Keluarga Veteran Perang Dunia II Jepang Lakukan Kunjungan Terakhir ke Myanmar
Puluhan kerabat tentara Jepang mengunjungi Myanmar untuk memberikan penghormatan terakhir bagi anggota keluarga mereka yang gugur dalam Perang Dunia II. Program peringatan ini akan dihentikan karena faktor usia para peserta yang kini rata-rata mencapai 85 tahun.
Tanpa Visual Pendamping
Naskah Ini Tiba Tanpa Dokumentasi Visual
Sumber memuat naskah tanpa gambar pendamping yang layak tayang. Kami mempertahankan ruang ini sebagai penanda editorial, bukan sebagai bidang kosong.
Puluhan kerabat tentara Jepang yang gugur di Myanmar selama Perang Dunia II melakukan perjalanan ke negara tersebut untuk memberikan penghormatan terakhir. Karena para anggota keluarga yang berduka semakin lanjut usia, kunjungan ini menandai akhir dari program peringatan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Lebih dari 130.000 personel bekas militer Kekaisaran Jepang kehilangan nyawa mereka di Myanmar. Wilayah ini dahulu merupakan bagian dari rute gerak maju Jepang dalam Pertempuran Imphal, sebuah upaya untuk merebut wilayah India timur laut.
Operasi tersebut dianggap sebagai salah satu misi tersulit dan paling berisiko yang pernah dilakukan oleh pasukan Kekaisaran Jepang dalam sejarah peperangan.
Hampir 60 anggota keluarga dari Jepang menghadiri upacara peringatan di Yangon pada hari Rabu. Selama lebih dari 30 tahun, Asosiasi Keluarga Korban Perang Jepang telah menyelenggarakan kunjungan peringatan dan misi persahabatan ke berbagai medan perang masa lalu.
Namun, organisasi tersebut kini mulai menghentikan program tersebut mengingat rata-rata usia peserta telah mencapai 85 tahun.
Mizuochi Toshiei, Presiden Asosiasi Keluarga Korban Perang Jepang, menyatakan dalam upacara tersebut:"Melihat kondisi dunia saat ini, konflik masih terus terjadi dan pertempuran terus berulang. Kami akan terus menyampaikan tragedi perang dan betapa berharganya perdamaian."
Kuasa Usaha Ad Interim Jepang untuk Myanmar, Yoshitake Shogo, berjanji untuk terus mengembangkan hubungan persahabatan dengan negara tetangga, khususnya Myanmar, serta berupaya maksimal demi mewujudkan perdamaian dunia.
Sebagai bentuk kepedulian, keluarga para veteran ini mendanai pembangunan tiga sekolah dasar di Myanmar. Mereka mengunjungi salah satu sekolah tersebut dan berinteraksi dengan anak-anak melalui kegiatan melipat origami dan bermain kendama, mainan tradisional Jepang.
Kawamata Kyoko, putri seorang tentara yang gugur di wilayah yang dahulu bernama Burma, berharap anak-anak di Myanmar dapat tumbuh sehat dan membantu menciptakan negara yang lebih damai. Para kerabat meyakini bahwa pendidikan adalah fondasi utama bagi perdamaian.
Versi Berita.Jepang.org: Jumat, 17 April 2026 pukul 02.51 WIB
Sumber Berita
- Penerbit
- NHK WORLD
- Tanggal Sumber
- Catatan Sumber
- 2026-03-13T12:57:00.000Z
- Jejak Sumber
- NHK WORLD / News / ASIA
Dengarkan Artikel
Putar versi audio langsung dari browser Anda.
Menyiapkan audio browser...
Kata Kunci
Jejak Topik
Komentar Pembaca
Ruang diskusi ini terbuka untuk tanggapan, koreksi, dan pembacaan lanjutan dari pembaca.
