Lewati ke konten utama
Berita.Jepang.org

Menjelajahi Paviliun Singapura di Expo 2025 Osaka: Pesona 'Dream Sphere' dan Harapan Masa Depan

Paviliun Singapura menghadirkan 'Dream Sphere', bola merah raksasa yang menampilkan proyeksi imersif dari aspirasi para pengunjung. Pameran ini turut memadukan seni kertas dan teknologi untuk memperlihatkan keharmonisan antara lanskap perkotaan dengan ruang hijau.

NHK WORLD6 mnt

Bagikan Artikel

Eksterior Paviliun Singapura berbentuk bola merah raksasa bertema Dream Sphere di Expo 2025 Osaka.

Visual Utama

Menjelajahi Paviliun Singapura di Expo 2025 Osaka: Pesona 'Dream Sphere' dan Harapan Masa Depan

Tutup
Eksterior Paviliun Singapura berbentuk bola merah raksasa bertema Dream Sphere di Expo 2025 Osaka.

Singapura

Paviliun Singapura yang dikenal sebagai Dream Sphere.
Paviliun Singapura yang dikenal sebagai Dream Sphere.

Mengusung tema 'Where Dreams Takes Shape', paviliun Singapura berpusat pada sebuah bola merah raksasa berdiameter 18 meter — penghormatan bagi julukan 'Little Red Dot' yang menjadi kebanggaan negara tersebut. Di dalamnya, pengunjung diajak menuliskan harapan dan aspirasi mereka, yang kemudian diubah menjadi tampilan dinamis nan imersif yang diproyeksikan ke langit-langit bola.

Paviliun ini juga menggunakan seni kertas yang rumit dan animasi untuk memperlihatkan keharmonisan antara lanskap perkotaan dan ruang hijau di negara pulau tersebut.

Sebuah kafe dan bar di lokasi menyajikan cita rasa identitas multikultural Singapura melalui berbagai hidangan dan koktail dengan sentuhan khas setempat.

Korea Selatan

Paviliun Korea Selatan menampilkan fasad media yang sangat besar.
Paviliun Korea Selatan menampilkan fasad media yang sangat besar.

Korea Selatan menghadirkan paviliun imersif yang berfokus pada masa depan. Pada bagian fasad, layar raksasa setinggi 8 meter dan lebar 27,5 meter menampilkan berbagai daya tarik wisata dan sorotan budaya.

Di pintu masuk, pengunjung dipersilakan merekam pesan singkat mengenai hal yang paling berarti bagi mereka. Program AI kemudian mengubah ritme rekaman tersebut menjadi komposisi musik yang dipadukan ke dalam pertunjukan cahaya dan suara.

Di area lain, tiga layar raksasa menampilkan visi masa depan taksi terbang dengan sudut pandang optimis mengenai peran teknologi dalam meningkatkan interaksi manusia.

Amerika Serikat

Batu bulan menjadi daya tarik utama di paviliun Amerika Serikat yang mengusung tema 'Bayangkan Apa yang Bisa Kita Ciptakan Bersama'.

Sampel bulan tersebut, yang diambil oleh astronaut Apollo 17 pada tahun 1972, menjadi bukti nyata pencapaian luar biasa umat manusia di luar angkasa.

Paviliun ini terbagi menjadi lima zona berbeda yang mengeksplorasi identitas Amerika melalui berbagai perspektif, mulai dari pendidikan, budaya, hingga kewirausahaan.

Paviliun Amerika Serikat berada di zona 'Empowering Lives'.
Paviliun Amerika Serikat berada di zona 'Empowering Lives'.

Zona luar angkasa ini juga menghadirkan kubus gantung yang memukau sebagai pusat perhatian sekaligus teater imersif. Di dalamnya, pengunjung dapat merasakan sensasi peluncuran roket NASA melalui teknologi visual mutakhir.

Italia

Paviliun Italia mengusung tema 'Art Regenerates Life'.
Paviliun Italia mengusung tema 'Art Regenerates Life'.

