar raja home run, serta 5 gelar RBI dan 5 gelar MVP.

Rata-rata pukulan sepanjang kariernya adalah .305, namun ia sering tampil lebih gemilang di laga-laga besar. Ia mencatatkan .343 di Japan Series dan .313 di All-Star Game.

Bukan sekadar statistik, gaya bermainnya yang elegan dan dinamis itulah yang benar-benar memikat hati para penggemar.

Nagashima saat masih aktif bermain
Nagashima saat masih aktif bermain

Sebagai penjaga base ketiga, ia menunjukkan performa luar biasa dengan kelincahan kaki untuk menangkap bola di luar jangkauan. Ia juga kerap memberi sentuhan drama dengan sengaja membiarkan topinya terlepas saat melempar bola.

Bahkan saat ayunannya meleset, ia mengayun begitu kuat hingga helmnya terlepas dari kepala. Ia mengaku telah memperhitungkan dengan tepat bagaimana posisi jatuhnya helm tersebut ke tanah.

Ia akhirnya tumbuh menjadi pemain bintang dan membawa bisbol profesional sebagai olahraga paling populer di Jepang.

Nagashima pernah menulis bahwa ia menyadari sepenuhnya bisbol profesional ada demi para penggemar. Ia menambahkan bahwa ia memikirkan berbagai cara untuk membahagiakan mereka, seperti melalui pertahanan dan lari antarbase jika pukulannya sedang tidak maksimal.

Momen Pensiun yang Spektakuler

Pertandingan perpisahan Nagashima digelar di Stadion Korakuen, Tokyo, pada 14 Oktober 1974. Hari itu, Giants melakoni laga doubleheader melawan Chunichi Dragons.

Ia mencetak home run telak pada pertandingan pertama, yang merupakan home run ke-444 dalam karier profesionalnya. Atmosfer di stadion saat itu terasa sangat luar biasa.

Ia mengelilingi lapangan di sela-sela pertandingan untuk berpamitan kepada para penggemar. Pada giliran memukul terakhirnya di laga kedua, bola pukulan Nagashima mengarah ke arah shortstop dan berakhir dengan double-play.

Dalam upacara seusai laga, ia berujar bahwa Yomiuri Giants akan hidup selamanya di hati para penggemar. Kalimat ini melegenda dan terus diwariskan dalam sejarah bisbol Jepang. Ia pun resmi menanggalkan nomor punggung 3 miliknya, yang kemudian dipensiunkan oleh tim.

Nagashima selepas pertandingan perpisahan pada 14 Oktober 1974.
Nagashima selepas pertandingan perpisahan pada 14 Oktober 1974.

Dalam buku yang ia tulis kemudian, ia menyebutkan bahwa ia dijuluki 'Si Manusia Membara' oleh para penggemarnya. Namun, tidak ada yang terus membara selamanya. Semakin terang nyalanya, semakin dalam rasa kehilangan saat ia padam. Ia merasa sangat emosional mengenai pertandingan itu dan meninggalkan stadion dengan kepuasan atas segala pencapaiannya.

Jasa Membimbing Sang 'Godzilla' Matsui Hideki

Nagashima menjabat sebagai manajer Giants selama 15 musim dan membina banyak pemain unggulan. Namun, ia menjalin ikatan yang sangat kuat dengan Matsui Hideki.

Saat Matsui bergabung dengan Yomiuri Giants tepat setelah lulus SMA pada 1992, Nagashima merancang 'rencana 1.000 hari' untuk membantunya berkembang menjadi pemukul 'cleanup' andalan tim tersebut.

Selain sesi latihan privat setiap hari, Nagashima mengundang Matsui ke rumahnya usai pertandingan untuk latihan tambahan. Sesuai rencana Nagashima, Matsui pun dipercaya mengisi posisi pemukul 'cleanup' pada tahun ketiganya sebagai pemain profesional.

Selama sembilan tahun kebersamaan mereka sebagai manajer dan pemain, Giants memenangkan gelar juara Liga Sentral sebanyak tiga kali dan kejuaraan Japan Series dua kali.

Matsui kemudian meninggalkan Jepang untuk berkarier di Major League Baseball bersama New York Yankees. Di sana, ia menjawab ekspektasi Nagashima dan membuktikan diri sebagai pemukul yang tangguh. Matsui menjadi bintang Jepang pertama yang dinobatkan sebagai MVP World Series. Ia mencatatkan total 507 home run sepanjang kariernya sebelum akhirnya pensiun.

Hubungan antara Nagashima dan Matsui menginspirasi banyak orang. Pada 2013, pemerintah Jepang menganugerahkan Penghargaan Kehormatan Rakyat kepada keduanya atas kontribusi besar mereka terhadap perkembangan bisbol profesional di Jepang.

Perdana Menteri saat itu, Abe Shinzo, menganugerahkan Penghargaan Kehormatan Rakyat kepada Matsui Hideki dan Nagashima Shigeo.
Perdana Menteri saat itu, Abe Shinzo, menganugerahkan Penghargaan Kehormatan Rakyat kepada Matsui Hideki dan Nagashima Shigeo.

Semangat Menuju Olimpiade

Pada Olimpiade Sydney 2000, pemain profesional berpartisipasi dalam kompetisi bisbol untuk pertama kalinya. Namun, tim nasional bisbol Jepang gagal meraih medali.

Nagashima terpilih sebagai manajer Untuk Olimpiade Athena 2004. Penunjukannya dianggap sebagai kunci utama untuk merebut medali emas.