Paviliun Italia merupakan struktur kayu setinggi 3 lantai yang menghidupkan elemen kunci warisan Italia, menghadirkan kembali teater, piazza, serta taman ikonik yang menjadi pusat budaya dan sejarah negara tersebut.

Salah satu sorotan utamanya adalah Farnese Atlas, patung marmer kuno dari abad kedua Masehi yang didatangkan langsung dari Italia khusus untuk Expo ini.

Pengunjung dapat melihat replika skala penuh pesawat baling-baling kayu era 1920-an yang menempuh perjalanan bersejarah dari Italia ke Jepang, bersanding dengan instalasi seni kontemporer.

Pertunjukan langsung harian – dari musik hingga pameran budaya – digelar di teater yang menyerupai Colosseum. Di area atap, restoran yang menyajikan hidangan dan anggur khas Italia melengkapi perjalanan multi-sensori melintasi masa lalu dan masa kini negara tersebut.

Arab Saudi

Paviliun ini menampilkan kedalaman warisan budaya Arab Saudi.
Paviliun ini menampilkan kedalaman warisan budaya Arab Saudi.

Sebagai calon tuan rumah Expo berikutnya, negara ini menghadirkan paviliun yang terinspirasi dari souk—pasar tradisional yang menjadi denyut nadi di banyak kota Arab.

Pengunjung dapat menyusuri lorong sempit menyerupai labirin di antara gugusan bangunan setinggi 10 meter, seolah tengah menjelajahi pasar di tengah gurun pasir.

Menjelajahi Paviliun Singapura di Expo 2025 Osaka: Pesona 'Dream Sphere' dan Harapan Masa Depan - visual artikel

Beragam pameran dan panggung pertunjukan tersebar di seluruh area, menyuguhkan tarian pedang tradisional hingga kedai kopi khas Arab Saudi.

Prancis

Paviliun Prancis merupakan sebuah persembahan bagi cinta.
Paviliun Prancis merupakan sebuah persembahan bagi cinta.

Paviliun Prancis merayakan cinta dalam berbagai wujud, yang diekspresikan melalui keindahan alam, kerajinan tangan, dan lingkungan.

Jenama mewah Louis Vuitton turut memamerkan dedikasi pada kemahiran tangan melalui video perajin yang tengah membuat tas secara manual.

Menjelajahi Paviliun Singapura di Expo 2025 Osaka: Pesona 'Dream Sphere' dan Harapan Masa Depan - visual artikel

Bagian lain menarik kesejajaran antara dua Situs Warisan Dunia UNESCO: Biara Mont Saint-Michel di Prancis dan gerbang kuil Itsukushima di Hiroshima, yang keduanya tampak seolah mengapung di atas air.

Tentu saja, kuliner Prancis yang ternama juga disajikan di ruang makan gastronomi.

Tiongkok

Paviliun Tiongkok yang didesain menyerupai gulungan kaligrafi tradisional.
Paviliun Tiongkok yang didesain menyerupai gulungan kaligrafi tradisional.

Bagian luar paviliun Tiongkok dirancang menyerupai bentangan gulungan naskah, lengkap dengan hiasan kaligrafi serta puisi kuno Konfusius.

Di bagian dalam, replika artefak hasil penggalian—beberapa di antaranya merupakan pusaka nasional—memperlihatkan kekayaan akar sejarah Tiongkok.

Robot humanoid dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) saat memandu pengunjung.
Robot humanoid dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) saat memandu pengunjung.

Robot pemandu ini menghadirkan sentuhan futuristik di ruang yang kental akan tradisi. Humanoid berbasis AI tersebut dikembangkan oleh perusahaan Tiongkok dan mampu merespons pertanyaan dalam bahasa Mandarin maupun Inggris.