Dalam konferensi pers perdananya, Nagashima mengakui bahwa misi ini adalah tanggung jawab terberat yang pernah ia pikul sepanjang karier bisbolnya. Ia bertekad mengibarkan bendera nasional di Olimpiade Athena bersama para pemain terbaik, dan untuk pertama kalinya membentuk tim yang sepenuhnya terdiri dari pemain profesional.

Jepang berhasil mengamankan tiket menuju Olimpiade Athena.
Jepang berhasil mengamankan tiket menuju Olimpiade Athena.

Timnya menyapu bersih tiga laga kualifikasi Asia di Sapporo pada November 2003 dan memastikan hak untuk berlaga di Olimpiade.

Namun, ia terserang stroke pada Maret tahun berikutnya, menjelang Olimpiade Musim Panas. Di usianya yang ke-68, ia harus dirawat di rumah sakit selama lebih dari sebulan. Kondisi tersebut membuatnya sulit bergerak dan sempat menghambat kejernihan berpikirnya.

Pemulihan Pascastroke

Setelah keluar dari rumah sakit, sisi kanan tubuhnya lumpuh akibat efek samping infark tersebut. Namun, Nagashima menjalani rehabilitasi dengan sangat tekun; ia rutin berjalan kaki selama satu jam setiap pagi dan mengikuti program penguatan otot selama dua jam sehari, empat kali seminggu.

Nagashima sangat berambisi memimpin tim di Olimpiade, namun impian tersebut tidak sempat ia wujudkan.

Nagashima menuliskan angka '3'—nomor punggung ikoniknya—pada bendera Jepang. Sepanjang turnamen Olimpiade, tim memajang bendera serta seragam Nagashima di bangku cadangan sebagai simbol semangat. Tim Jepang akhirnya sukses meraih medali perunggu.

Nagashima juga sempat menyatakan kesediaannya untuk menjadi manajer tim bisbol pada Olimpiade Beijing 2008. Namun, ia mengurungkan niat tersebut karena pertimbangan kesehatan.

Dalam sebuah wawancara dengan NHK, Nagashima mengungkapkan, 'Saya sempat ingin menjabat setidaknya satu kali sebagai manajer tim nasional bisbol Jepang.' Ia menambahkan, 'Saya rasa sulit melakukannya dengan kondisi fisik seperti sekarang. Saya merasa frustrasi.'

Kembali ke Sorotan Publik

Pada Juli 2005, satu tahun empat bulan setelah menderita infark serebral, ia kembali hadir di Tokyo Dome untuk menyaksikan pertandingan Giants. Masyarakat pun bisa melihatnya kembali dalam kondisi yang bersemangat.

Pada 2007, ia pulih dengan cukup baik untuk mengunjungi kamp Giants di Prefektur Miyazaki, dan menyemangati para pemain dengan seruan: Menang, menang, menang!

Setelah Nagashima menerima Penghargaan Kehormatan Nasional bersama Matsui, para penggemar menyaksikan momen simbolis sang legenda kembali ke kotak pemukul di Tokyo Dome.

Nagashima di kotak pemukul pada 5 Mei 2013
Nagashima di kotak pemukul pada 5 Mei 2013

Ia mengayunkan pemukul dengan tangan kiri menghadapi lemparan Hideki Matsui dalam upacara lemparan pertama.

Nagashima mengatakan ingin menyemangati orang-orang yang menderita penyakit serupa. Kepada NHK, ia mengungkapkan alasan di balik latihannya yang terus berlanjut: ia memiliki keinginan kuat untuk pulih dan percaya bahwa rehabilitasi tidak akan mengkhianati hasil.

Ia berpartisipasi dalam estafet obor Olimpiade Tokyo pada Juli 2021 bersama Oh Sadaharu dan Matsui Hideki. Ia melangkah maju perlahan, selangkah demi selangkah, dengan Matsui yang menopang tubuhnya.

Nagashima dalam kirab obor bersama Matsui dan Oh.
Nagashima dalam kirab obor bersama Matsui dan Oh.

Pada tahun itu, Nagashima menjadi tokoh bisbol Jepang pertama yang menerima Order of Culture, penghargaan budaya tertinggi di Jepang, dan menghadiri upacara penganugerahannya di Istana Kekaisaran.

Kaisar Naruhito menganugerahkan Order of Culture kepada Nagashima.
Kaisar Naruhito menganugerahkan Order of Culture kepada Nagashima.

Namun pada 2022, ia terjatuh dalam posisi terduduk dan didiagnosis mengalami pendarahan otak. Ia kemudian dirawat di sebuah rumah sakit di Tokyo untuk menjalani pengobatan serta rehabilitasi.

Kondisi kesehatannya tahun ini terpantau stabil. Ia bahkan sempat menyaksikan laga pembuka Major League Baseball Amerika Serikat yang digelar di Tokyo Dome pada Maret lalu.

Koreksi: Versi sebelumnya menyebutkan Nagashima mengalami kelumpuhan di sisi kiri tubuhnya pada 2004, padahal yang benar adalah sisi kanan. Kami memohon maaf atas kekeliruan tersebut.

Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB

Sumber Berita

Penerbit
NHK WORLD
Tanggal Sumber
Pranala Sumber

Dengarkan Artikel

Putar versi audio langsung dari browser Anda.

Menyiapkan audio browser...

Kata Kunci

Jejak Topik

Komentar Pembaca

Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.