Kapabilitas eksplorasi antariksa Tiongkok juga dipamerkan lewat sampel tanah dari sisi jauh Bulan. Wahana penjelajah Tiongkok merupakan yang pertama yang sukses mengumpulkan sampel dari wilayah tersebut.

Austria

Tema paviliun Austria adalah Menggubah Masa Depan.
Tema paviliun Austria adalah Menggubah Masa Depan.

Di pintu masuk paviliun Austria, pengunjung disambut patung kayu spiral setinggi 16 meter yang terinspirasi dari notasi musik. Karya ini merupakan bentuk penghormatan bagi keahlian kriya serta hubungan mendalam Wina dengan dunia musik.

Bagian dalamnya memadukan sejarah dengan teknologi mutakhir. Sebuah piano kendali jarak jauh yang canggih dipamerkan sebagai bentuk penghormatan atas piano yang dihadiahkan Austria kepada Kaisar Meiji pada tahun 1869. Pengunjung juga dapat mencoba menggubah musik sendiri dengan bantuan sistem bertenaga AI.

Suasana historis terasa kental di restoran yang terletak di lantai atas. Di sana dipamerkan replika sekat lipat berusia 400 tahun yang ditemukan di Austria, menggambarkan Kastel Osaka serta pemandangan kota di sekitarnya pada masa Toyotomi Hideyoshi. Dengan teknologi augmented reality, pengunjung dapat mengarahkan ponsel ke layar untuk melihat pemandangan tersebut menjadi hidup, lengkap dengan sosok-sosok animasi yang menyusuri jalanan.

Jerman

Paviliun Jerman mengusung tema ekonomi sirkular.
Paviliun Jerman mengusung tema ekonomi sirkular.

Paviliun Jerman bernama Wa! Germany menjadikan ekonomi sirkular sebagai tema sentral, mulai dari prinsip keberlanjutan hingga regenerasi. Wa! merupakan sebuah seruan sekaligus kosakata dalam bahasa Jepang yang bermakna lingkaran dan harmoni.

Bangunannya sendiri menjadi wujud nyata dari gagasan ini, yang terdiri dari tujuh struktur kayu silinder yang saling terhubung.

Pengunjung dapat menjelajahi pameran tentang air dan tanaman, sekaligus melihat contoh produk sirkular yang dikembangkan dan diproduksi di Jerman.

Begitu memasuki paviliun, Anda akan menerima maskot genggam lucu bernama Circular. Cukup dekatkan ia ke telinga, dan sang maskot akan menjelaskan isi pameran kepada Anda.

Lalu bagaimana dengan restorannya? Tersedia bir dan sosis, di antara beragam hidangan klasik Jerman lainnya.

Uzbekistan

Kayu aras yang digunakan untuk Paviliun Uzbekistan ini diambil dari pegunungan di sekitar wilayah Osaka.
Kayu aras yang digunakan untuk Paviliun Uzbekistan ini diambil dari pegunungan di sekitar wilayah Osaka.

Paviliun Uzbekistan dijuluki 'Taman Pengetahuan', menampilkan arsitektur mencolok yang dirancang menyerupai jimat kuno dari Asia Tengah.

Di lantai pertama, paviliun ini memperkenalkan upaya negara tersebut dalam merevitalisasi Laut Aral, danau di utara Uzbekistan yang kini sebagian besar wilayahnya telah berubah menjadi gurun.

Menjelajahi Paviliun Singapura di Expo 2025 Osaka: Pesona 'Dream Sphere' dan Harapan Masa Depan - visual artikel

Pengunjung berpindah antar lantai melalui platform multimedia 360 derajat yang menyajikan sejarah kejayaan wilayah tersebut sebagai titik krusial di Jalur Sutra.

Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.11 WIB

Sumber Berita

Penerbit
NHK WORLD
Tanggal Sumber
Pranala Sumber

Dengarkan Artikel

Putar versi audio langsung dari browser Anda.

Menyiapkan audio browser...

Kata Kunci

Jejak Topik

Komentar Pembaca

Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.